Senin, 01 Agustus 2016

Shape Of My Heart

Langkah-langkah cepat terdengar cukup nyaring dari ruangan yang hening itu. Seorang pria berusia 30 tahun yang sebelumnya tampak serius menekuni dokumen di hadapannya segera saja tersenyum sambil menggeleng pelan. Lalu pria berkulit putih dengan kacamata bening yang bertengger di batang hidungnya itu mendongak dan menghitung dalam hati.

"Aaaallll...!!!"

Benar saja, dalam hitungan ketiga pintu ruangannya segera terbuka, dan kepala mungil dengan rambut ikalnya yang panjang muncul dari balik pintu. "Bisakah kau tak berlari di koridor, nona? Aku tak ingin pasienku demo dan meminta pulang karena suara berisik yang kau buat," tegur pria yang dipanggil Al itu tanpa memedulikan sapa dari si pemilik suara.
Al, atau lengkapnya dr. Aldebaran Fathir Raffael, segera saja terkekeh saat wajah ayu yang masih muda itu justru menyeringai.

"Maaf..." ucap sang tamu dengan lirih, tapi tak nampak penyesalan di matanya yang indah.

Dokter yang sudah menyandang gelar Sp.PD atau Spesialis Penyakit Dalam di usia muda itu hanya bisa berdecak melihat ulah Audrey Nathania, putri tunggal pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja itu. "Masuklah, Nat," perintahnya.

Tanpa menunggu perintah kedua kalinya perempuan muda yang usianya sudah menginjak 22 tahun itu segera masuk dan duduk di hadapan Raffa, begitu dia biasa dipanggil, hanya gadis ini yang memanggilnya Al. Wajahnya yang cantik tampak begitu berseri, bibirnya yang hanya dipoles lipstick tipis tampak begitu segar saat senyumnya merekah, senyum yang selalu ingin dijaga oleh Raffa.

Raffa mengangkat satu alisnya saat Audrey masih tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Ya... Audrey adalah panggilan untuk gadis itu dan hanya Raffa yang memanggilnya Nat karena dulu mereka sepakat kalau nama Raffael dan Audrey cukup melelahkan untuk diucapkan, kesepakatan yang konyol menurut Raffa, tapi entah kenapa dia suka saat gadis itu memanggilnya Al, tanpa embel-embel kakak, mas, atau sebagainya. Tidak akan pernah terdengar kurang ajar di telinganya, justru Raffa merasakan sebuah kedekatan yang cukup istimewa. Bermimpikah dia? Entah.

"Kalau kedatanganmu ke sini cuma untuk melihat wajahku saja kan bisa nanti? Tak harus mengganggu pekerjaanku sekarang, Nat," tegur Raffa yang kembali mempelajari hasil diagnosa pasien di hadapannya.

Pria itu cukup terkejut saat Audrey justru menjauhkan dokumen itu dari jangkauannya, " Al... dengar dulu. Aku kan belum cerita?" rajuknya.

Raffa menghela nafas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya saat melihat perempuan muda yang cantik di hadapannya itu cemberut, "Lalu kenapa dari tadi diam saja? Aku pikir kamu cuma rindu denganku," ucap Raffa acuh tak acuh.

"Iiiih pede banget sih, Al?" jawab Audrey kesal.

Raffa hanya terkekeh pelan. Lalu pria itu melepas kacamatanya dan mulai menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tanda kalau dia siap mendengarkan cerita Audrey.

Merasa kalau pria itu sudah tak berniat mengusilinya lagi Audreypun memajukan tubuhnya, lalu menyangga tangannya di atas meja. "Al.. lihat ini," katanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan pria yang selalu mendengarkan semua ceritanya dengan sabar itu.

Jantung Raffa seakan berhenti berdetak saat melihat sebuah cincin emas melingkar di jari manis gadis itu. 
Pria itu segera mengatur laju nafasnya agar tak terasa mencekik lehernya, "Pedro sudah melamarmu? Selamat, kalau begitu," katanya berusaha santai.

Audrey hanya mengangkat bahu, "Entahlah... dia hanya memberikan ini sebagai hadiah, katanya. Tapi tak bilang kalau dia akan melamarku," ucapan gadis itu membuat Raffa merasa sedikit lega. 
"Apa menurutmu dia melamarku, Al?" tanya Audrey.

Kali ini Raffa yang mengangkat bahunya, "Kenapa tak kau tanya sendiri ke orangnya? Mana kutahu apa maksudnya membelikan itu untukmu," Jawabnya tak peduli sambil kembali memakai kacamatanya dan meraih dokumen yang tadi sempat diabaikannya.

Audrey terlihat kesal. Raffa memang memiliki sifat yang dingin dan tak banyak bicara, tapi itu berlaku untuk orang lain. Dengannya yang sudah saling mengenal selama delapan tahun semenjak pria itu menjadi mahasiswa S2 kesayangan ayahnya membuat hubungan mereka sudah bukan seperti orang lain lagi. Raffa sudah seperti sosok kakak untuknya, teman dan sahabat yang selalu sabar meladeni semua keluh kesahnya. Raffa juga yang selama ini sering membantunya belajar hingga nilainya mampu membuat kedua orangtuanya bangga.

"Tapi aku kan minta pendapatmu, Al?! Kalau tak mau lagi mendengarku ya sudah... aku pergi saja," rajuk Audrey sambil meraih tas tangannya yang tadi diletakkan di kursi sebelahnya lalu berdiri. Raffa memang selalu sabar menghadapi tingkahnya, tapi kalau berhubungan dengan Pedro entah kenapa Audrey selalu merasa kalau Raffa agak malas menanggapinya.

