"Aku tak akan pernah menampik perasaanku, aku juga tak akan berusaha berbohong atau apalah. Saat ini memang ada yang berbeda setiap kali aku bersama kamu. Sebuah rasa asing yang mungkin tak seharusnya ada di antara kita. Tapi maaf... Aku tak bisa mengendalikan diriku, Via."
Aku hanya mampu memandang wajah muram di sampingku itu dengan dada yang begitu sesak, "Ya, kita sama-sama tak bisa mengendalikan diri, Dok," jawabku lirih. Dan kubiarkan lengannya merengkuh lembut bahuku.
.
#
.
"Ngelamunin apa sih?"
Sebuah suara menyentakku, "Ga, cuma lagi pengen diem aja," jawabku pada Lia, teman sekantorku.
"Kangen suami?" Ledek wanita bertubuh kecil dengan rambut bergelombang itu.
Aku tertawa saja, "Ga lah, biasa aja. Biar jauh kan komunikasi jalan terus," elakku. Lia mencibirkan bibirnya seakan tak percaya pada ucapanku. Lalu kami kembali pada berkas di atas meja masing-masing.
Aku, Luvia. Tak banyak yang bisa dibanggakan dari fisikku. Tinggiku lumayan, 160cm dengan berat badan sedang. Kulitku sawo matang, seperti kulit kebanyakan orang Indonesia. Rambutku lurus sepunggung. Bentuk wajahku oval dengan lesung pipi di sebelah kanan. Banyak sih yang bilang aku manis, walau aku setengah tak percaya tapi aku berterima kasih karena masih ada yang memujiku, hehe.
Aku wanita karir berusia 28 tahun. Bekerja pada sebuah perusahaan eksport import. Posisiku lumayan diperhitungkan, mengingat Big Boss mempercayakan hampir semua urusannya padaku dan Lia. Jadi otomatis jam kerja kami berdua juga padat. Aku tak mengeluh, kalau memang penghasilannya bisa mencukupi kebutuhanku dan keluarga besarku lalu kenapa tidak? Toh aku masih kuat.
Aku sudah menikah selama tiga tahun, tapi belum juga dikaruniai momongan. Suamiku, Andreas, untunglah tak pernah rewel menuntut ini dan itu. Begitupun dengan kedua mertuaku.
Sejak setahun kemarin suamiku ditugaskan di luar kota, di Ibu kota. Di sana dia tinggal bersama kedua orangtuanya, mertuaku, yang juga kebetulan berasal dari sana. Sedang aku tetap dengan pekerjaanku di kota pahlawan.
Hubunganku dan Andre baik-baik saja, tak ada yang salah. Hanya saja... Keadaan sedang mengujiku.
Aku mengenal dia, orang yang baru saja kulamunkan tadi. Dokter Alfian, sejak masuk ke perusahaan ini lima tahun yang lalu. Dia adalah Dokter di perusahaan ini, mmmh... Maksudnya dia teman baik Big Boss, dan Boss mempercayakan kesehatan karyawannya pada Alfian. Usianya saat ini 45 tahun, lebih tua 17 tahun denganku. Walau begitu dia tak tampak tua.
Alfian keturunan Cina-Jawa, wajahnya cukup tampan, menurutku. Dia tak banyak bicara, wajahnya selalu tampak ramah dan sangat berwibawa. Tapi terkadang dia juga suka bercanda.
Pertama bertemu lima tahun yang lalu kami langsung merasa akrab, mungkin karena pembawaanku yang cerewet, bawel dan suka ceplas ceplos.
Saat sakit dan memeriksakan diri ke kliniknya pun aku seringkali melontarkan canda dan kami berbagi tawa bersama. Bahkan aku menjadi sangat akrab dengan suster Naya, yang juga keponakannya. Mungkin karena itu Dokter Alfian tak penah memanggilku ibu atau panggilan sopan lain seperti yang selalu dia berikan pada pasien-pasiennya. Alfian selalu menyebut aku dan kamu terhadap interaksi kami. Sedangkan untuk menghormatinya aku tetap memanggilnya ‘Dokter’.
Saat aku menikah bahkan dia minta untuk diundang, katanya dia ingin mengenal lelaki beruntung yang akhirnya kupilih untuk mendampingiku. Aku dan Naya tertawa saat itu, karena tak biasanya Dokter Alfian mengatakan sesuatu yang nyaris berupa rayuan seperti itu, dan dia mengelak bahwa itu hanya pujian tulus dari dalam hati. Sekali lagi aku dan Naya tergelak. Tawaku saat itu terhenti ketika menyadari tatapannya yang lurus memandangku, dengan ekspresi yang tak bisa kubaca. Juga ada debaran asing saat senyum tipisnya tertuju padaku.
