"Kau Ellena?" tanya wanita yang bernama Theresia itu. Pelan wanita itu melangkah mendekati Aluna dan Ellena.
"NGGAK MAU!!! PERGIII!!!"
Teriakan Ellena menghentikan langkah wanita itu dan mengejutkan mereka semua.
Theresia tak menyerah, dia terus mendekati gadis kecil yang tampak ketakutan itu. Aluna yang berdiri di depan Ellena hanya bisa menggenggam tangan Ellena yang gemetar sambil mencengkeram blazernya.
"Ellena, ini aku... "
"ENGGAK...!!!" Ellena kembali berteriak nyaring memotong kata-kata Theresia seakan dia tahu apa yang akan diucapkan wanita itu padanya. Bahkan dia menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya sambil terus menggeleng dan mundur.
"Sayang..." Alex yang melihat sikap putrinya yang tak biasa itu segera berlari dan menghampirinya, tapi gadis kecil itu justru menepis tangan ayahnya yang terulur padanya. Airmata mulai mengalir dari matanya yang bulat.
Aluna melihat ketakutan juga kesedihan pada wajah gadis kesayangannya itu. Kali ini dia mencoba menggantikan Alex yang hanya bisa mematung karena penolakan putrinya. Aluna berlutut di depan Ellena dan merentangkan kedua tangannya pada gadis itu, "Kemari, sayang. Sini sama kakak," katanya lembut dengan senyum penuh kasih.
Ellena melihat ketulusan di sana, melihat rasa sayang Aluna padanya yang terpancar dari mata gurunya tersebut, lalu segera saja dia berlari dan memeluk erat Aluna sambil menangis keras. Kedua tangannya melingkari leher Aluna dengan erat seakan takut gadis itu akan melepaskannya.
Dengan sedikit bersusah payah Aluna bangkit sambil memeluk Ellena dalam gendongannya, "Maaf, boleh saya bawa Ellena dulu? Kasihan dia," tanyanya pada Alex.
Alex ingin menjawab, tapi Theresia memotong kata-katanya, "Jangan, kumohon... biarkan aku bersamanya sebentar saja," pinta wanita itu dengan nada suara memelas.
Tangis Ellena semakin kencang, tangannya juga semakin memeluk Aluna dengan erat. Kepalanya menggeleng keras tanpa suara.
Aluna melihat rasa pedih di mata wanita itu ketika Ellena menolaknya, dan dia hanya mampu menutup mulutnya yang terbuka dengan jari-jari tangannya yang diberi pewarna merah.
"Bawa dia, Lun. Dan tolong jaga dia sampai aku datang, ya?" pinta Alex pada Aluna tanpa menghiraukan permintaan Theresia.
Aluna hanya mengangguk sambil terus mengusap lembut punggung Ellena agar gadis itu tenang. Dia menatap Theresia yang balas menatapnya, lalu wanita itu memejamkan matanya sambil mengangguk enggan.
Alex terus menatap punggung Aluna yang membawa putrinya berlalu dari hadapan mereka, "Aku tak akan pernah melepaskan Ellena untukmu, tak akan pernah, Tere. Dia hanya milikku, dan aku tak akan membiarkannya meninggalkanku... seperti yang dilakukan ibunya dulu," desis Alex sambil menatap wanita itu dengan tatapan dingin yang menghujam.
#
Alex mengemudikan mobilnya dengan gusar, tapi sebisa mungkin dia mencoba terlihat tenang. Sesekali dia menatap wajah tidur putrinya dalam pelukan Aluna yang duduk di sampingnya sambil terus mengusap lembut rambut halus Ellena. Gadis kecilnya terus diam sejak peristiwa siang tadi, bahkan dia hampir tak pernah menatap wajah ayahnya. Tangannya terus menggenggam tangan Aluna, seakan hanya di sanalah dia bisa merasakan ketenangan. Dan akhirnya hari ini terlewati dengan suasana yang begitu kaku. Alex membenci ini.
"Mas... mau aku yang gantikan nyetir?" tawar Aluna yang melihat keresahan Alex.
Alex menatap wajah teduh di sampingnya itu dengan tersenyum, "Ga usah, Lun," jawabnya lalu kembali menatap jalanan padat di depannya.
Aluna menghela nafas panjang, "Aku ga tau ada masalah apa sebenarnya, tapi kuharap mas Alex dan Ellena baik-baik saja," kata Aluna tulus. Dia tak mengatakan kalau dia sudah tahu siapa Theresia sebenarnya, karena dia merasa kalau akan ada masanya dimana Alex lah yang akan menceritakan semuanya sendiri.
Alex menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas menyala merah, pelan dia mengusap wajahnya dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Kembali ditatapnya wajah Ellena yang tertidur pulas dalam dekapan Aluna, ada rasa bersalah muncul di benaknya. Tanpa sadar dia meraih tangan Aluna yang mengusap rambut putrinya lalu digenggamnya tangan putih itu dengan erat seakan dia mencari ketenangan yang sama yang ditemukan Ellena di sana, dan dia mendapatkannya.
Sementara Aluna berusaha tenang, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang menggila, dia takut Ellena akan bangun oleh suara debarannya. Dan nafasnya tercekat saat Alex justru membawa tangannya ke bibirnya dan menciumnya lembut sambil memejamkan mata. Tanpa sadar Aluna pun memejamkan matanya, menikmati gelenyar lembut yang merambati dada juga perutnya. Bibir Alex terasa begitu panas di kulitnya.
TIIINNN!!!!
Keduanya tersentak saat suara klakson mobil di belakang mereka berbunyi dengan nyaring. Alex segera melepaskan tangan Aluna dan kembali melajukan mobilnya dengan tenang. Dia tersenyum saat diliriknya gadis itu tampak tersipu dan kembali memeluk Ellena. "Benar ga apa-apa kalau kamu ikut ke rumah kami sekarang, Lun? Kamu ga capek?" tanya Alex setelah dia bisa mengendalikan emosinya.
Aluna menggeleng, "Aku ga mau ninggalin Ellena dalam keadaan seperti ini, Mas. Biar aku temani dulu dia sebentar. Setelah dia tidur pulas di kamarnya baru aku tinggal pulang naik taksi aja," jawabnya.
Kali ini Alex yang menggeleng, "Jangan, biar aku antar. Dan aku tak ingin dibantah, Lun," katanya cepat sebelum Aluna menolaknya.
#
"Gimana? Ellena sudah kembali tidur?" tanya Alex saat melihat Aluna keluar dari kamar putrinya dan mendekatinya yang sedang membaca surat kabar di ruang tengah.
Aluna hanya mengangguk setelah dia duduk di sofa di dekat Alex.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Alex saat melihat pandangan Aluna yang resah.
Gadis itu menggeleng, "Dia cuma diam, mas. Saat aku tanya dia tak menjawab. Dia cuma memelukku saja sampai tertidur lagi. Dia cuma bilang..."
Alex mengernyit saat Aluna tak meneruskan kata-katanya, "Dia bilang apa?" tanyanya penasaran.
Aluna menatap mata tajam Alex yang selalu mampu membuatnya tak berdaya di bawah pesonanya. Setelah beberapa saat diam Aluna akhirnya cuma menggeleng dan tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya, "Bukan hal penting. Elle cuma bilang kalau dia tak mau aku pergi. Tapi sudah kujelaskan kalau aku tak bisa selalu bersama dia, tapi aku tak akan pernah meninggalkannya. Kuharap dia mengerti," jawabnya lirih.
Sebagai seorang pengacara handal Alex selalu tahu kapan lawan bicaranya bohong atau jujur, dan dia melihat kalau Aluna tengah mencoba membohonginya. Tapi dia tak ingin memaksa gadis itu untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kuantar pulang sekatang?" tawar Alex dengan nada suara enggan, karena memang dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Aluna. Delapan jam sehari di kantor seperti masih kurang untuknya.