Raffa memandang gadis yang sudah berdiri itu. Dalam hati dia tertawa melihat wajah cemberut Audrey yang selalu tampak menggemaskan di matanya. Gadis semata wayang dari seorang pria yang begitu dikaguminya semenjak dia mengambil kuliah S2 nya, gadis yang dikenalnya saat dia masih mengenakan seragam putih biru. Gadis yang ceria dan selalu tersenyum. Yang tawanya mampu memeriahkan dunianya yang sepi tanpa orangtua pun sanak saudara. Hingga entah sejak kapan gadis itu telah menjadi pusat dunianya, dimana dia begitu ingin menjaga senyum juga tawa dan binar bahagia di matanya yang indah.

"Kok malah diam? Bukannya berusaha menahanku agar tak pergi!"

Gerutuan Audrey membuyarkan lamunan Raffa, "Loh kalau memang mau pergi ya pergi saja. Kau tahu sendiri kan kalau pekerjaanku juga sedang banyak?" jawab Raffa masih dengan nada tak peduli walau dalam hati dia terkikik geli.

"AAALLLLLLLL..... KAMU NYEBELIN BANGET SIH??!!!"

Teriakan Audrey tak mampu lagi membendung tawa pria itu, dia terbahak dengan begitu kerasnya hingga bahunya terguncang. Memang hanya Nat-nya yang mampu membuatnya tertawa seperti ini.
Pria itu memajukan tubuhnya lalu menarik lembut tangan Audrey agar kembali duduk.

Audrey masih kesal, tapi dia tak ingin menepis genggaman pria itu. Dia tahu kalau Raffa hanya bercanda dan sebentar lagi pasti akan meminta maaf padanya.

Raffa masih terkekeh, dengan lembut diusapnya tangan dalam genggamannya itu, "Maaf ya, Nat? Aku cuma bercanda," katanya pada gadis yang saat ini tengah bekerja di salah satu perusahaan asuransi ternama itu.

'Binggo... I'm a winner!' seru Audrey dalam hati. Tapi dia tak ingin luluh begitu saja, dia harus bertahan sebentar lagi dengan wajah cemberutnya agar pria itu semakin merasa bersalah.

Tiba-tiba pintu kantor Raffa terbuka. Seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah berkepala lima itu masuk tanpa permisi seakan yang dia lakukan itu sudah biasa.

"Papa...!!" seru Audrey yang segera berdiri dan berlari untuk memeluk pria yang dipanggilnya Papa itu.

"Selamat siang, Profesor Eric," sapa Raffa sopan sambil berdiri.

Eric menjawab sapa Raffa dengan anggukan dan senyum ramahnya, lalu pria itu menepuk lembut punggung putrinya, "Kau tahu, sayang? Teriakanmu terdengar hingga ujung koridor. Papa pikir Raffa memasukkan Tarzan wanita ke kantornya, makanya papa langsung ke sini," godanya yang langsung disambut kekehan Raffa.

Segera saja wajah Audrey kembali cemberut, setelah Raffa memang ayahnya lah yang menduduki posisi kedua yang gemar menggodanya, "Jadi Papa senang punya anak gadis seperti Tarzan?" rajuknya.

Eric tertawa geli sambil membimbing anak gadisnya untuk kembali duduk di depan Raffa dan dia mengikuti di sampingnya. Setelah kedua orang itu duduk Raffa pun ikut duduk sambil merapikan mejanya dari tumpukan dokumen yang cukup mengganggu.

"Kalau Tarzan-nya secantik ini papa tak akan keberatan kok kalau dia jadi putri Papa, iya kan, Raffa?" lanjut Eric sambil mengerling ke arah anak gadisnya yang masih cemberut. Sementara Raffa hanya menjawab dengan tawa pelannya yang renyah.

Dan Audrey masih bersikukuh dengan wajah cemberutnya.

"Jadi... apa yang membuat anak gadis Papa begini? Kemana senyumnya?" Tanya Eric dengan sabar.

Audrey menatap kesal pada Raffa yang masih berusaha menahan tawanya, "Al tuh, Pa. Aku cuma memperlihatkan cincin yang diberikan Pedro lalu meminta pendapatnya apakah Pedro melamarku? Tapi Al malah bikin kesal," jawab gadis itu.

Eric tampak terkejut, matanya otomatis memandang ke arah jari manis putrinya dan melihat sebuah cincin yang asing di sana. "Apa Pedro melamarmu?" tanyanya dengan nada mengambang.

Lagi-lagi Audrey mengangkat bahunya, "Aku sendiri bingung. Pedro bilang ini hadiah untukku, tapi tak ada kata-kata melamar. Apa menurut Papa dia melamarku?" tanya Audrey penuh harap.

Kali ini binar bahagia di mata gadis itu menciptakan sayatan tajam di jantung Raffa.

Eric sedikit mendengus, "Kenapa tak kau tanya sendiri pada kekasihmu itu?"

Audrey mendelik, "Kok jawaban kalian sama sih? Janjian dulu ya?" tuduh gadis itu sambil bergantian menatap ayahnya dan Raffa penuh selidik.

Kedua pria itu kembali tertawa bersamaan, dan kembali berhasil membuat satu-satunya gadis yang berada di ruangan itu kesal.

"Tentu saja kami tidak tahu, sayang. Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada Pedro? Bukankah cincin itu darinya?" jawab Eric setelah tawanya reda.

Audrey menggigit bibirnya dan tampak berpikir. 

Sementara Eric melirik sekilas pada Raffa yang tengah sibuk menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja. Pria itu bukan tak tahu kalau Raffa menaruh hati pada putrinya, tapi Raffa tak pernah ingin memaksakan perasaannya pada Audrey, sikap yang membuat dia dan istrinya semakin sayang pada pria itu dan berharap kelak Audrey bisa memberikan hatinya pada Raffa. 
Kekasih Audrey, Pedro, di matanya hanyalah anak orang kaya yang berotak kosong. Tapi dia sendiri tak sampai hati jika putrinya bersedih mendengar pendapatnya tentang pria yang sudah menjadi kekasihnya selama lima bulan ini. 

"Tapi aku gengsi, Pa," suara Audrey memecah lamunan kedua pria di ruangan itu.

Eric menatap putrinya dengan heran.