Semuanya baik-baik saja hingga beberapa bulan yang lalu.
Sudah lama sekali aku tak bertemu dia. Aku lebih sering mengunjungi Dokter kandungan setahun ini, karena aku dan suami sedang mencoba program kehamilan. Apalagi aku sempat terkena pendarahan akut yang kerap kali membuat tubuhku melemas. Dokter kandunganku meminta hasil tes gula darah, dan aku memutuskan untuk periksa darah di klinik Dokter Alfian saja. Rindu juga dengan dia.
Pagi itu aku hanya bertemu Naya, "Dokter kemana, Nay?" Tanyaku, "Tumben sepi pasiennya?" Memang tak biasanya klinik ini sepi. Dokter Alfian memang disukai banyak orang, selain karena keramahan dan kesabarannya, berobat di sinipun tak mahal. Dokter beranak dua itu tak jarang memberikan keringanan berupa obat pada pasien-pasiennya yang tak cukup mampu.
"Ada seminar di Dr. Sutomo," katanya menyebutkan nama sebuah Rumah Sakit ternama di Surabaya. "Kenapa, mbak Via? Kangen ya lama ga ketemu Dokter?" Godanya.
Aku hanya tertawa sambil menggeleng, "Nanya doang ga ada salahnya, kan?" Jawabku. Naya adalah gadis yang ceria, selisih umurnya tiga tahun di bawahku. Setiap kali aku berobat di sana dia selalu menyambutku dengan senang, karena ada teman bercanda. Terutama teman menggoda Dokter Alfian yang tak banyak bicara itu. Kata Naya cuma aku pasien yang walaupun sedang dalam keadaan sakit dan lemah tapi masih bisa bercanda. Antik katanya, haha.
"Mbak Via kok pucat sih, mbak?" Tanya Naya setelah selesai mengambil darahku untuk di tes.
"Aku habis sakit, Nay. Pendarahan akut," jawabku.
"Mbak Via hamil?" Tanya suster yang manis itu.
Aku menggeleng, "Enggak, cuma pendarahan aja. Aku harus opname seminggu di Rumah Sakit, plus Kuret."
"Hah? Separah itu, mbak?" Seru asisten Dokter itu terkejut.
Kali ini aku mengangguk, "Kemarin darahku sampai drop dan harus tranfusi darah juga. Keluarpun karena aku memaksa harus keluar. Siapa yang betah di Rumah Sakit?"
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ya ampun, mbak... Kok bisa sih nekat gitu? Aku cek HBnya sekalian ya? Kali aja jumlah darahnya belum dalam batasan normal."
"Terserah deh, pasrah aja," jawabku. "Trus kapan hasilnya bisa aku ambil?"
Naya tampak berpikir sejenak, "Siang nanti udah bisa kok."
Kali ini aku yang berpikir, aku ada meeting di kantor sampai sore, "Nanti malam aja ya? Aku agak sibuk hari ini," tawarku.
Naya mengangguk, "gampang deh, mbak. Kalau ga sempat biar aku antar ke rumah mbak Via juga ga apa-apa."
Aku tertawa, "Aku aja yang ke sini," putusku.
.
.
Malamnya aku kembali ke klinik itu. Saat aku sedang duduk di ruang tunggu yang kosong, karena ternyata memang ada tulisan 'Pemeriksaan Dokter tutup, kecuali Lab.' di depan pintu, sesosok pria yang begitu aku kenal muncul dari ruang dalam.
"Via?" Sapanya setengah tak percaya.
Aku berdiri dan tersenyum, "Hai, Dok," jawabku sambil menyambut uluran tangannya.
Dokter Alfian tak segera melepas tanganku, dia justru memperhatikan wajahku dengan seksama, "Kamu pucat sekali? Kenapa?" Tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dariku.
Agak jengah juga, dan genggaman hangat itu entah kenapa terasa begitu nyaman. Pelan aku melepaskan tangannya, sungkan jika ada yang melihat. Dan sepertinya pria di depanku itu juga baru sadar kalau sejak tadi dia masih menyalamiku. "Tadi pagi periksa darah, Dok. Ini mau ambil hasilnya," jawabku.