Aluna melihat jam tangannya, sudah jam 20.00 lebih, memang sudah waktunya dia pulang, belum lagi nanti kalau macet di jalan, "Iya mas, maaf merepotkan," jawabnya lagi tanpa menatap mata Alex. Sungguh dia seakan tak mampu menatap mata pria itu setelah apa yang ditanyakan Ellena tadi padanya. Pertanyaan yang tak mungkin dia katakan pada Alexander. Gadis itu tersentak saat Alex meraih tangan kanannya lalu menggandengnya dengan lembut hingga sampai ke mobil. Aluna bisa merasakan pipinya yang memanas, terlebih lagi Alex juga mengusap punggung tangannya dengan ibujarinya.
Perlakuan Alex benar-benar membuatnya melayang, mulai dari membukakakn pintu untuknya hingga memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Lun..." panggil Alex di tengah keheningan mereka saat mobil sudah melaju mulus di jalan raya. Hujan mulai turun sejak mereka meninggalkan halaman rumah Alex, dan simponi Mariage D'amor yang dimainkan oleh pianis Richard Clayderman dari tape mobil semakin mendukung suasana sendu di dalamnya.
Aluna yang sejak tadi tenggelam dalam lamunannya sembari menatap hujan dari balik kaca akhirnya menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya itu.
Tak perlu jawaban untuk mengetahui kalau gadis itu sudah kembali memperhatikannya, "Maaf untuk hari ini, ya?" kata Alex tanpa melepaskan pandangan dari jalan raya.
Aluna diam sesaat sambil mencerna kata-kata pria yang kini menjadi pimpinannya itu, "Maaf untuk apa, mas?" tanyanya, walau dia tahu apa yang dimaksud Alex.
Alex tersenyum miris, "Maaf sudah membuatmu melihat kejadian yang tak enak waktu di kantor tadi. Dan maaf juga karena sudah membuatmu direpotkan oleh Ellena," jawab Alex.
Aluna melihat raut tegang di wajah Alex saat dia mengingat kejadian siang tadi, 'Masih begitu besarkah pengaruh kehadiran Theresia dalam hidupnya?' tanyanya dalam hati.
Alex kembali berhenti saat lampu jalanan berwarna merah. Dia menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya yang kaku sebelum menatap mata indah Aluna. Menggenggam tangan gadis itu sepertinya akan menjadi candu baginya, bahkan Ellena jauh lebih pintar mencari dimana ketenangan itu berada dibandingkan dia. Oleh karena itulah Ellena selalu menggenggam tangan Aluna, seperti yang dilakukannya saat ini.
"Theresia... adalah ibu Ellena," kata Alex lirih. Dan pria itu mengetatkan genggamannya saat dirasakannya tangan Aluna menegang.
Aluna sudah tahu siapa Theresia, tapi saat mendengar sendiri hal itu dari bibir Alex ternyata efeknya berbeda, entah kenapa dia merasa seperti ada sayatan di hatinya, 'Bodoh', rutuknya dalam hati.
Alex mengamati wajah Aluna yang sedikit pucat, entah karena terkejut atau lelah.
"A-apa Elle tahu, mas?" tanya Aluna sambil menatap pria itu.
Alex tak menjawab, dia melihat lampu lalu lintas mulai hijau dan diapun melepaskan genggamannya pada Aluna untuk kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Dan saat genggaman itu terlepas keduanya pun merasakan kehilangan.
"Seharusnya Ellena tak tahu kalau itu ibunya. Aku tak pernah memberitahu nama ataupun foto Tere padanya. Tapi melihat sikapnya tadi entah kenapa aku curiga kalau dia sudah tahu, tapi dari siapa?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.
Aluna mengernyit, "Kenapa mas sampai tak mengijinkan Ellena tahu siapa ibunya?"
Alex terdiam, rahangnya kembali tegang.
Aluna segera menyadari kalau Alex sedang tak ingin membahas itu. Pelan disentuhnya lengan Alex dan mengusapnya dengan lembut, "Maaf. Mas ga perlu jawab kalau memang pertanyaanku mengganggu. Maaf ya," kata gadis itu mencoba menenangkan.
Alex menghela nafas panjang, dia mencoba meredakan kerisauannya saat sekelebat kenangan akan masa lalunya terlintas di dalam kepalanya. Pelan diraihnya tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat dengan satu tangan yang tak memegang kemudi, "Suatu saat aku akan menceritakan semuanya, Lun. Semuanya. Dan kuharap saat kau tahu siapa dan bagaimana aku di masa lalu... kau tak akan menatapku seperti binatang," desisnya penuh luka.
Ucapan Alex tampak begitu rapuh, segera saja Aluna memeluk lengan pria itu dengan kedua tangannya seakan takut kalau Alex akan hancur oleh masa lalunya sendiri.
Alex terkesiap, pelukan Aluna di lengannya segera saja membakar tubuhnya yang memang sudah panas dan hampir meledak oleh emosi akan Tere yang ditahannya sejak tadi siang. Dadanya berdebar kencang, seakan tak mampu lagi menahan semua rasa yang saat ini terus mendobrak dinding hatinya. Segera saja dia menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi dan sedikit gelap, lalu berhenti tanpa mematikan mesin mobilnya.
Aluna mendongakkan kepalanya, dia melihat mata yang biasanya menyorot tajam kini tampak marah, lelah, dan putus asa.
Alex meraih belakang kepala Aluna dengan tangan kirinya yang sejak tadi memegang kemudi lalu meraih bibir gadis itu dengan bibirnya, melumatnya dengan rakus seakan ingin menenggelamkan tubuh Aluna ke dalam dirinya. Bibir Alex menuntut dan merampas setiap inci yang ditawarkan oleh bibir Aluna. Pria itu menumpahkan segala amarah juga kecewanya, dia berharap kelembutan bibir Aluna mampu meredakan gejolak hatinya yang resah.
Aluna terkejut dan spontan dia mendorong tubuh Alex, tapi kekuatan Alex diluar kuasanya. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena sebuah rasa meletup keras di dalam dirinya, rasa yang baru dikenalnya dengan nama gairah. Bibir Alex mengirimkan rasa panas ke sekujur tubuhnya, rasa panas yang membuatnya enggan menghentikan apa yang tengah diperbuat pria itu padanya. Rasa panas yang pada akhirnya melambungkannya tinggi pada batas kesadarannya. Rasa panas yang membuatnya mabuk dan menginginkan lebih.
Erangan Aluna menyadarkan Alex, segera saja dia melepaskan bibir gadis itu dan berusaha meredakan gairah yang hampir menggulungnya, "Maaf, luna," bisiknya parau sambil menyatukan kening mereka. Nafas keduanya masih memburu. Aluna memberikan efek besar pada tubuhnya
Aluna membelai pipi Alex yang sedikit kasar oleh jambang, jarinya gemetar oleh rasa yang baru kali ini dialaminya. Tubuhnya terasa panas dan sesak, tapi ada nikmat di sudut sisinya. Pelan digigitnya bibirnya sendiri yang sedikit membengkak akibat ciuman Alex yang tiba-tiba tadi.
"Maaf," bisik Alex lagi di depan bibir gadis itu.
Aluna tak menjawab, dia justru memejamkan matanya karena tatapan Alex membuatnya lemas. Dan dia tak menolak saat bibir Alex kembali menyapa bibirnya, kali ini begitu lembut, begitu penuh perasaan, membuat Aluna kembali kehilangan kesadarannya lebih dalam. Ciuman Alex yang tak menuntut membuatnya melayang, tubuhnya kembali terasa panas. Tubuhnya bergetar saat Alex membuka bibirnya dengan lidahnya lalu menyapa lidahnya sendiri dengan satu usapan. Sentuhan yang mampu membuat tubuhnya tersengat aliran listrik. Tanpa sadar Aluna justru mengalungkan lengannya di bahu Alex dan memeluk pria itu dengan erat.