"Iya lah, kami baru pacaran lima bulan, kalau aku tanya apa maksudnya memberikan cincin ini nanti dipikirnya aku terlalu besar kepala. Biar deh, kalau memang niatnya melamar pasti dia bilang kan, Pa? Al?" Lanjut gadis itu.

Raffa hanya mengangguk dan tersenyum, padahal hatinya berontak dan ingin segera meninggalkan ruangannya sendiri.

"Apa kamu berharap Pedro segera melamarmu, sayang?" Tanya Eric.

Audrey diam sejenak lalu mengangkat bahunya, "Aku sendiri bingung, rasanya memang terlalu cepat sih, tapi kalau memang iya..." gadis itu menghentikan ucapannya, tapi dari pipinya yang merona dan senyum malu-malunya yang berusaha disembunyikannya, kedua pria itu tahu bagaimana kelanjutannya.

Entah kenapa Eric tak suka melihat dua keadaan di ruangan ini. Melihat putrinya yang tampak menaruh harapan lebih pada pria yang bahkan tak memiliki nilai plus sama sekali di matanya, dan melihat luka di mata Raffa yang selama ini telah menjadi anak emasnya dimana dia berharap pria itulah yang kelak dapat menjaga dan mendampingi putri tunggalnya.
Pria yang telah berumur setengah abad itu menghela nafas panjang, lalu dia menyerahkan sebuah amplop coklat yang sejak tadi dipegangnya kepada Raffa sebagai pengalih suasana tak nyaman di ruangan itu.

Raffa mengerutkan keningnya sambil menatap pria yang begitu dihormatinya tersebut. Begitupun dengan Audrey.

"Pengajuan S3-mu sudah disetujui, Raffa," Eric menjawab pertanyaan tak tersurat dari pria itu.

Mata teduh pria itu segera berbinar, "Benarkah, Prof?" tanyanya seakan tak percaya.

Eric mengangguk, "Dua bulan lagi kau sudah bisa berangkat, dan aku akan segera mencari penggantimu di sini."

Raffa sudah membuka mulutnya untuk bicara, tapi Audrey memotong obrolan mereka, "Kenapa Papa mencari pengganti Al? Memangnya Al mau kemana? Kenapa posisinya harus digantikan?"

Eric tersenyum lembut pada putrinya, "Al-mu akan melanjutkan study-nya ke Jerman selama beberapa tahun, sayang."

Gadis itu membuka mulutnya tapi tak bersuara, kata-katanya seakan hilang oleh rasa terkejutnya. Raffa akan pergi dan dia tak tahu apapun tentang hal itu, dia merasa sudah dibodohi oleh orang yang sudah begitu dekat dengannya. Segera saja Audrey berdiri dan menatap tajam pada pria yang selama ini selalu menggoda sekaligus memanjakannya itu, "Kapan? Kenapa kau tak pernah bilang apa-apa?" tanyanya dengan marah. Matanya yang bening tampak berkaca-kaca. Membayangkan tak ada Raffa di sisinya entah kenapa membuatnya begitu takut. Tapi pria yang sama sekali tak pernah menyinggung perihal kepergiannya itu juga telah membuatnya terluka.

Raffa tampak terkejut dengan kemarahan gadis itu, "Nat, maaf... aku berniat mengatakan ini kalau sudah ada jawaban, dan aku baru mendengarnya sekarang," jelas Raffa. 

Audrey kembali meraih tasnya dan segera keluar dari ruangan Raffa tanpa mencium pipi ayahnya seperti kebiasaannya selama ini. Dengan kesal dibantingnya pintu ruangan dokter penyakit dalam itu hingga suaranya menggema keras.

Raffa melepas lagi kacamatanya lalu mengusap wajahnya dengan resah.

Eric hanya menggeleng melihat tingkah putrinya. "Biarkan saja, Raffa. Sisi egoisnya pasti tak suka jika harus berjauhan denganmu. Biar saja," ucap pria itu berusaha menenangkan Raffa.

Raffa mendesah, "Maaf, saya telah membuatnya marah, Prof."

Eric menggeleng sambil berdiri, "Jangan terlalu memikirkan gadis kecilku, persiapkan saja semua untuk keberangkatanmu ke Jerman. Ingat... ini cita-citamu, kan?"

Raffa ikut berdiri, dia menatap tegas mata pria di hadapannya tersebut, "Baik, Prof. Terima kasih," ucapnya sambil menjabat tangan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu.

"Nanti malam Lidya memintamu datang ke rumah untuk makan malam, sekalian merayakan persetujuan study-mu, bisa?" tanya Eric yang menyampaikan pesan dari istrinya.

Raffa tersenyum dan mengangguk, "Tentu, Prof," jawabnya. Dan ruangan itu kembali hening saat Eric telah meninggalkannya sendiri.

Ditatapnya ponsel di atas mejanya, dia meraih pelan benda kecil berwarna hitam itu lalu mengusap layarnya yang menampilkan foto dirinya yang duduk berdampingan dengan Audrey saat mereka berlibur ke Bali tahun lalu bersama keluarga gadis itu.

Raffa menatap lurus foto gadis cantik dengan rambut ikalnya yang tergerai dipermainkan angin saat mereka tengah menikmati minuman kelapa muda di pinggir pantai. Kepalanya bersandar manja di bahunya yang besar. Bibirnya cemberut karena tangannya menarik hidung gadis itu sehingga foto mereka terlihat lucu. 
Tubuhnya yang mungil tampak semakin kecil jika berada di dekatnya yang memiliki postur tubuh cukup tinggi. Warna kulit mereka hampir sama, karena mereka sama-sama terlahir dari wanita keturunan China. Hanya saya kedua orangtuanya lebih dulu dipanggil Tuhan. Ibunya meninggal dua tahun setelah melahirkannya, dan ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Masa-masa sulit dimana dia harus bekerja keras demi menyelesaikan pendidikannya. Dan pada akhirnya Tuhan memberikan banyak kemudahan padanya saat ini, terutama kemudahan finansial yang dia dapatkan dari pekerjaannya selama menjadi dokter.