Dokter Alfian menghela napasnya, "Aku periksa sekalian, yuk? Pucatmu tak wajar," katanya sambil melangkah ke ruang periksa.
Aku ikuti saja dia, karena aku memang sedang merasa tak sehat, "Bukannya hari ini pemeriksaan ditutup, Dok?" Tanyaku.
"Iya, aku juga baru datang kok. Cuma mau ambil laporan Naya aja. Tapi ternyata ketemu kamu," jawabnya sambil membuka pintu ruangannya. "Berbaring dulu, Via," perintahnya.
Aku menurut saja, kepalaku mulai terasa berputar dan mual.
Aku mendengar pintu ruangan terbuka, rupanya Naya yang masuk, "Ada pasien, Dok?" Tanyanya. Dia tak melihatku karena memang tirai tempatku berbaring tertutup.
"Tuh lihat sendiri, kamu tensi dulu ya?" Perintah Alfian pada Naya.
Gadis itupun menyibak tirainya, "Mbak Via?" Katanya terkejut. "Apa aku bilang? Mbak Via tuh bandel," kata Naya sambil menyiapkan alat tensinya. Aku cuma nyengir saja sambil menahan pusing.
Dokter Alfian lalu menyusul dan berdiri di samping Naya, "Bandel gimana?" Tanyanya menyambung kata-kata asistennya tadi.
Aku melotot pada Naya, berharap gadis yang bawelnya hampir sama denganku itu tak bicara tentang apa yang aku adukan padanya tadi pagi, tapi sia-sia.
Pria berkacamata itu memandangku dengan tajam sementara Naya terus bercerita. Aku ingin melontarkan candaan seperti biasa, tapi entah kenapa rasanya lemas sekali. Akupun memilih memejamkan mata saja.
"90 / 70, Dok" kata Naya dengan nada sedikit cemas. “Tadi hasil tes lab-nya juga jumlah HB darahnya masih rendah,” sambungnya
"Keluar dulu, Biar aku periksa dia," perintah Dokter setengah baya itu yang langsung dituruti oleh Naya.
Aku tetap memejamkan mata karena pusing yang terus melanda. Kubiarkan Dokter Alfian memeriksaku dengan stateskop, lalu meraba nadiku.
Setelahnya dia menghela napas panjang.
Aku terkesiap saat merasa kalau tanganku telah digenggamnya, sedangkan tangannya yang bebas memijat lembut keningku, "Pusing sekali kah?" Tanyanya pelan.
Aku hanya mengangguk. Rasanya begitu nyaman.
"Ku kasih suntikan ya? Tensi kamu terlalu rendah, Via."
"Pasrah deh, Dok... Yang penting saya ga sampe pingsan duluan," candaku yang disambut tawa renyahnya.
Lembut dia mengusap lenganku, "Sebentar ya?"
.
"Kamu bawa mobil sendiri?" Tanyanya setelah pemeriksaan berakhir.
Aku menggeleng, "Hari ini sama kendaraan kantor, tuh ditunggu di luar," jawabku.
"Beristirahatlah selama dua hari ya? Jangan memaksakan diri buat kerja," sarannya.
"Dua hari, Dok? Ga kurang lama?" Sindirku. Dan dia pasti tahu kalau melihat jam kerjaku yang selalu overtime.
Pria itu tertawa, "Cuma dua hari, Via. Kurasa kau sangat berhak mengajukan cuti pada Boss-mu itu."
Daripada ribut akupun memilih mengangguk.
.
"Vi... Udahan napa ngelamunnya. Kamu baik-baik aja, kan?" Suara Lia kembali memecah lamunanku.
"Iya... Aku ga ngelamun kok," bantahku setengah tergagap.
Teman sekantorku itu cuma menggeleng saja, "Ada masalah?" Tanyanya menyelidik.
Aku mencoba memberikan cengiran , "Jablai nih, jeng," candaku yang disambut tawanya.
"Emang Andre kapan pulang?" Tanyanya yang juga mengenal suamiku.
"Mmmh... Bulan depan kayanya. Dia ada cuti seminggu," jawabku.
Lia tertawa lagi, "Tinggal sebulan doang, sabaaaar... Jangan ngelamun terus tapinya."
Dan kami kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tapi lagi-lagi otakku tak bisa berkonsentrasi, putarannya terus saja pada sosok Alfian yang telah merebut perhatianku sejak malam itu.