Alex memperdalam ciumannya dengan hati-hati, dia tak ingin membuat Aluna takut dan terus membuai gadis itu dengan penuh kehangatan. Direguknya semua kelembutan yang diberikan oleh bibir Aluna.
Aluna melenguh pelan, kebutuhan akan oksigen memaksanya untuk melepaskan kenikmatan yang ditawarkan oleh Alex. Dan pipinya bersemu begitu merah saat kedua matanya bertemu pandang dengan mata tajam Alex yang tengah memandangnya.
Alex segera meraih Aluna ke dalam pelukannya. Rasanya begitu nyaman, begitu sempurna. Jantungnya berdebar halus, sudah lama sekali dia tak merasakan perasaan seperti ini, perasaan yang dikiranya sudah tak mungkin lagi hadir di hidupnya.
BLAAARRRR!!!!
Keduanya tersentak saat petir menyambar dan membuat langit malam itu terang sekejap. Alex seakan tersadar oleh sesuatu, dia segera melepaskan pelukannya pada Aluna, "Kita jalan lagi, ya?" katanya sambil kembali memposisikan tubuhnya di depan kemudi.
Aluna mengernyit saat melihat perubahan sikap Alex padanya. Pria itu langsung terdiam dan tak bicara sama sekali padanya hingga mereka sampai di rumah keluarga Pratama. Alex hanya bertemu sebentar dengan kedua orangtuanya lalu berpamitan pulang.
Ada rasa sakit di dada Aluna saat pria itu tak menatapnya, padahal dia begitu lembut saat menciumnya tadi.
Malam yang dingin, sementara hujan juga belum habis. Aluna hanya mampu memeluk gulingnya tanpa memejamkan mata sama sekali hingga pagi tiba. Kepalanya penuh dengan pertanyaan akan perubahan sikap Alex yang begitu drastis.
.
#
.
Seminggu berlalu sejak kejadian di dalam mobil itu, dan sikap Alex padanya semakin berbeda. Pria itu begitu terkesan menjauhinya. Mereka berbincang hanya masalah pekerjaan saja dan setelahnya Alex akan kembali diam atau tak menghiraukannya.
Aluna ingin bertanya, tapi dia merasa kalau dia tak memiliki hak untuk bertanya. Aluna ingin marah, tapi marah kenapa? Bukankah dia juga tak menolak saat Alex menciumnya? Ingin menangis... tapi untuk apa? Apa yang harus ditangisi? Alex bukan siapa-siapanya, mereka tak terikat hubungan apa-apa.
"Kakak."
Aluna tersentak saat suara Ellena memanggilnya. Segera saja gadis itu mengusap matanya yang sedikit basah dan memasang senyumnya, "Halo, sayang? Kamu sudah pulang? Sudah makan siang?" tanya Gadis itu yang segera meminta Ellena untuk duduk di depan mejanya.
Ellena tak menjawab, dia justru menghampiri Aluna lalu memeluk gadis itu dengan erat. Wajahnya dibenamkan di dada Aluna.
Aluna membalas pelukan Ellena dengan sama eratnya, akhir-akhir ini mereka memang sangat jarang menghabiskan waktu bersama. Alex jarang mengajaknya makan siang bersama Ellena lagi, juga tak pernah menawarkan Aluna untuk mengunjungi Ellena di rumahnya. Hanya Ellena yang terkadang minta diantar supir ke kantor ayahnya untuk bertemu dengannya, lalu setelah memakan bekal makan siang bersamanya gadis kecil itu akan kembali pulang. "Bagaimana kabarmu hari ini, anak cantik? Sekolahmu lancar?" tanya Aluna yang masih memeluk gadis kecilnya.
Ellena lagi-lagi tak menjawab, dia justru meminta duduk di pangkuan Aluna, lalu kembali memeluk gadis itu.
Aluna terkekeh pelan, "Hei... aku juga merindukanmu, sayang," bisik Aluna yang dibalas pelukan Ellena yang semakin erat.
Aluna menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi melalui mulutnya. Dadanya terasa sesak, begitu besar beban yang menghimpit dadanya saat ini.
"Loh... ini kenapa ada dua putri saling berpelukan begini?"
Aluna dan Ellena tersentak, lalu keduanya menoleh ke asal suara. Tampak dua pria tampan yang memiliki postur tubuh tinggi sudah berdiri tak jauh dari mereka.
"Mas Aby, Mas Reza," sapa Aluna pada kakak angkat dan kakak iparnya.
Ellena turun dari pangkuan Aluna untuk mencium tangan kedua pria yang dipanggilnya Om itu.
Aby menggendong Ellena lalu memberikan ciuman di kedua pipinya yang putih, "Apa kabar, Princess? Om kangen banget sama kamu," katanya. Aby mengernyit saat Ellena hanya membalas sapanya dengan senyuman tipis saja, seperti Ellena yang pertama dikenalnya dulu. Padahal akhir-akhir ini gadis cilik itu sudah mau berceloteh panjang lebar jika dengannya.
Dan pria itu makin menautkan alisnya saat adiknya juga hanya membalas tatapan selidiknya dengan senyuman.
"Kalian berdua baik-baik saja?" tanya Reza kali ini.
Aluna mengangguk sambil merapikan mejanya, "Baik kok, mas. Memangnya kenapa?" tanya Aluna sambil menyimpan kesedihan di wajahnya.
Tiba-tiba pintu kantor Alex terbuka, "Lun, sebentar lagi.." kata-kata Alex terhenti saat dia melihat Reza dan Aby ada di ruangan itu, "Oh... kalian sudah datang?" katanya sambil tersenyum dan menyalami dua pria itu.
"Maaf mengganggu kesibukanmu, Lex," kata Aby masih dengan Ellena dalam gendongannya.
Alex kembali tersenyum, "Sama sekali tak mengganggu, kebetulan pekerjaanku sedang tidak banyak," jawabnya. "Elle, sayang... sini sama Papa, kasihan Om Aby pasti capek," kata Alex sambil merentangkan tangannya.
Ellena hanya menatap ayahnya dengan diam, setelah itu dia memilih turun dan menyeret kursi ke sebelah Aluna dan duduk di sana. Dia meraih buku cerita bergambar yang memang sengaja disediakan Aluna di mejanya untuk dibaca Ellena saat gadis itu berada di kantor ayahnya.
Alex mendesah pelan, sudah seminggu ini Ellena kembali tak mau membuka suaranya. Dia kembali menjadi gadis yang pendiam dan tertutup. Alex pernah mencoba bertanya perihal sikapnya saat beremu dengan Theresia minggu lalu, tapi putrinya tak menjawab, dia cuma diam lalu meninggalkan Alex begitu saja. Yang membuat Alex semakin sedih dia tak pernah lagi melihat senyum Ellena sejak saat itu.
"Kuharap semuanya di sini baik-baik saja," kata Aby yang tak lepas mengamati wajah adiknya yang tampak tak seperti biasanya.
"Akan jauh lebih baik kalau mas Aby dan mas Reza segera menyelesaikan urusan kalian disini dan berhenti mengintimidasiku dengan tatapan kalian yang seperti itu. Stop it," desis Aluna kesal.
Reza dan Aby hanya mendengus, sungguh Aluna tak pandai berbohong. Tapi mereka sepakat kalau akan membicarakannya nanti saja, dan bukan di sini.
"Silahkan masuk, kita bicarakan urusan kita di dalam," kata Alex pada kedua tamunya yang segera mengangguk dan mendahului Alex masuk keruangannya.
Alex menatap Aluna yang juga tengah menatapnya. Percikan rindu kembali hadir di antara mereka. Disertai luka juga rasa sakit pada keduanya. 'Maaf', bisik Alex dalam hati lalu mengikuti kedua tamuanya masuk ke dalam ruangannya. 'Maaf, sungguh aku tak ingin membuatmu terluka. Maaf', bisik hati Alex lagi sembari menahan perih yang kian menyayat. Sungguh dia sangat merindukan Aluna, tapi dia juga takut.