Raffa menghela nafas panjang, dengan pelan dia menekan sederetan angka yang sudah dihapalnya di luar kepala untuk menghubungi gadis yang fotonya terpampang sebagai latar belakang layar ponselnya tersebut. Terdengar nada sambung sekali, dua kali, hingga beberapa kali, tapi Audrey tak juga menjawab panggilannya. Akhirnya Raffa memilih untuk memutus telponnya dan mencoba kembali konsentrasi dengan pekerjaannya.

●

●

"Raffa... bagaimana kabarmu? Lama tak berkunjung ke sini," sapa Lidya, wanita paruh baya yang wajahnya begitu mirip dengan gadis yang begitu berarti baginya.

Raffa membalas pelukan wanita itu dan memberikan kecupan di pipinya yang masih tampak kencang dan merona itu, "Baik, bu. Maaf... akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus saya selesaikan," jawab pria berkacamata itu dengan sopan.

"Maklum lah, Ma... Raffa sudah menjadi dokter idola di rumah sakit, dan pasiennya juga semakin banyak saja," Eric yang baru keluar dari ruang tengah segera menimpali.

Raffa tersenyum, "Suatu keberuntungan bagi saya, Prof," jawabnya sambil menyalami dan memeluk singkat pria itu.

"Dimana Audrey, sayang?" tanya Eric setelah mereka bertiga duduk di ruang tamu. Kepala keluarga itu memilih duduk di sofa tunggal, begitupun dengan Raffa. Sementara Lidya duduk di sofa panjang.

Lidya tampak melihat ke halaman lalu mendesah keras, "Katanya tadi dia akan segera pulang, tapi kenapa belum datang juga ya?" tanyanya hampir kepada dirinya sendiri.

"Nat pergi kemana, Bu?" tanya Raffa.

Lidya menggeleng pelan, "Tadi dia bilang mau pergi dengan Pedro, tapi ibu kurang tahu mereka pergi kemana."

Raffa menghela nafas panjang. Jawaban Lidya membangunkan luka yang sejak siang tadi berusaha diredamnya.

Tak lama tampak sorot lampu sebuah mobil memasuki pekarangan rumah yang luas itu. Menyusul bunyi berdebam pintu mobil yang ditutup kemudian suara langkah-langkah kaki yang sedikit bergema dari teras rumah.

"Maaaa...."

Suara Audrey menggema di rumah yang besar itu, tak lama wajah cantiknya muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang tamu dan teras.
Ada hangat terpancar dari mata teduh dr. Raffa, lega melihat gadisnya telah tiba di rumah dengan selamat. Tapi hangat itu kemudian membeku kala seorang pria muda dan tampan mengikuti langkah pujaan hatinya.

"Darimana saja kamu, sayang? Kan mama sudah bilang kalau malam ini Mama mengundang Raffa untuk makan malam bersama kita?" tegur sang Bunda saat putri sematawayangnya sudah duduk di sampingnya sembari memeluk lengannya dengan manja. Sementara Pedro duduk di sofa tunggal di samping Raffa.

Audrey sengaja tak memandang Raffa, dia masih kesal pada pria itu. Rasa sakit hati karena diabaikan membuatnya ingin membalas Raffa sesakit-sakitnya.
"Pedro mengajakku jalan-jalan dan makan malam di luar," jawab gadis itu santai seakan tak merasa bersalah kalau semua orang tengah menunggunya datang.

"Kamu sudah makan malam?" tanya Eric, lebih pada penegasan, sambil menahan geram melihat tingkah putrinya yang masih saja tak menghiraukan Raffa, juga geram melihat Pedro yang seakan-akan tak melihat ada dia dan istrinya di ruangan itu dengan tak menyapa atau memberi salam sebelum pria muda itu langsung memilih duduk di antara mereka.

Gadis dengan bola mata bulat indah itu menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.

"Bagaimana bisa kamu sudah makan di luar padahal jelas sekali tadi Papa dan Mama bilang kalau kamu harus makan malam di rumah, Audrey?! Kita akan merayakan diterima persetujuan study Raffa!" tegur Lidya sedikit keras.

Gadis itu mulai tampak kesal karena kedua orangtuanya seakan tak suka melihat dia pergi dengan Pedro, "Memangnya kenapa? Wajar kan kalau aku pergi dengan pacarku, Ma? Lagipula Raffa juga sudah sering makan malam bersama kita, lalu dimana istimewanya?"

Ucapan Audrey menusuk tepat di jantung Raffa, 'Ya, dimana istimewanya?' ulangnya dalam hati. Tapi dia tak menjawab, dokter muda itu memilih diam sambil meremas kedua tangannya. Ditelannya sakit hatinya dengan begitu dalam. Nat sudah memilih, batinnya.

Melihat Raffa yang hanya diam Audrey mulai merasa bersalah, dia menyadari kalau kata-katanya mungkin terlalu kejam untuk pria yang selama ini begitu dekat dengannya itu, tapi dia gengsi untuk meminta maaf.

"Maaf, Om... Tante, tadi saya mengajak Audrey makan di restoran bintang lima terkenal di kota ini. Saya ingin menunjukkan pada Audrey dimana saya dan keluarga saya sering makan," akhirnya kekasih Audrey buka suara setelah sejak tadi dia sibuk memainkan handphone-nya.

Eric hanya menghela napas panjang, selalu saja Pedro memamerkan tahta keluarganya di depan mereka, hal yang justru membuat nilai minus pria itu bertambah di matanya.
"Baiklah, kita makan malam bertiga saja. Ayo sayang, Raffa," putus pemilik Rumah Sakit terbesar di kotanya itu sambil berdiri sambil mengajak istrinya dan murid kesayangannya.