Setelah malam itu kami jadi lebih sering bertemu lagi. Pernah suatu siang aku bertemu dia di kantor Big Boss, saat di ruang tunggu tamu dia bertanya padaku, "Gimana sekarang?" Tanyanya.
Aku tersenyum lebar, "Sehat dong... Mana berani sakitnya lama-lama sama saya, Dok?" Candaku sambil berusaha menyembunyikan ulah jantung yang debarannya mulai tak beraturan.
"Penyakitnya kalah bawel ya?" Jawab Alfian sambil menggeleng. "Tapi kamu ga bisa membohongi mata dokter, Via. Kamu masih lemas, kan? Apa kata Dokter kandungan kamu?"
Aku sedikit memajukan bibirku, "Susah bener sih bohongin Dokter?" Gerutuku yang hanya disambut tawa renyahnya. "Masih suka pendarahan, Dok. Emang hormon saya yang ga normal. Ini saya masih terapi juga. Kemarin tes HB darah saya juga agak rendah sih," jelasku.
Pria dengan sedikit uban di rambutnya itu mengangguk pelan, “Sini pinjam tangannya,” katanya.
Aku agak ragu dan melihat ke sekeliling, memang tak ada orang selain Yunita, Sekretaris Boss.
“Aku cuma ingin tahu denyut nadi kamu, Via,” paksa Dokter itu lagi.
‘Ya sudahlah, semoga wajahku tak merah kali ini’, kataku dalam hati sambil mengulurkan tangan kananku.
Benar saja, sentuhan itu mampu membuat debaranku makin menggila.
“Mbak Via sakit, mbak?” tanya Yunita dari mejanya setelah Dokter Alfian selesai memeriksa nadiku.
“Ga sih, Pak Dokter ini aja iseng meriksa daripada ga ada kerjaan gara-gara kelamaan nungguin tamu Boss ga keluar-keluar,” jawabku asal yang disambut tawa Yunita. Gadis itu sudah terbiasa dengan gayaku berbicara.
Dokter Alfian tertawa pelan sambil manatapku lurus. Dan lagi-lagi aku harus mempertebal topengku agar tak salah tingkah.
“Nanti malam ke klinik ya? aku kasih vitamin tambahan,” katanya.
“Hah? Obat lagi?” kataku dengan ekspresi malas.
“Vitamin, Via… bukan obat.”
“Sama aja, Dokter… bentuknya pasti bulat kalau ga oval, trus harus diminum dua atau tiga hari sekali, kan? Itu apa namanya kalau bukan obat?” bantahku.
“Vitamin,” jawab Dokter Alfian lagi yang sudah sangat terbiasa dengan sifat ngeyelku.
“Ya tapi kan sama aja isinya bahan kimia dengan nama yang aneh-aneh itu, kan?” aku bisa mendengar tawa Yunita dari mejanya karena mendengar jawabanku.
“Terusin ngeyelnya atau aku akan lapor ke Boss kamu agar kamu diberikan cuti tambahan?” ancamnya.
Aku langsung terdiam, Big Boss memang keras, suka marah malah. Tapi dia paling tak tega kalau aku atau Lia sedang sakit. Perhatiannya sedikit lebih besar pada kami berdua. Dan kalau Dokter di depanku ini sampai melaporkan hal yang aneh-aneh tentang kesehatanku dan Lia, Boss pasti akan langsung menuruti apa kata Dokter kepercayaannya sekaligus teman baiknya ini. Otomatis pekerjaanku akan menumpuk gara-gara tak masuk kerja.
“Jam tujuh, lepas kantor nanti aku tunggu di klinik ya?” paksa Dokter Alfian dengan senyum kemenangan.
.
“Ini buat dua hari ya?” kata Dokter Alfian saat aku sudah di ruangannya malam itu.
Aku melongo, “Cuma buat dua hari? Tumbenan? Biasanya Dokter kan paling hobi ngasih saya obat yang banyak plus besar-besar?”
“Setelah dua hari kamu bisa kembali ke sini lagi,” jawabnya.
Aku tersenyum, “Dokter modus ya? bilang aja mau ketemu saya terus,” candaku.
Dan pria yang duduk di depanku itu terbahak, “Keliatan banget ya maksudnya?” jawabnya setelah tawanya reda.
Jantungku mulai bertingkah lagi, apalagi saat Dokter Alfian meraih tanganku dan menggenggamnya di atas meja. Jarinya yang putih memainkan jari-jariku, “Aku cuma kuatir pada kesehatanmu, Luvia. Kamu terlalu keras kepala dan suka memaksakan diri untuk terus bekerja dan bekerja. Kasihani tubuhmu,” nasehatnya.