Dia takut kehilangan lagi.
#
"Jadi? Tetap tak ingin mengatakan apa-apa pada kami?" tanya Aby yang duduk di samping Reza yang sedang menyetir mobil pada Aluna yang duduk di belakang. Aby dan Reza mengajak Aluna untuk pulang bersama mereka karena mereka memang membahas pekerjaan dengan Alex sampai sore. Dan Aluna tak bisa menolak karena hari ini dia sedang tak membawa kendaraan.
"Ga ada apa-apa, mas. Kenapa sih ga percaya banget sama Luna?" jawab gadis itu sambil melihat ke arah jalanan yang padat, menyembunyikan raut mukanya dari kedua kakaknya yang bisa menatapnya dari kaca spion atas.
"Karena kamu tak pandai berbohong, dek," jawab Reza kali ini.
Aluna hanya menghela nafas panjang. Dia takut kalau tangisnya akan pecah jika kedua kakaknya itu terus memaksanya.
Aby dan Reza saling bertatapan, dan Reza hanya mengangkat bahunya lalu kembali fokus pada jalan di depannya. Aby begitu geram, ingin rasanya dia memaksa Aluna untuk menceritakan semua padanya, tapi sorot lelah dan sedih di kedua mata Aluna membuatnya tak sampai hati melakukan itu. Sungguh dia ingin menghancurkan siapapun yang telah melukai adik kesayangannya.
#
Sementara itu di kediaman Alex pada malam harinya tampak begitu kaku. Lagi-lagi Ellena tak mau bicara pada ayahnya, gadis kecil itu hanya menatap layar kaca yang sedang menampilkan drama keluarga di hadapannya dengan serius. Dia melihat dimana sebuah keluarga duduk bersama di meja makan, saling bercerita dan berbagi ciuman. Dia melihat sang Ibu yang sibuk menyuapi anak perempuannya dengan penuh kasih dan tak marah saat anak perempuannya mengotori bajunya. Sang ibu justru memeluk anaknya dan memberikannya ciuman tanda dia tak bersalah. Lalu selesai makan anak perempuan itu bermain bersama ibunya sementara sang ayah membaca koran di dekat mereka, persis seperti yang dilakukan ayahnya sendiri sekarang.
Ellena melihat bagaimana si anak terus bermanja dengan ibunya, memeluknya, duduk dipangkuannya, lalu membaca buku cerita bergambar bersama.
Gadis itu segera teringat pada Aluna. Dia langsung memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Airmatanya keluar tanpa suara.
Alex yang melihat hal tersebut segera saja menghampiri putrinya dan memeluknya dengan lembut, "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya.
Ellena tak menjawab. Dia kesal pada ayahnya. Kesal pada semua hal yang dirahasiakan ayahnya darinya. Ayahnya selalu diam setiap kali dulu dia bertanya tentang ibunya, bahkan tak ada satupun foto ibunya di rumah.
"Sayang?"
Ellena mengangkat wajahnya yang telah bersimbah airmata, "Kenapa Elle tak punya Mama, Pa?" tanya Ellena dengan suara serak.
Alex tercekat melihat putrinya menangis, "Sayang... Mamamu..."
"Papa mau bilang lagi kalau mama sudah meninggal? Kalau memang sudah meninggal terus dimana makamnya?" tanya Ellena lagi di antara isaknya.
Alex merasa lidahnya kelu.
"Papa mau bilang makamnya di luar negeri lagi? Kalau gitu bawa Elle ke sana. Papa punya uang, kan?" kejar gadis cilik itu sambil berdiri dan menepis tangan ayahnya yang masih memeluknya.
"Ellena... Papa..."
"Kenapa Elle ga pernah tahu siapa nama Mama? Elle juga ga pernah lihat foto Mama. Kenapa Elle ga boleh tahu Mama Elle, Pa?" Ellena tak membiarkan ayahnya menjawab pertanyaannya.
"Sayang, dengarkan Papa dulu. Mamamu..."
"KENAPA PAPA GA BILANG AJA SIH KALAU MAMA ITU JAHAT? DIA NINGGALIN KITA BEGITU ELLE LAHIR KAN, PA? BAHKAN DIA PERNAH HAMPIR MEMBUNUH ELLE KARENA DIA MEMBENCI PAPA DAN GA MAU PUNYA ANAK DARI PAPA!!!" teriak gadis kecil itu penuh emosi.
Alex terkejut setengah mati, "ELLENA...!!!" teriaknya tanpa sadar.
"KENAPA, PA? KENAPA MAMA MEMBENCI PAPA? KENAPA DIA MEMBENCI ELLE?!!" teriakan Ellena tak kalah kencangnya.
Dada Alex bergemuruh kencang, kisah masa lalunya memenuhi kepalanya yang terasa begitu berat dan panas. Rasa itu muncul lagi, rasa marah dan benci pada Theresia, dan pada dirinya sendiri.
"KALAU MEMANG MAMA TAK MAU ELLENA LAHIR, KENAPA PAPA GA BIARIN AJA MAMA BUNUH ELLE SEJAK ELLE MASIH DI DALAM PERUT MAMA?!!!" tuntut Ellena lagi dengan tangisnya yang makin keras.
"CUKUP ELLENA!!! CUKUP!!!" teriak Alex sambil mengangkat sebelah tangannya. Emosi benar-benar telah menggelamkan akal sehatnya.
"JANGAN, MAS!!!"
Sebuah teriakan menghentikan tangan Alex di udara. Dengan pandangan yang sedikit berkabut dia bisa melihat Aluna yang sedang memeluk putrinya, mencoba melindunginya dari emosinya yang hampir saja meledak.
Tangis Ellena semakin kencang, tubuhnya gemetar dalam pelukan Aluna.
"Ya Tuhan, Mas... kamu kenapa? Ini putri kamu, Mas," kata Aluna yang masih mendekap Ellena dalam pelukannya.
Tubuh Alex terhuyung ke belakang setelah menyadari apa yang hampir saja dia lakukan pada putri sematawayangnya. Pria itu segera terduduk di sofa sambil meremas rambutnya dengan kedua tangannya, "Tuhan..." desisnya lemah. Apa yang akan dilakukannya jika saja Aluna tak datang? Pikirnya kalut.
Aluna menggendong Ellena dan memangkunya setelah dia duduk di sofa yang lain di dekat Alex. Tangannya masih mendekap erat gadia kecil itu dan mengusap punggungnya agar tangisnya berhenti.
Setelah beberapa saat tangis Ellena pun hilang, tapi dia belum mau mengangkat wajahnya dari bahu Aluna. Dan Alexpun masih bersandar di sofa dengan wajahnya yang kalut luar biasa.
"Sayang..." bisik Aluna lembut sambil mengayun pelan tubuh Ellena dalam dekapannya. Setelah merasakan respon Ellena yang memeluk lehernya makin erat Aluna pun meneruskan ucapannya, "Dari mana kamu mendapatkan kata-kata seperti itu?" tanyanya lagi. Aluna memang mendengarkan semuanya dari awal saat dia masuk begitu saja karena pintu depan terbuka lebar.
Ellena tak menjawab, hanya lengannya yang bergerak gelisah di bahu Aluna.
"Coba bilang sama kakak, kamu dengar dari siapa soal Mama... yang tak menginginkanmu?" tanya Aluna lagi sambil menatap Alex yang juga sedang memandangnya. Pria itu mengangguk lemah tanda dia menyetujui Aluna mengajukan pertanyaan itu pada putrinya. Pertanyaan yang sama yang ingin dia tanyakan.
Ellena terdiam sesaat, lalu dia bicara pelan dengan suaranya yang parau tapi cukup jelas di telinga Aluna dan Alex. "Du-dulu... Papa pernah terima tamu di ruang kerjanya. W-waktu itu.. Elle sedang bermain boneka di lemari buku Papa yang kosong. Papa.. Papa ga tau Elle ada di situ.. dan Elle juga ga berani keluar, kak," jelasnya terbata.