Raffa mengangguk lalu mengikuti langkah dua tuan rumah yang sudah berjalan di depannya. Dokter tampan itu masih sempat melirik pada gadis cantiknya yang masih merajuk, tapi gadis itu seakan semakin enggan menatapnya.

"Sayang, aku pulang, ya? Papa barusan bbm kalau aku harus ikut rapat pemegang saham sekarang juga," kata Pedro setelah hanya tinggal dia dan Audrey di ruangan itu.

Audrey mengernyit heran, "Rapat? Ini kan sudah malam?" tanyanya.

Pedro beranjak dan berpindah duduk di samping kekasihnya, dia melirik pada jam tangan mahal yang melingkar di tangan kirinya, "Tak ada kata malam untuk para pengusaha besar seperti Papaku, sayang. Dan sebagai ahli warisnya aku harus mulai terbiasa sejak sekarang. Kan untuk kamu juga nantinya?" rayu pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

Merasa begitu lelah dan masih menyimpan rasa bersalah Audrey pun akhirnya mengangguk saja.

"Sampai besok, ya? Besok aku akan membawamu ke tempat yang istimewa dan terkenal lagi, sayang," pamit Pedro sambil mengecup sekilas kening Audrey yang akhirnya tersenyum juga setelah beberapa saat cemberut.

Audrey hanya melihat punggung kekasihnya yang melangkah pergi dan menghilang di balik pintu. Dia mendesah keras saat suara mobil pria itu meraung dan perlahan menjauh.
Audrey menyandarkan punggungnya dengan nyaman sembari memeluk erat bantal sofa yang besar dan lembut, matanya nanar menatap lampu kristal yang menyala indah di atasnya. Baginya Pedro adalah pria yang sangat baik dan begitu memanjakannya, tapi entah kenapa dia merasa kalau kedua orangtuanya tak menyukai pilihannya itu. Malah dia merasa kalau kedua orangtuanya lebih memperhatikan Raffa daripada kekasihnya. Ya memang sih Raffa telah lama mengenal keluarga mereka, tapi kan tak seharusnya kedua orangtuanya bersikap pilih kasih begitu? Batin gadis itu yang mulai kembali merasa kesal oleh pemikirannya sendiri.

'Apakah benar Raffa yang selama ini menghasut orangtuanya agar tak menyukai Pedro?' tanyanya dalam hati. Dia teringat kata-kata Pedro di restoran tadi yang mengatakan kalau Raffa lah yang membuat kedua orangtuanya tak menyukai kedekatannya dengan putra tunggal pengusaha sukses itu.
Audrey segera menggeleng keras, 'Tidak, Al tak mungkin berbuat seperti iu. Al menyayangiku seperti adiknya sendiri. Tak ada alasan untuk dia berbuat begitu,' bantahnya dalam hati. Tapi kalau mengingat sikap Raffa yang selalu enggan menanggapi setiap celotehannya yang berhubungan dengan Pedro bisa saja dia memang tak menyukai kekasihnya itu, pikir Audrey lagi yang segera menenggelamkan wajahnya di bantal sofa yang tengah dipeluknya itu sembari menggeram pelan. Dia tak ingin berpikir buruk tentang pria yang telah dianggapnya kakak itu, tapi penilaian Pedro tentang Al-nya mau tak mau membuat pikirannya bercabang.

Dia menyayangi Raffa, selalu merasa nyaman setiap kali berada di dekat pria itu. Dia ingin Raffa selalu ada untuknya, memanjakannya setiap saat. Dia tahu kalau dia telah begitu bergantung pada setiap perhatian Raffa, juga menikmati kesabaran Raffa dalam menghadapi semua tingkah egoisnya. Tapi saat ini hatinya tengah berperang. Kata-kata Pedro membuatnya meragukan ketulusan Raffa, dan rencana kepergian Raffa tanpa sepengetahuannya ini juga membuatnya merasa kalau Raffa memang tak sepenuhnya menganggapnya berharga.

Lamunan Audrey buyar saat didengarnya langkah-langkah kaki dari ruang makan. Segera saja dia menegakkan punggungnya dan kembali memasang wajah beku.

"Persiapkan semuanya dengan baik, Raf," suara Lidya terdengar saat mereka tengah memasuki ruang tamu dimana Audrey masih duduk di tempatnya semula. "Katakan kalau kamu memang butuh bantuan kami, kami akan selalu siap untuk kamu."

Audrey menoleh pada tiga orang dewasa yang tengah berdiri sambil mengobrol itu, memperhatikan betapa sayangnya kedua orangtuanya pada Raffa. Ada rasa iri dalam hatinya, iri akan sikap keduanya yang jauh berbeda saat ada Pedro di tengah-tengah mereka.

"Jangan sungkan kalau kau membutuhkan sesuatu, Raffa. Aku sudah menghubungi temanku di Jerman yang akan menyiapkan apartemen untukmu," sambung Eric sambil menepuk lembut bahu pria yang telah dididiknya selama ini.

Raffa tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih, Prof. Maaf selama ini saya sudah banyak merepotkan keluarga di sini," katanya.

"Sama sekali tak merepotkan, Raffa. Kami justru senang bisa mengenalmu dan sudah menganggapmu sebagai keluarga kami sendiri," jawab Lidya.

Audrey mendengus, 'Ini keterlaluan,' batinnya saat dia merasa kalau Raffa sama sekali tak ingin melihat ke arahnya, bahkan terkesan kalau dia tak menganggapnya ada di situ.
"Kalian tak adil!" seru Audrey sambil berdiri.

Ketiganya akhirnya menatap gadis itu dengan pandangan heran.

"Apa maksudmu, sayang?" tanya Lidya bingung.

Audrey berjalan mendekati mereka dengan memasang wajah geram, "Kalian tak adil," ulangnya. "Kehadiran Pedro tak pernah kalian anggap berarti di rumah ini, tak pernah kalian mengajaknya berbicara sehangat ini, padahal dia adalah kekasihku!" serunya lagi dengan kesal.

Wajah Raffa menegang, dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan gadisnya.

"Sikap kalian pada Al sungguh jauh jika dibandingkan dengan sikap kalian pada Pedro. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan pada kalian?! Apakah dia selalu berkata buruk tentang Pedro?!" tanya keras Audrey sambil menunjuk Raffa.

Wajah ketiganya tampak terkejut, mereka tak menyangka kalau gadis yang mereka kenal selama ini mampu berkata begitu pada Raffa, pria kesayangannya.

"Nat..."

"Jangan pernah memanggilku Nat lagi!!" Audrey memotong kata-kata Raffa.

Kata-kata Audrey kali ini benar-benar menghujam jantung Raffa dengan sempurna.

"Audrey!! Jaga sikapmu!!" kata Eric yang nyaris berupa bentakan.

Audrey tersentak, dia sebenarnya tak ingin berkata seperti itu pada Raffa, dan melihat luka di mata teduh pria itu membuatnya begitu menyesal. Tapi sekali lagi sifat egonya menang, "Kalau kau ingin pergi... PERGI SAJA SEJAUHNYA!!!" teriaknya pada Raffa sebelum dia berlari ke lantai dua dan membanting pintu kamarnya dengan begitu keras.

Lidya menutup mulutnya yang menganga karena terkejut melihat sikap putrinya pada Raffa, sementara raffa berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya sendiri.
'Sudah, kah? Apakah ini adalah akhir dari segalanya?' tanyanya dalam hati yang tengah memeluk luka.

"Raf... maafkan Audrey, ya? Mungkin dia sangat kesal karena kamu tak pernah memberitahukan dia perihal kepergianmu untuk melanjutkan study," hibur Lidya dengan raut muka yang begitu segan.

"Dia masih begitu kekanakan. Entah apa yang dilakukan pedro pada otaknya," lanjut Profesor Eric.

Raffa mencoba tersenyum, "Tak apa, mungkin memang saya yang salah. Selama ini saya tak pernah menyembunyikan apapun darinya. Saya bermaksud memberitahukannya sendiri setelah persetujuannya keluar, tapi ternyata tak seperti yang saya bayangkan," jawabnya miris.

Eric dan Lidya hanya diam saja dan saling memandang.

"Dan... saya mohon untuk tidak menyalahkan Pedro di hadapannya. Nat..." Raffa menghentikan kata-katanya sesaat seakan dia tengah menyebutkan sesuatu yang salah, "Audrey sudah menentukan pilihannya, mungkin apa yang kita pikirkan tentang Pedro selama ini salah," lanjutnya sambil menahan perih di hati.

Eric berdecak, "Tak usah membelanya, dia saja yang keras kepala. Entah apa yang dilihatnya pada diri si anak orang kaya itu," sindir sang Profesor yang ditanggapi anggukan istrinya.

Raffa menghela nafas panjang, dia menatap ke lantai dua dimana pintu kamar Audrey terlihat dari ruang tamu. Pintu kamar yang biasanya bisa dimasukinya kapan saja bahkan tanpa perlu mengetuk kini tampak seperti tembok tebal yang memisahkan dia dari gadis yang selama ini telah menempati hatinya.

"Kau tak ingin memberitahunya, Raffa?" tanya Lidya.

Raffa tak menjawab, matanya masih terpaku pada pintu kamar Audrey.

"Raffa... sebaiknya kamu bilang kalau minggu depan kamu sudah harus berangkat ke Jerman," lanjut wanita separuh baya yang masih tampak cantik itu.

Raffa mendesah dan menggeleng pelan, "Tidak usah, Bu. Saya tak ingin membuatnya semakin marah," jawabnya.

Eric menepuk pundak Raffa dengan lembut, "Pulanglah, sebaiknya kau beristirahat dan menyiapkan semuanya untuk keberangkatanmu," ujarnya.

Kali ini Raffa mengangguk lalu berpamitan pada keduanya. Eric dan Lidya mengantarkan dokter muda itu hingga ke teras rumah besar mereka.

"Sungguh Mama berharap dialah yang akan menjadi menantu di rumah ini, Pa," bisik Lidya setelah mobil Raffa berlalu dari halaman rumah mereka.

Eric mendesah pelan, "Papa juga mengharapkan hal yang sama. Tapi bukan kita yang menentukan, Ma... biar Audrey yang menentukan pilihannya sendiri."

Sang istri mengangguk enggan lalu memeluk dada bidang suaminya dengan penuh kasih sayang, "Mama hanya berharap, semoga Tuhan mendengarkan permohonan Mama," bisiknya lagi.

"Amin, Ma," jawab Eric sambil menggiring istrinya untuk masuk ke dalam rumah.

●

●

Enam hari berlalu sejak pertengkaran di rumah Audrey, dan Raffa sama sekali tak mencoba mencari tahu bagaimana keadaan gadis itu. Dia ingin mencoba mengobati lukanya secara perlahan. Ditepisnya rindu yang membuncah dengan menghabiskan waktu di Rumah Sakit untuk bekerja dan bekerja, dia harus mulai membiasakan diri dengan ketidak hadiran gadis itu di sisinya. Dan selama enam hari pula Audrey sama sekali tak menghubunginya.
Setiap malam Raffa hanya mampu menatap foto-foto gadis itu di ponselnya, memutar ulang semua rekaman video mereka, menikmati gelak canda dan senyuman gadisnya dalam diam. Dia begitu kehilangan, seakan raganya tak memiliki jiwa lagi, semua terasa hampa.

Pria tampan dengan kacamata beningnya itu mendongak saat dia mendengar ketukan di pintu ruangannya, "Masuk!" perintahnya.

Seorang wanita muda berbaju perawat masuk dengan sopan sambil menganggukkan kepalanya, "Maaf, dokter Raffa... sekarang waktunya untuk visite pasien, dan setelahnya Profesor Eric meminta dokter untuk ke ruangannya," sampai sang perawat dengan jelas.

Raffa memandang jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah terlalu siang, dan dia sama sekali tak menyadari berapa waktu yang dia lewatkan untuk memeriksa laporan medis pasein-pasiennya ini. "Baiklah, tolong siapkan semua yang harus saya bawa, ya?" katanya sambil menutup map merah yang sejak tadi tengah diperiksanya.

"Baik, dokter," jawab sang perawat sebelum menutup pintu ruangan Raffa.

●

"Sudah semua? Apa ada pasien yang belum saya kunjungi siang ini?" tanya Raffa saat dia tengah berada di ruangan perawat dan meletakkan stateskop-nya di salah satu meja di sana. Raffa mengernyit saat dilihatnya enam orang wanita di ruangan itu terdiam semua sembari menatapnya, "Ada sesuatu?" tanyanya heran.

Seorang perawat yang paling senior maju dan mendekati Raffa dengan mata berkaca-kaca, "Ini hari terakhir dokter di sini, selamat jalan ya, dok... sukses untuk study-nya di Jerman," ucap si perawat sambil mengulurkan tangan, dan airmatanya tumpah saat Raffa membalas jabatan tangannya.

Pria itu tersenyum haru, "Terima kasih untuk kalian semua karena telah banyak membantu saya selama bekerja di Rumah Sakit ini. Doakan study saya cepat selesai dan saya berjanji akan kembali ke sini, lalu kita akan bekerja bersama lagi," ucapnya sambil bergantian menyalami para perawat di divisi penyakit dalam.

"Kapan pengganti dokter akan mulai bekerja di sini, dok?" tanya si perawat senior itu lagi.

"Dua hari lagi dokter Danny akan datang, jadi sampai beliau datang posisi saya akan digantikan oleh Profesor Eric," jawab Raffa.

"Semoga dokter Danny nanti akan sebaik dokter Raffa," ucap salah seorang perawat di ruangan itu.

Raffa tertawa renyah, "Sekarang saja saya mau pergi kalian bilang baik, sebelumnya juga kalian sebut saya dingin," sindirnya sambil bercanda, dan gelak tawa tercipta di ruangan yang tadinya sendu itu.

Audrey yang hendak menuju ke kantor ayahnya mengernyit saat melihat Raffa bercanda di ruang perawat, hal yang selama ini jarang dilakukannya. Gadis itu berhenti sebentar di dekat lift yang terletak begitu dekat dengan ruangan perawat dimana Raffa berada. Dan entah kenapa dia semakin bertambah kesal pada pria itu. Enam hari tanpa kabar dan Raffa sama sekali tak tampak sedih, justru dia tampak begitu bahagia.
Sambil menghentakkan kakinya gadis itupun meneruskan langkahnya menuju kantor sang pemilik Rumah Sakit.

●

Setelah berpamitan dengan para perawat Raffa pun berjalan untuk menemui Profesor Eric, di depan lift langkahnya terhenti. Pelan dia menghirup dalam udara di sekitarnya, hidungnya sekilas mencium parfum yang selalu digunakan Audrey. Segera saja pria itu menggelengkan kepalanya dan menepis bayangan yang sempat hadir di otaknya. Selalu Audrey, Audrey, dan Audrey. Entah kapan sosok gadis itu akan pergi dari hidupnya.
Mungkin tak akan pernah.

Dalam setiap langkahnya dia selalu memikirkan Audrey Nathania, gadis cantik yang sudah melekat kuat dalam dirinya. Besok dia akan pergi jauh untuk waktu yang sangat lama, lalu sekejam apa rindu akan menyiksanya nanti?
Sambil menghela nafas panjang pria itu menatap lurus ke depan, ke ruangan pimpinannya yang pintunya sedikit terbuka.

●

"Pa... besok orangtua Pedro ingin mengundang Papa dan Mama untuk makan siang di Restoran Hotel Royal Crown, bisa kan?" tanya Audrey.

Eric tak menghentikan kegiatannya memeriksa dokumen di hadapannya, 'Pedro lagi', desahnya dalam hati.

"Pa!! Dengar ga sih?" tanya Audrey dengan kesal.

Eric akhirnya menatap putri sematawayangnya itu, "Entahlah, Besok Raffa akan..."

"Raffa lagi!!! Sedikit sedikit Raffa. Aku tak mau tahu lagi soal Raffa-nya Papa dan Mama itu!!!" sergah Audrey dengan suara yang cukup keras.

Eric ingin menjawab tapi kata-katanya tertelan saat dia melihat sosok Raffa sudah berdiri di depan pintu ruangannya yang sejak tadi memang tak tertutup rapat. "Raffa... masuklah," katanya tanpa melepaskan pandangannya pada pria yang tampak begitu terluka itu.

Audrey segera saja memutar kepalanya, mencari sosok yang dipanggil Ayahnya pada pintu yang terletak di belakangnya, dan dia membeku saat melihat Raffa di sana. Ingin rasanya dia mengutuki dirinya sendiri, selalu saja dia lepas kendali jika berhubungan dengan pria itu.

Seakan tak mendengar apapun pria itu masuk ke dalam ruangan Eric, "Maaf mengganggu, apakah Profesor mencari saya?" tanyanya sopan tanpa memandang Audrey, dia tak ingin gadis itu melihat kepedihan di matanya.

Eric mengangguk, "Saya hanya ingin kau menyerahkan semua berkas, Raffa. Agar besok sebelum..."

"Baiklah, Prof... setelah ini saya akan menyerahkannya pada anda," potong Raffa.

Dan Eric paham jika pria itu tak ingin putrinya tahu perihal kepergiannya besok. Pria setengah baya itu hanya mengangguk saja dan melihat pada putrinya yang kembali sibuk dengan gadget-nya seakan tak ingin tahu ada Raffa di situ.

"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Raffa pada Eric. Dia segera membalikkan tubuhnya, tapi sebelum melangkah dia memberanikan diri untuk berpamitan pada Audrey. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya mereka berbicara, "Saya pamit dulu... Audrey..." katanya dengan nada mengambang dan getir.

Jantung Audrey seperti ditikam ribuan pisau saat Al-nya tak memanggilnya Nat lagi, tapi bukankah dia sendiri yang meminta Raffa agar tak lagi memanggilnya Nat? "Ya, dokter Raffa," jawabnya angkuh sambil membalas tatapan mata pria yang selama ini sudah dianggapnya kakak itu.

Mengabaikan rasa sakitnya Raffa pun tersenyum pada gadis itu, setidaknya dia akan melepaskan gadis itu dengan senyuman.

Jantung Audrey berdetak dengan kencang, senyum itu... senyum yang begitu dirindukannya itu membuat semua kebenciannya pada pria itu sedikit memudar. Ingin rasanya dia berdiri dan segera memeluk erat Al-nya. Tapi lagi-lagi egonya menang, dan dia memilih untuk berkutat dengan gadget-nya hingga dia mendengar pintu di belakangnya tertutup.

"Yakin kau tak akan menyesal memperlakukan Raffa seperti itu, sayang?" tanya Eric melihat keegoisan putrinya.

Gadis itu menghentikan jarinya yang tengah menari di atas handphone-nya. Kata-kata ayahnya menyusup ke dalam hati dan kepalanya, 'Menyesal? Apakah aku sudah sangat menyakiti Al?' tanyanya dalam hati. Dan dia memilih diam, kembali asik dengan gadget-nya dan mengabaikan ayahnya yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.

●

Malam ini Audrey tak bisa memejamkan mata, ada perasaan asing merambati dadanya, perasaan takut dan rindu yang saling berpelukan. Jujur dia begitu merindukan Raffa, rindu bermanja dengan pria itu. Mungkin memang dia yang terlalu egois dalam menyikapi kepergian pria itu, dia selama ini selalu merasa kalau dialah hal yang paling penting dalam hidup Raffa, dialah yang selalu menjadi prioritas utama Raffa, dan mengetahui kalau Raffa akan pergi tanpa mengatakan apa-apa terlebih dahulu padanya membuatnya begitu marah. Bukankah itu adalah cita-cita Raffa? Seharusnya dia mendukung Raffa dalam mengejar cita-citanya, bukan malah bersikap kekanakan.

Audrey menghela nafas panjang. Tapi kenapa sikap Raffa selalu menyebalkan setiap kali dia bercerita tentang Pedro? Apakah Raffa tak menyukai kekasihnya? Tapi kenapa?
Gadis itu memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya dengan erat, lalu dia membayangkan bagaimana jika ada wanita lain di sisi Raffa, memeluk lengan pria itu dengan mesra lalu mengambil seluruh waktu yang dimiliki Raffa? Saat itu juga Audrey mengernyit, ada rasa sakit di dalam dadanya. Membayangkan dia tak bisa lagi bermanja dan bergantung pada Raffa membuatnya merasa takut. Raffa yang selalu menggodanya, membuatnya tertawa saat dia sedih, memeluknya saat dia kecewa, menggenggam tangannya saat dia marah pada kedua orangtuanya, selalu berada di sisinya kapanpun dia butuh. Raffa... Al-nya.

Hingga akhirnya seraut wajah Raffa yang tengah tersenyum mengantarkan gadis itu ke alam mimpinya.


BERSAMBUNG





A.N : 
Ini cerpen khusus aku bikin untuk ulang tahunnya Mrs. Eggplant / Agnes FFTK. Mayan ngebut nih. Rencana emang cuma oneshot aja, tapi kayanya di blog kepanjangan, jadilah aku potong jadi 2 chapter, hehe. 

Chapter berikutnya yang udah ending bakal di post pas ultah Agnes ya... Happy Reading ^^

7 komentar:

  1. Ishhh....paling anti ma model cowo kaya pedro
    Amit amiiitttt
    Btw audrey masih ababil banget y
    Dokter raffa ma aku ajaaaa
    Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaa mbak, aku juga anti banget ama model2 Pedro itu. Udah bukan dokter, ga pake kacamata lagi #eeeh xDD
      Dokter Raffa buat Authornya lah mbak... sebagai bonus nulis wkwkwk
      Makasih ya, mbak... #peluk2 ^^

      Hapus
  2. Pedro??? Ke laut aja!!
    Waahh... Masih sekitar 6 hari lagi ya sist via lanjutannya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa.... trus dicabik2 ikan hiu ya mbak xDD
      Iya mbak, senin aku lanjutin ke endingnya. Semoga masih mau ngikutin, aamiin... #peluk2
      makasih mbak^^

      Hapus
  3. hadeuh ga sabar nunggu tgl 8 neh mba lluvia
    Ceritanya slalu cetar membahana qiqiqiq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha cerpennya syahrini dong xDD
      Sabar mbak, sabaaar... Makasih banyak udah mampir lagi dan lagi #peluk2

      Hapus
  4. Huuweeeeeeeeeeee.....yang dikasih kado mewek nih...
    sini, sini AL kupeluk.... #tabok_Via
    Ish...uda 22 thn masih aja gayanya ABG labil, jitak kepala Nat...nyesel tuh dibelakang Non!
    Pedro tuh bagusnya jorokin aja ke jurang, pake segala pamer harta, aish, harta ortu juga yang dibanggain #geram_tingkat_dewa
    As always...tulisanmu selalu sukses menyentuh sisi sentimentilku, halah, bilang aja cengeng.
    Thanks ya Cin...sengaja bacanya nunggu tamat, wkwkkwwk, padahal kau tahu kenapa...xixixixixiii
    Oh Al, kayaknya sosok ideal ini terlalu sempurna untuk jadi manusia yak, alhasil hanya idup dalam khayalan kita, padahal sih kalo bisa...ngarep tuuuuu #ngakak_guling2
    okelah, lanjut dulu ke next chap
    Peluk, cium selalu buatmu Cin....muahhhhhh

    BalasHapus