Aku tahu semua kata-katanya benar, tapi aku tak bisa bermanja karena sakit pada tubuhku, “Ga bisa, Dok… saya harus bekerja semaksimal mungkin.”
“Keras kepala, kan? Padahal dengan kondisi yang seperti ini, dengan ketidakseimbangan hormonalmu juga program untuk… kehamilanmu, kamu membutuhkan istirahat yang banyak. Tidak boleh terlalu capek dan stress, Via,” jelasnya dengan sabar.
Aku hanya mengangguk sambil menatap tautan jemari kami, “Saya tahu, tapi…” aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku memang butuh biaya untuk keluargaku. Untuk membesarkan tiga keponakanku yang telah yatim piatu. Ibuku pun membutuhkan biaya untuk mengobati sakit jantungnya. Sementara kalau hanya mengandalkan gaji suamiku semua itu tak akan cukup. Belum lagi keinginanku untuk memiliki seorang anak. Tak bisa dipungkiri, aku seorang wanita yang belum merasa sempurna jika belum memiliki keturunan.
Seakan tahu kalau aku tak akan bisa memberikan alasan padanya, Dokter Alfian mengangkat tanganku dan mencium jari-jarinya dengan lembut, “Kalau begitu menurutlah, kau harus melakukan apa yang aku dan Dokter kandunganmu katakan. Kalau memang kamu tak bisa istirahat, maka jaga pola makan dan tidurmu.”
Aku terperangah dan tak bisa berkata-kata. Dadaku masih sibuk merasakan bibirnya pada jariku. Ingin rasanya menangis karena diberikan perhatian dengan begini besarnya. Sementara selama ini aku selalu merasa sendiri, memikirkan semuanya sendiri, dan harus kuat sendiri. Sakitpun hanya aku yang merasakan sendiri. Suamiku hanya tahu beres, semuanya terserah pada keputusanku.
‘Oh ayolah, jangan menangis, Via’, kuatku dalam hati. Selama ini tak ada yang pernah melihat airmataku, tak juga Andreas, suamiku. Aku tak pernah memperlihatkan kelemahanku pada orang lain, tak akan pernah. Semua orang hanya tahu kalau aku selalu bahagia, dan itu yang kutanamkan dalam otakku, teruslah tertawa dan tersenyum, agar kebahagiaan kelak benar-benar datang untukku.
Tapi adakalanya sesak seperti inipun merusak semuanya. Aku tak mampu lagi membendung apa yang selama ini tak pernah aku perlihatkan, airmataku.
Pria tinggi dengan tubuh yang sedikit kurus itu berdiri dan berjalan memutari meja untuk menghampiriku. Lengannya memelukku yang masih duduk dengan begitu erat, membiarkan aku menangis tanpa isak di dadanya.
Jemarinya menyisir lembut rambutku tanpa berkata-kata, seakan ingin membiarkanku menumpahkan semua sesakku. Nyaman… kapan terakhir kali aku merasa senyaman ini? Saat berada dalam pelukan almarhum Ayahku kah? Atau saat berada dalam ayunan ibuku saat kecil dulu? Aku tak ingat, karena seingatku sejak aku kecil kedua orangtuaku sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bahkan pembantulah yang mengambil raport-ku di sekolah.
Airmataku yang sudah berhenti kembali menggulirkan sebutir lagi saat kurasakan Dokter Alfian mencium puncak kepalaku sembari berkata, “Sehatlah, Via. Berjanjilah untukku.”
.
Sejak malam itu intensitas temu kami makin meningkat, entah itu hanya untuk sekedar makan saja, atau bertemu secara tak sengaja di kantor Boss. Mengirimkan pesan melalui Blackberry Messenger menjadi rutinitas kami. Tentu saja aku masih menghormatinya, aku tak pernah mengirimkan pesan duluan karena tak ingin pesanku terbaca oleh istrinya. Sementara dia bebas mengirimkan pesan padaku karena memang suamiku tak ada bersamaku.
Aku tahu ini salah, sangat sadar. Tapi aku juga tak rela melepas rasa nyaman yang diberikannya. Tak pernah sekalipun kata cinta atau ungkapan perasaan terucap dari bibir-bibir kami. Kami selalu mencoba untuk menahan diri, tak pernah ada ciuman selain di tangan. Seminimal mungkin membicarakan soal hati. Hanya menikmati saat berdua saja, mencari teman untuk saling bicara dan memahami. Dan pada kenyataannya Dokter Alfian adalah pendengar yang baik.