Alex mengernyitkan dahinya, 'Kapan? Dan siapa?' tanyanya dalam hati.
"Terus?" tanya Aluna lagi tanpa nada paksaan. Pelukannya tak mengendur karena dia ingin gadis itu tetap tenang.
"Elle... Elle ga liat wajahnya. Waktu itu Papa marah-marah... dan berteriak menyuruh tamunya pergi dari rumah. Tapi... tapi tamunya Papa ga mau pergi. Dia malah tanya ke Papa... di-dimana anaknya, karena... karena dia ingin bertemu dengan anaknya," Ellena mengambil jeda untuk menarik nafas.
Aluna kembali menatap Alex yang tampak terkejut dan pucat. Pria itu melepas kacamatanya dan menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Aluna menebak kalau pria itu sudah mengingat siapa yang dimaksud Ellena.
"Terus Papa bilang kalau... kalau anaknya tak ada disini. Yang tinggal di rumah ini hanya dia dan anak perempuannya yang tak punya Ibu," sampai di situ suara Ellena kembali serak. Aluna mendengarkan isak yang samar dari bibir gadis itu.
"Ssssh..." bisik Aluna menenangkan sambil terus mengusap punggung Ellena.
"Terus... terus perempuan itu ga percaya. Dia bilang... kalau... kalau Ellena adalah anaknya. Dia adalah... Ibu Elle, kak.." lanjut Ellena dengan pilu.
Hati Aluna mencelos, ternyata tamu yang dimaksud Ellena adalah Theresia. Ibunya.
"Terus Papa bilang... Papa bilang kalau... Ellena sudah mati... sejak perempuan itu... meracuni Elle di dalam kandungannya sendiri."
Kali ini pelukan Aluna mengerat, digigitnya bibirnya dengan kuat agar dia tak menangis.
Alex meremas kedua tangannya yang ditumpukan pada keningnya. Dia mengingat hari itu, hari dimana pertama kali Theresia hadir kembali di hidupnya.
"Perempuan itu bilang kalau... kalau dia meracuni Elle karena dia membenci Papa. Karena dia ga mau punya anak dari Papa, kak... karena katanya... Papa sudah merusak hidupnya," tangis Ellena kembali pecah bersamaan dengan mengalirnya airmata Aluna.
Alex membungkuk dan membenamkan wajahnya di pangkuannya. Kedua tangannya ditautkan di belakang kepalanya dengan gemetar.
Aluna merasa kalau dia harus menyudahi ini, karena untuk selanjutnya adalah tugas Alex yang menjelaskan. Gadis itu segera mengangkat Ellena dalam gendongannya, "Cukup, sayang... kakak akan menemanimu tidur, ya?" katanya sambil melangkah ke kamar Ellena.
#
Hampir setengah jam lebih Aluna menemani Ellena sampai akhirnya dia kembali lagi pada Alex dengan secangkir teh hangat di tangannya. "Minum dulu, mas," katanya sambil menyodorkan teh itu pada Alex.
Alex menatap gadis itu, dan senyum yang terukir di bibirnya cukup mampu membuatnya sedikit tenang. Diterimanya cangkir itu dari tangan Aluna dan menyesap isinya sedikit demi sedikit. Cukup melegakan tenggorokan dan hatinya. Lalu dia meletakkan cangkir itu pada nakas di sebelahnya.
Aluna meraih tasnya yang tadi terjatuh di lantai saat dia pertama kali memeluk Ellena. "Sekarang Mas tenangin diri dulu. Sebaiknya aku pulang, sebab tadi mendadak di tengah jalan aku minta diantar ke sini sama mas Reza dan mas Aby karena entah kenapa aku teringat terus dengan Ellena," jelasnya, karena dia yakin kalau Alex pasti bingung kenapa dia tiba-tiba bisa berada di sini.
Alex meraih tangan Aluna dan menariknya pelan agar gadis itu mau duduk di sampingnya, "Kalau kau tak keberatan... tolong temani aku sebentar, Lun," pintanya lirih.
Aluna merasakan dingin pada tangan yang biasanya hangat itu. Dia membalas genggaman tangan Alex dan mengangguk pelan, "Luna ijin Bunda dulu, ya? Takutnya nanti Bunda kuatir," katanya sambil meraih handphone di tasnya dengan tangan yang tak menggenggam tangan Alex lalu menekan nomer Ibu angkatnya.
Setelah selesai bicara dengan ibunya Aluna pun kembali menatap Alex yang tampak begitu letih. Pria itu duduk setengah membungkuk dengan tangan Aluna berada dalam genggamannya di atas pangkuannya.
"Lun... apa yang akan kuceritakan dan kau dengar setelah ini nanti... adalah yang sebenarnya," kata Alex lirih.
"Mas... kalau memang mas Al belum siap menceritakan..."
"Aku ingin kamu tahu, Lun... dari mulutku sendiri, bukan dari orang lain," potong Alex. "Reza yang tahu keseluruhan ceritanya," sambungnya.
Aluna menghela nafas panjang, "Baiklah, akan kudengarkan kalau memang itu mau mas Alex," jawab Aluna.
Alex menoleh ke samping, menatap mata gadis yang telah membuatnya menyerah untuk terus menyimpan rahasia masa lalunya. Dia ingin Aluna tahu seperti apa Alexander yang dulu, dan berharap gadis itu akan mau menerimanya seutuhnya. Bermimpikah dia? Entah, dia hanya lelah terus berlari dan bersembunyi.
Pria itu melepaskan tangan Aluna dan mengubah duduknya menjadi bersandar di sandaran sofa panjang yang mereka duduki.
"Aku... adalah anak tunggal di keluargaku," Alex memulai ceritanya.
"Mama meninggal sejak aku kecil dan aku hanya hidup dengan Papaku saja," dia diam mengambil jeda sebentar.
"Saat aku SMA Papa mengangkat seorang gadis yatim piatu sebagai anak. Gadis yang cantik dan pintar. Usianya terpaut dua tahun denganku," Alex bercerita sambil menerawang. "Aku... jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya. Aku menyayanginya, memanjakannya, dan berharap dia akan memiliki perasaan yang sama denganku," lanjutnya. "Namanya... Theresia."
Aluna terkesiap. Tapi dia tak ingin memotong cerita Alex. Dia akan mendengarkan sampai habis tanpa menyela.
"Saat aku lulus SMA aku bilang pada Papa... kalau aku mencintai Theresia. Awalnya Papa terkejut, tapi kemudian beliau memahamiku. Saat itu usiaku 18 tahun, dan memang tak sulit jatuh cinta dengan gadis itu."
Ada perih menyayat hati Aluna, tapi dia tetap diam. Berat rasanya mengetahui kalau pria yang sudah membuatnya jatuh cinta itu pernah mencintai gadis lain di masa lalunya, Ibu dari anaknya, tapi dia sudah berjanji akan mendengarkan semuanya.
"Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Tapi... Theresia menolakku," lanjut Alex dengan rahang menegang. "Aku yang saat itu terbiasa mendapatkan semua yang aku inginkan merasa begitu kecewa. Aku yang sejak dulu tak pernah sulit mendapatkan seorang gadis hanya dengan bermodalkan wajah dan otakku merasa begitu terluka. Lalu aku berangkat kuliah ke luar negeri dengan maksud ingin melupakannya," Alex menarik nafas panjang saat luka itu kembali terasa dalam dadanya.
"Aku memang pintar, satu hal yang selalu menjadi kebanggan Papa. Dan dalam waktu 5 tahun aku sudah menyelesaikan S1 dan S2 ku di Yale. Aku pun kembali pulang ke Indonesia, dan mirisnya rasaku pada Tere sama sekali tak berkurang, bahkan aku semakin mencintainya yang tumbuh dengan begitu cantiknya. Kuungkapkan lagi perasaanku tapi dia tetap menolak," Alex merasa dadanya mulai sesak.
Aluna mengusap bahu pria itu dan perlahan nafas Alex kembali teratur.
"Saat itu... ternyata dia sudah memiliki kekasih. Aku marah, Lun.. aku begitu kecewa. Akhirnya aku menggunakan cara kotor."
Tangan Aluna menjadi tegang di bahu pria itu dan Alex menyadarinya. Pria itu tersenyum miris dan meraih tangan Aluna untuk digenggamnya sebentar.
"Aku meminta Papa agar menikahkanku dengan Theresia, bagaimanapun caranya," lanjut Alex. "Papa akhirnya setuju setelah aku terus memaksa. Beliau memaksa Theresia untuk menikah denganku, dengan alasan balas budi. Kejam, bukan?" tanya Alex sinis lebih ke dirinya sendiri.
Aluna tak menjawab, dia masih diam dan terus memperhatikan pria itu bicara.
"Aku melihatnya menangis, Lun... aku mendengar isaknya saat kami mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan. Tapi aku membutakan mataku, menulikan telingaku. Aku merasa sangat puas karena bisa menikahinya," ucapan Alex kali ini penuh luka.
Aluna menundukkan kepalanya, dia bisa merasakan perasaan Alex, juga perasaan Theresia.
"Tapi dia keras kepala. Dia tak ingin kusentuh walau statusnya telah menjadi istriku. Kami tidur di kamar terpisah. Aku mencoba memahaminya dan terus berusaha agar dia juga bisa mencintaiku, tapi apa yang kudapat? Tanpa sepengetahuanku dia terus menjalin hubungan dengan kekasihnya, bahkan... mereka telah bersama, Lun..."
Aluna segera menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut, 'Maksudnya... Ellena...' Aluna segera menelan pertanyaan di ujung lidahnya.
"Aku yang mengetahui hal itu akhirnya gelap mata. Malam itu saat dia pulang dalam keadaan setengah mabuk... aku memaksanya. Kujadikan dia milikku saat itu. Amarah dan kecewa benar-benar membutakan mataku, Lun. Aku tak peduli pada teriakan juga caci makinya saat aku selesai melepaskan nafsuku. Benar saja.. aku bukan yang pertama untuknya."
Aluna menggenggam kedua tangannya dengan gelisah, 'Tahan, Lun.. kau harus dengarkan sampai selesai', katanya dalam hati.
"Setelah itu aku meninggalkannya begitu saja. Aku tak pernah berusaha lagi untuk merayunya. Hingga suatu pagi aku mendengar dia muntah-muntah di kamar mandi dan pingsan. Saat kubawa ke dokter ternyata... dia hamil 6 minggu. Aku mencoba memutar ulang waktu aku menyentuhnya untuk pertama dan terakhir kalinya, dan memang itu sekitar sebulan lebih sebelumnya. Tapi aku juga ragu karena... bukan aku yang pertama kali memilikinya. Dan saat Tere sadar... kukatakan padanya kalau dia sedang hamil. Saat itu juga dia... menamparku dengan keras lalu meludahi mukaku sambil berkata kalau dia... membenciku dan akan membunuh anak yang berada di dalam kandungannya."
Aluna menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tak percaya kalau seperti ini kisahnya. Tapi melihat luka di mata pria yang begitu dipujanya itu...
"Aku dilema, Lun. Kuceritakan semua kisahku pada Reza, termasuk keraguanku akan anak yang dikandung Tere. Reza bilang... kalau bayi itu adalah bayi kekasihnya pasti Tere tak akan semarah itu, apalagi mengatakan ingin membunuhnya. Aku seperti ditampar, Reza benar, pikirku saat itu. Lalu aku kembali merayu Tere untuk terus mempertahankan anak itu. Tapi Tere tak peduli, dia terus berusaha menggugurkan kandungannya," kata Alex lirih menahan perih. "Tere membenciku, juga anakku, Lun... anak kami."
Aluna meraih tangan Alex dan menggenggamnya erat seakan ingin memberikan kekuatan pada pria itu.
"Aku terus memohon padanya agar menghentikan semua tindakannya yang ingin melenyapkan janinnya. Hingga akhirnya aku bersimpuh di kakinya. Aku berjanji jika dia bersedia melahirkan anakku maka... setelah anak itu lahir aku akan menceraikannya."
Kali ini Aluna menangis, sekelam itu kah masa lalu Alex?
"Akhirnya kau tahu? Setelah Ellena lahir dia sama sekali tak mau menatap wajah anak kami. Dia justru menyodorkan surat cerai yang telah kami sepakati begitu dia keluar dari ruang persalinan. Kau tahu bagaimana hancurnya aku saat itu? Perasaan cintaku padanya musnah begitu aku membubuhkan tandatanganku di atas kertas bermaterai itu. Dan aku bersumpah kalau dia sudah kuanggap mati begitu dia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit sehari setelah Ellena lahir tanpa mau melihat wajah anaknya yang masih merah." Alex menutup ceritanya dengan tangan terkepal, tubuhnya menegang saat Aluna memeluk lengannya dengan erat.
"Cukup, mas... sudah, aku tak mau melihat kamu terluka lagi. Sudah..." bisik gadis itu dengan isak yang tertahan.
"Sejak itulah aku membesarkan Ellena seorang diri, karena Papa meninggal terkena serangan jantung saat tahu kalau aku dan Tere telah bercerai, bahkan Tere sudah pergi meninggalkan aku dan Ellena," lanjut Alex dengan nada suara lebih tenang dari sebelumnya. "Aku mengatakan pada Ellena kalau ibunya sudah mati, karena memang begitulah yang kuanggap. Dan aku berniat akan terus mengatakan begitu sampai dia dewasa. Tapi aku tak menyangka kalau dia akan mendengarkan pembicaraan kami siang itu."
"Kapan mamanya ke sini, mas?" tanya Aluna.
"Theresia, Lun... hanya Theresia, bukan Mama Ellena. Aku tak pernah ingat kalau putriku memiliki Mama sebelumnya," desis Alex, dia muak kalau ingat jika putri kecilnya terlahir dari rahim wanita itu.
"Mas..."
Alex menghela nafas panjang, "Beberapa waktu yang lalu. Mungkin kau ingat saat nilai-nilai Ellena menurun. Saat itu aku memang merasa kalau putriku berubah menjadi begitu pendiam. Dia mulai menjaga jarak denganku, ya... itu tak lama setelah Theresia ke sini. Setelah perempuan itu pulang aku mencari Ellena ke kamarnya tapi dia tak ada, kupikir dia sedang mandi atau apalah, aku tak berpikir kalau dia sedang bermain di lemari bukuku yang kosong. Lemari itu memang besar dan aku beberapa kali menemukan Ellena bermain di sana, tapi kupikir saat itu... aku... aku sungguh tak menyangka kalau dia sedang berada di sana dan mendengar semua pembicaraan kami, Lun," jelas Alex.
"Mungkin Tuhan sudah menentukan waktu kapan Elle mengetahui tentang Ibunya, Mas," jawab Aluna, "Jangan menyesali hal itu, karena kebenarannya memang begitu," lanjutnya.
"Aku bajingan kan, Lun? Hanya karena memaksakan egoku semua ini terjadi," kata Alex lagi sambil mengusap wajahnya.
Aluna mengusap punggung Alex yang masih tegang, "Perbuatan mas memang salah, aku tak bisa membenarkan. Tapi aku bersyukur mas mau mempertahankan Ellena, dan memperjuangkannya walau harus mengorbankan pernikahan kalian," kata Aluna menenangkan.
"Terima kasih sudah mengijinkan Elle hidup, Pa."
Alex dan Aluna tersentak saat mendengar suara Ellena yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Sayang..."
"Ga apa-apa Elle ga punya Mama, asal Elle masih punya Papa," kata gadis cilik itu dengan airmata membasahi pipinya. Kaki kecilnya berlari untuk memeluk ayahnya dengan erat, dia menumpahkan tangisnya lagi dalam dekapan pria yang telah membesarkannya seorang diri itu. Dia memang masih kecil, tidak semua kisah masa lalau ayahnya bisa dicernanya dengan baik, tapi dari cerita yang didengarnya tadi dia tahu kalau Ayahnya begitu mencintainya, bahkan lebih memilihnya daripada perempuan yang dicintainya.
Aluna membekap mulutnya melihat dua orang yang telah menjadi bagian berharga dalam hidupnya itu saling berpelukan. Airmatanya luruh begitu saja, ada rasa lega dalam hatinya, setidaknya saat ini tak ada rahasia lagi di antara mereka.
"Maafkan Papa, sayang... Papa belum bisa menjadi Papa yang baik untukmu, tapi percayalah... dibalik semua keburukan Papa di masa lalu... Papa bersyukur memiliki kamu dalam hidup Papa. Kamu adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan pada Papa, dan Papa akan terus memperjuangkanmu walau dengan nyawa Papa sebagai taruhannya," kata Alex sambil terus mendekap erat putrinya. Rasa lega melingkupinya, lega karena putrinya telah memaafkannya, dan memaafkan masa lalunya.
#
"Ellena sudah tidur, mas," kata Aluna, "Dan kali ini dia benar-benar tidur, ga membohongiku lagi seperti tadi," ucapnya dengan tawa renyah di bibirnya saat dia kembali menghampiri Alex di ruang tengah.
Alex yang sudah berganti pakaian tersenyum mendengar canda gadis itu. Pria itu berdiri dan menatap Aluna beberapa saat.
Dada Aluna berdebar kencang, tatapan itu sudah lama sekali tak ditujukan padanya, tatapan yang tajam tapi begitu lembut dan mampu melemaskan sendi-sendi tubuhnya. Dan rasa panas kembali menjalari tubuhnya saat satu tangan Alex menangkup satu sisi wajahnya.
"Kamu tak membenciku?" tanya Alex pelan.
Aluna mencoba mencerna kata-kata pria itu, lalu dia tersenyum dan menggeleng, "Aku akan sangat membencimu kalau saat itu mas Alex tak mempertahankan Ellena," jawabnya.
"Aku tak sekeji itu, Lun," sanggah Alex dengan memicingkan matanya.
Aluna tertawa sambil menumpukan satu tangannya di atas tangan Alex yang masih menangkup sisi wajahnya, "Karena itu aku... tak akan membenci mas Alex," katanya.
Dada Alex bergemuruh kencang, tatapan mata Aluna padanya begitu lembut, begitu penuh arti. Sungguh dia ingin menjadikan gadis ini sebagai miliknya, hanya miliknya saja.
"Aluna..." Alex tampak gugup saat menyebut nama gadis di hadapannya itu.
Aluna hanya diam sambil membalas tatapan Alex, mengabaikan debar jantungnya menunggu kira-kira apa yang akan dikatakan oleh pria itu.
"Aluna, maafkan aku untuk sikapku beberapa hari ini. Aku takut, Lun... aku takut menyakiti kamu, dan aku juga takut... di satu sisi aku juga takut... kehilangan kamu. Maafkan aku untuk sikap egoisku," ucap Alex bersungguh-sungguh.
Aluna tersenyum, "Tahukah mas kalau dengan menjauhiku mas justru menyakitiku?" tanya gadis itu.
Alex memejamkan matanya lalu menempelkan keningnya pada kening Aluna hingga gadis itu bisa merasakan hangat nafas Alex yang beraroma mint, "Maaf," bisik pria itu. "Aku masih ingat seperti apa sakitnya ditinggalkan, dan aku sungguh takut jika kamu tahu bagaimana masa laluku... kamu juga akan meninggalkanku," lanjutnya.
Aluna mulai melayang saat satu tangan Alex memeluk pinggangnya dan membuat tubuh mereka semakin rapat, "Bagaimana mas bisa menjadi begitu sok tahu? Seburuk itukah aku di mata mas Alex?" tanya Aluna yang akhirnya memilih ikut memejamkan mata karena wajah Alex semakin lekat dengannya, dan dia hanya bisa menumpukan tangannya di bahu pria itu.
Alex menempelkan hidung mereka, "Kamu tak buruk, Luna... sama sekali tak buruk. Kamu yang terbaik yang pernah kukenal," ucapnya sebelum bibirnya menyentuh bibir Aluna dan memagutnya dengan lembut.
Aluna melenguh pelan, dia tak kuasa menolak ciuman Alex dan dia memilih untuk membalasnya. Membiarkan Alex menuntunnya dan berkuasa penuh atas bibirnya yang terasa panas. Tangannya meremas bahu Alex saat lidah pria itu menerobos mulutnya, mengirimkan sengatan halus di sekujur tubuhnya. Kalau saja tangan Alex tak memeluk pinggangnya dengan erat dia yakin kalau dia akan segera jatuh karena kakinya terasa begitu lemas.
Alex mulai merasa kehilangan kendali, bibir Aluna membuatnya mabuk. Dan caranya membalas ciuman yang masih kaku membuatnya sadar kalau gadis itu tak memiliki pengalaman sebelumnya.
Nafas Aluna tersengal saat Alex memisahkan bibir mereka.
"Luna... Luna... kau membuatku gila," bisik Alex parau lalu kembali menghujani bibir Aluna yang sedikit membengkak dengan beberapa kecupan.
Aluna hanya tertawa pelan sambil berusaha meredakan deguban jantungnya yang berdebar keras, "Apa setelah ini mas Alex akan menjauhiku lagi?" tanyanya saat Alex sudah berhenti menggoda bibirnya dan memeluknya erat.
Alex terkekeh pelan, "Kau boleh melemparku dengan high heels kalau aku melakukan hal itu lagi," janjinya.
Aluna langsung mendongak dan menatap tajam mata Alex, "Akan kuingat, mas.. sungguh," jawabnya tegas yang disambut tawa Alex yang renyah.
"Luna," panggil Alex setelah tawanya reda, kedua tangannya menangkup wajah gadis itu dan mengusap pipinya yang halus dengan ibujarinya.
"Mmmh?" hanya itu jawaban Aluna tanpa melepaskan tatapan mata mereka.
Alex menarik nafas panjang, mencoba melonggarkan dadanya yang mendadak menjadi begitu sesak, "Lun... aku mencintai kamu," ucapnya pelan tapi tegas.
Mata Aluna membulat, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. Dia memang berharap Alex memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi mendengar sendiri pengakuan itu dari mulut pria yang dicintainya mau tak mau membuatnya sedikit tak percaya.
"Aku mencintai kamu, Aluna. Karena itu aku begitu takut kehilangan kamu," kata Alex lagi. "Jangan tinggalkan kami, aku dan Ellena mencintaimu, membutuhkanmu," lanjutnya.
Aluna tersenyum, tangannya mengusap lengan Alex yang terasa keras di kulitnya. Sekarang dia sudah yakin kalau apa yang didengarnya saat ini bukan halusinasi, "Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian kalau hatiku saja sepenuhnya telah kalian bawa?" jawabnya.
Alex terdiam, dadanya berdebar lagi dengan lebih cepat, "M-maksudmu..."
"Aku juga mencintai mas Al dan Ellena," jelas gadis itu dengan senyum lebar dan matanya yang berbinar indah.
Alex langsung memeluk Aluna dengan erat, dia membenamkan wajahnya di bahu gadis itu, "Sungguhkah, Lun? Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku apapun yang terjadi," bisiknya dengan nada suara gemetar menahan perasaan.
Aluna mengusap punggung Alex dengan lembut, bagaimana dia bisa bilang tidak kalau dia juga tak ingin kehilangan Alex dan Ellena? "Iya, mas... aku janji," jawabnya.
Alex melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah gadis yang kini telah menjadi kekasihnya itu, "Terima kasih, Lun," katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Aluna.
Aluna memejamkan matanya, bersiap menerima kembali ciuman Alex yang mulai menjadi candu untuknya.
KRRIIIINGG!!!
Suara dering handphone Aluna yang dipasang nada standart mengejutkan mereka, Alex segera menjauhkan wajahnya dari gadisnya.
Aluna tertawa pelan lalu mengambil benda kecil itu dari dalam tasnya. Setelah melihat nama yang tertera di layarnya diapun menggeser logo hijau untuk menjawab panggilan tersebut, "Ya, Bun?" sapa Aluna.
Alex segera mengambil kunci mobilnya dari nakas, ibu Aluna sudah menelpon itu berarti sudah saatnya dia mengantar gadis itu pulang.
"Bunda tanya aku pulang jam berapa, Mas," kata Aluna yang sudah menutup telponnya.
Alex membalikkan tubuhnya dan tersenyum, "Yuk, aku antar kamu pulang," kata pria itu.
Aluna mengangguk, "Aku lihat Ellena dulu, ya? Mas tunggu aja di mobil," katanya.
"Oke," kata Alex yang langsung melangkah menuju pintu keluar rumahnya.
Setelah Aluna mencium kening Ellena yang masih tertidur pulas dia pun menyusul Alex ke mobilnya.
#
"Mas... mas marah ga kalau aku tanya sesuatu?" tanya Aluna saat mereka sudah setengah perjalanan.
Alex memandang wajah Aluna yang hanya dipoles make up minimalis itu, "Kamu mau tanya apa? Tentang Theresia?" tebak Alex.
Aluna mengangguk.
Alex menghela nafas panjang, "Iya tanya aja, kan kamu sudah tahu semua ceritanya," jawab pria itu tanpa melepaskan pandangannya dari jalan raya.
Aluna menggigit kukunya dengan gelisah, "Mas... mmmh, benar-benar sudah... menghapus Theresia dari hati mas?" tanyanya lirih. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan, tapi dia juga tak ingin membuat Alex emosi lagi.
Alex terdiam sebentar lalu tertawa pelan, "Luna... bahkan aku sudah membakar namanya dari sini, bukan menghapusnya lagi," jawab Alex sambil memegang dadanya.
Aluna hanya diam. Dia tak meragukan hal itu, tapi sebaiknya memang dia menayakan hal itu saja daripada bertanya tentang hal yang sensitif untuk Alex.
Alex mengusap puncak kepala gadis itu, "Sebenarnya kamu ingin tahu apa maksudnya kembali menemuiku, kan?"
Aluna langsung mendongak, wajahnya langsung memerah karena Alex bisa membaca isi kepalanya.
Alex tertawa lagi, dia membelokkan mobilnya masuk ke halaman rumah keluarga Pratama dan berhenti di depan teras rumah besar itu. Tapi pria itu tak langsung turun, dia hanya mematikan mesin mobilnya lalu memiringkan posisinya agar bisa berhadapan dengan Aluna. Tangannya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, "Aku tak bisa menceritakannya sekarang, karena ini sudah terlalu larut. Tapi besok aku akan menceritakan semuanya padamu, oke?" jawabnya.
Aluna tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Alex juga nampak begitu lelah dan dia tak ingin memaksa pria itu untuk menceritakan semuanya malam ini.
Alex mencium kening gadis itu sedikit lama, "Sekarang aku akan mengembalikanmu pada kedua orangtuamu, setelah itu kamu langsung tidur, ya?" katanya sambil mengusap pipi Aluna.
Aluna terkekeh pelan, "Yuk, kuantar mas pamit pada Ayah dan Bunda, setelah itu mas pulang dan istirahat. Istirahatkan hati dan kepala mas Alex, dan yakinkan dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja," kata gadis itu sambil mencium pipi Alex yang sedikit ditumbuhi jambang tipis.
Dada Alex terasa begitu hangat, 'Beginikah rasanya dicintai?', bisiknya dalam hati.
BERSAMBUNG
A/N.
Niatnya mau ditamatin, tapi kayanya nambah satu chapter lagi deh buat endingnya, sekalian nyariin si Ilham yang mendadak kabur lagi #orz.
Semoga masih ada yang mau meninggalkan jejak kakinya, terima kasih ^^

Panas dingin bacanya. Akhirnyaa, ga sabar baca endingnya. Jgn sampe Theresia merusak kebahagiaan mrk ya mbak.
BalasHapusahahaha katanya minta yang manis2? ini udah aku kasih. makasih ya mbak... muaaach #peluk2
HapusHuwaaa.. yg ini hepi ending ya mbaaakk... pleeasseee...😘
BalasHapushihihi Sad ending itu seperti momok ya mbak xDD
Hapussiaaappp... makasih jejaknya mbak #peluk2
ko jadi aku yg deg-degan ya? ada apa ya dengan Theresia?? moga gak nyesel udah ninggalin alex ya? hehehe
BalasHapusya ampun mbaaak.... siapa yang ga nyesel sih ninggalin cowok kaya Alex??? Aku aja nyesel klo lama ga nulis dia #eeh ehehehe
HapusMakasih mbak untuk jejaknya #peluk2 ^^
Aleeeexxxxxxx.....akhirnya
BalasHapusThanks mba lluvia
mbaaaaakkk.... (ini ceritanya Alex yang balesin panggilannya :D )
HapusTerima kasih kembali, mbak... #peluk
It should be a happy ending story mbaaaa.....
BalasHapusPasti deh pasti
*Pedeajayaaa
Ilham....ilhamm...cepet pulang yaaaa
ahahaha... paling capek itu bikin sad ending mbak, jadi mudah2an aja kali ini saya kapok bikin tulisan SE xDD
Hapusmakasih ya mbak, yuk bantuin saya nyari ilham, nakal amat itu anak hobi banget kabur :D
Ada rasa manis-manisnya gitu sampe dadaku bergemuruh. Suka sist. Makasih. Semoga ilhamnya ketangkep ya...😃😃
BalasHapushaduuuuh gemuruhnya ngalahin gluduk ntar mbak hehe.. sekarang ga jaman nangkep pokemon, kita berburu ilham aja ya mbak xDD
Hapusmakasih mbak... #peluk2
First, aku ngakak dulu ya...wkwkwkwkwkwkwkk
BalasHapustega kau, tiga kali mesra2an di kagetin melulu. yang pertama cium tangan kena putus klakson, yang kedua lagi hot2nya kau putus pake halilintar yang menggelegar, ketiga si Aluna da siap di kiss eh ada telepon, dasar kau, sukses buat aku ngakak2.
Second, hiks, sedih juga aku ngrasain penderitaannya Alex. sini AL, ku peluk, puk2. emang yang namanya cinta itu kaga bisa dipaksain ya, dan menyesal itu sll di belakang, haiyah.....
Third, waktu ku baca TERE...hatiku langsung jleb...jleb...jleb...gitu juga tu si 'onoh' dipanggil, yaelah pake membuka luka lama segala
finally....ayo ke pelaminan...hush2 (usir tere)...tebar bunga tujuh rupa, hahahhahaa
thanks buat manis2nya yak....love u AL.. #ditabok_Via wkwkwkwkwkwk, muuaaaaaahhhhhh
Ya abis enak aja mereka mau kissing2 terus, dikira authornya ga mupeng apa? Dan gw juga bingung ness kok bisa bikin masa lalu si Al kaya begitu yak? Jadi pengen ngegerus muka Tere beneran #loh xDD
HapusTengkyu ya cin... itu kado kau belom kau buka yak? #tabokbeneran
kapan endingnya mb....gak sabar nih
BalasHapuskapan endingnya mb....gak sabar nih
BalasHapuskapan endingnya mb....gak sabar nih
BalasHapus