Hingga tadi malam, saat kami sedang menghabiskan malam di tepi laut. Kami berdiri berdampingan di depan mobil sembari bersandar pada kapnya. Tatapan mata kami lurus memandang pada pulau Madura di kejauhan, di seberang lautan maha luas. Kubiarkan angin malam mempermainkan rambutku.
Kali ini kami sama-sama tak bicara, sama-sama tahu kalau kami sudah pada batasnya, batas menahan perasaan yang mulai keluar jalur.
"Aku tak akan pernah menampik perasaanku. Aku juga tak akan berusaha berbohong atau apalah. Saat ini memang ada yang berbeda setiap kali aku bersama kamu. Sebuah rasa asing yang mungkin tak seharusnya ada di antara kita. Tapi maaf... ternyata aku tak bisa mengendalikan diriku, Via," ucapnya tanpa memandangku, hanya genggaman tangannya saja yang kian mengerat.
Aku hanya mampu memandang wajah muram di sampingku itu dengan dada yang begitu sesak, "Ya, saya tahu. Dan ternyata kita sama-sama tak bisa mengendalikan diri, Dok," jawabku lirih. Kubiarkan lengannya merengkuh lembut bahuku.
“Aku tak berani mengucapkan apa yang kurasakan, Via, tapi aku yakin kamu bisa merasakan itu,” katanya lagi sambil berdiri di depanku, dengan dua tangannya yang menangkup kedua sisi wajahku.
Aku tahu kalau di sinilah akhir kami. Kami sama-sama tak mungkin mengingkari ikatan yang telah terjalin pada kelingking-kelingking kami. Ikatan benang merah yang ujung-ujungnya tidak menghubungkan aku dan dia.
“Ya, saya bisa merasakannya, Dokter. Dan terima kasih… untuk kebahagiaan ini, walau hanya sesaat,” jawabku lirih. Sakit rasanya saat mengatakan itu, tapi bagaimanapun kami tak hidup di dalam mimpi.
Pria bermata teduh itu menundukkan kepalanya, mendekatkan kedua bibir kami, lalu menjadikannya satu dalam sebuah ciuman yang begitu lembut. Kurasakan getar di sana, entah dariku atau darinya. Kubalas dengan rasa yang sama hingga akhirnya kami menyerah dan saling menuntut, meminta lebih seakan tak rela jika semua ini harus berakhir. Kunikmati pagutannya, walau hanya rasa perih yang tergores di dadaku. Tapi setidaknya aku akan selalu mengingat malam ini, malam dimana perasaan kami tak mampu lagi terpasung, tapi tak mungkin juga bersatu.
.
.
Entah berapa lama aku melamun sejak pagi tadi. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Semangatku menguap seharian ini, bahkan perutpun tak terasa lapar. Sudahlah, kan kami sama-sama tahu kalau akhirnya akan seperti ini? Aku hanya belum siap saja, atau tak ingin siap?
“Makan yuk?” ajak Lia yang sudah berdiri dari kursinya.
“Malas ah, Diet,” jawabku asal sambil nyengir.
“Ayooo… Boss bbm nih, kita ditunggu di restoran lesehan depan kantor tuh,” seret Lia.
Mau tak mau akhirnya aku menurut. Boss memang sering mengajakku dan Lia makan bersama. Kebetulan di depan kantor ada restoran lesehan yang lumayan terkenal, jadi kami tinggal jalan kaki saja.
Sesampainya di sana aku berusaha mati-matian menyembunyikan debar jantungku yang langsung melonjak drastis, Dokter Alfian juga ada di sana, bersama si Boss.
“Lambat… hampir saja aku sisakan durinya untuk kalian,” seloroh Boss kami yang juga sering asal bicara itu.
Entah kenapa saat itu Lia memilih duduk di samping si Boss, dan aku mau tak mau duduk di samping pria yang semalam berhasil membuatku tak bisa tidur itu. Masih terasa lembut bibirnya di bibirku, dan aku gembali bergetar.
Setelah duduk bersila di sisinya aku mencoba untuk bersikap wajar, “Hai, Dok,” sapaku.
Dokter Alfian tersenyum, “Sehat, Vi?” tanyanya.
Dan aku kembali tak mampu melawan saat jemarinya menautkan jemari kami di bawah meja.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar