Senin, 08 Agustus 2016

Shape of My Heart 2

"Kenapa orangtua kamu belum datang, sayang? Ini sudah lebih dari jam yang kita tentukan," tanya Pedro. 

Audrey menggeleng, "Aku juga nggak tahu, tadi pagi sih bilang kalau mungkin akan sedikit terlambat, tapi aku tak menyangka kalau akan selambat ini," jawab gadis itu.

"Om ini sibuk, sayang. Sudah bagus kan kalau kami bersedia mengundang orangtua kamu walau hanya untuk saling berkenalan dulu?" kata David, Ayah Pedro, sambil menyesap kopi mahalnya.

"Tante juga ada arisan setelah ini, bagaimana kalau teman-teman tante membatalkan keikutsertaan tante ke Paris kalau tante sampai terlambat datang? Kan nggak asik liburan sendiri, Audrey?" Novita, Ibu Pedro, ikut menimpali.

"Jangan-jangan si Raffa itu lagi yang menghalangi kedatangan orangtua kamu, sayang," tuduh Pedro.

"Jangan bawa-bawa Al," desis Audrey yang sudah kesal setengah mati karena kata-kata kedua orangtua Pedro yang seakan-akan mengundang kedua orangtuanya adalah beban untuk mereka.

"Siapa itu Raffa?" tanya David.

Pedro mendengus sinis, "Dokter muda yang selalu menghasut orangtua Audrey untuk membenciku, Pa," jawabnya.

"Pedro... stop it," kata Audrey dengan kesal.

"Ah... lelaki yang katamu selalu iri denganmu itu?" kata Novita dengan nada tak peduli.

Segera saja Audrey menatap Pedro dengan tajam seakan bertanya sejak kapan Al iri padamu? sementara bertemu saja kalian hampir tak pernah. Tapi Pedro hanya menanggapi tatapan kekasihnya dengan cengiran saja.

Tak lama ponsel Pedro berdering, setelah melihat nama yang tertera di layar pria itu segera menjauh dengan raut muka panik yang berusaha disembunyikannya. Setelah menutup telponnya dia kembali menghampiri Audrey, "Sebentar ya? Aku ada urusan sebentar di luar," pamitnya.

"Urusan apa?" tanya Audrey yang merasa enggan ditinggal sendirian dengan kedua orangtua pria itu.

"Sebentar saja, ada seseorang yang ingin menyampaikan laporan padaku. Hanya sebentar, sayang," katanya sedikit kikuk. Setelah mengatakan itu dia segera pergi tergesa.

Audrey hampir saja meninggalkan meja makan kalau saja suara Ayahnya tak menahannya, "Maaf kami terlambat," ucap Eric sopan.

David dan Novita memandang Eric dan Lidya dengan pandangan malas. Dari situ saja Audrey sudah memutuskan dalam hati kalau dia tak akan sanggup menjadikan dua orang kaya di hadapannya  itu sebagai mertua, jika suatu saat nanti Pedro akan benar-benar melamarnya. 

"Papa dan Mama darimana?" tanya gadis itu saat kedua orangtuanya sudah duduk mengapitnya setelah bersalaman dengan kedua orangtua Pedro. 

Lidya tak menjawab, dia hanya diam sambil memandang suaminya. 

Eric menghela nafas panjang, "Bandara," jawabnya singkat.

Audrey mengernyit, "Bandara? Mau apa Papa dan Mama ke sana?" tanyanya bingung karena setahunya kedua orangtuanya tak ada rencana pergi ke luar kota atau ke luar negeri.

David dan Novita tak berkata apa-apa, mereka hanya jadi pendengar saja. 

Eric menatap putrinya sejenak sebelum kembali menjawab pertanyaannya. "Papa dan Mama... mengantar kepergian Raffa ke Jerman." 

Jawaban sang Ayah seperti suara halilintar di telinga Audrey. Jantungnya seakan berhenti. Nafasnya menjadi begitu sesak dan suaranya menghilang oleh cekat. Mengantar Raffa ke Jerman? Raffa sudah pergi? Benar-benar pergi atau... 

"Keberangkatannya diajukan. Karena minggu depan dia sudah mulai praktek di Rumah Sakit lokal untuk mengisi waktu senggangnya di antara study-nya. Kebetulan Rumah Sakit itu milik teman Papa dan dia membutuhkan seorang ahli penyakit dalam di sana," jawab Eric lagi seakan tahu isi hati putrinya.

Raffa sudah pergi? Al-nya sudah begitu jauh dengannya sekarang? Audrey menahan sakit di dadanya. Bagaimana bisa dia tak lagi tahu apa-apa tentang Raffa? Setelah selama ini Raffa sudah seperti buku yang terbuka di hadapannya? 
"Kenapa Papa nggak bilang apa-apa? Aku..." 

"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tak ingin tahu apapun lagi tentang Raffa-nya Papa dan Mama?" potong Eric. 

Audrey membeku, dia tak mampu menjawab, gadis itu teringat kembali kata-kata yang telah diucapkannya kemarin di ruangan Ayahnya. Dimana Raffa juga pasti mendengar ucapannya yang menyakitkan itu. Dan kini Raffa telah meninggalkannya. Tak ada pelukan, juga kata perpisahan. Menyesal? Sungguh... ingin rasanya dia menghapus semua waktu dimana pertengkarannya dengan Raffa tercipta.

"Ah.. ternyata benar kata Pedro. Selalu Raffa ya, Audrey?" cibir Novita. 

"Bagus kan kalau dia sudah pergi? Jadi tak ada lagi yang menghalangi hubunganmu dan Pedro. Seharusnya kau senang, cantik," sambung David.

"Maksud Anda?" tanya Eric dengan nada tak senang. 

"Oooh... Pedro selalu bercerita pada kami kalau ada seorang dokter amatir yang sering menjelek-jelekkan dia di hadapan kalian, dan selalu berusaha menghalangi hubungannya dengan Audrey," jelas Novita sambil tersenyum. 

"Yaaah, Pedro bilang si Raffa itu adalah dokter miskin yang berharap bisa mendapatkan Audrey agar dapat  menikmati kekayaan keluarga kalian. Untunglah dia sudah pergi, ya? Beruntung ada yang membiayainya ke Jerman," sambung David sambil kembali menyesap kopinya.

Saat itu juga Audrey berdiri dengan wajah memerah karena amarah, dia tak suka cara kedua orangtua Pedro menghina Raffa-nya, "Jangan selalu menuduh Raffa seperti itu. Tak pernah sekalipun Raffa menjelek-jelekkan Pedro di hadapan Papa dan Mama saya. Saya memang tak tahu sendiri, tapi saya telah mengenal Raffa jauh sebelum saya mengenal Pedro. Saya tahu bagaimana dia, dia bukan lelaki sepicik itu," katanya sambil menatap tajam kedua orangtua Pedro. 

Seakan tak ingin memberikan kesempatan pada David dan Novita untuk menyelanya Audrey pun segera melanjutkan kata-katanya, "Dan satu lagi, Raffa bukan dokter amatir. Dia juga tak miskin. Dia adalah seorang dokter yang hebat di bidangnya. Dan sekarang dia sedang melanjutkan study S3 nya di Jerman. Mohon Om dan Tante tak meremehkan dia, karena dia adalah pria terhebat yang pernah saya kenal, yang tak pernah bersembunyi di balik ketiak orangtuanya untuk segala kesuksesannya," cecar Audrey. Dia tak peduli lagi akan hubungan ke depannya dengan Pedro. Dia hanya tak suka jika Raffa diremehkan orang. 

David dan Novita hanya melongo saja melihat calon menantunya memarahi mereka. Lain halnya dengan Eric dan Lidya yang tengah berusaha keras menahan tawa. Sungguh mereka tak menyangka kalau putri kecil mereka berani membela Raffa di hadapan kedua orang sombong itu.

"Permisi, Om, Tante... saya mau pulang sekarang. Ayo Pa, Ma, kita pulang," ajak Audrey sambil mendorong kursinya ke belakang dan berlalu dari ruangan itu dengan langkah panjang.

Setelah berpamitan dengan orangtua Pedro Eric dan Lidya pun mengikuti langkah putrinya. 

Audrey setengah berlari menyusuri lorong yang menghubungkan restaurant dengan lobby hotel tempat pertemuan dua keluarga tadi. Dia muak, muak dengan semua rasa sakit yang disebabkan Raffa, atau oleh sikapnya sendiri. 

Di antara matanya yang mulai berkabut dia masih bisa melihat punggung Pedro di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi. Audrey menghampiri pria itu dengan maksud ingin berpamitan, tapi apa yang dilihatnya sungguh di luar pikirannya. Di sudut lobby itu, di balik patung batu besar sebagai penghias ruangan, Audrey mendapati kekasihnya tengah berciuman dengan perempuan lain. Sakit? Entah... dia hanya merasa lelah. 

Pelan dihampirinya pria itu lalu menepuk pelan bahunya dimana kedua tangan pria itu masih memeluk erat pinggang sang wanita. 

Merasa terganggu Pedro pun segera melepaskan pelukannya dan bermaksud memaki orang yang telah menginterupsi keasikannya. Dan dia hanya bisa membelalakkan matanya saat dilihatnya siapa yang tengah berada di hadapannya. 
"Sa... sayang, ini... ini..." katanya tergagap sembari berusaha mencari kata-kata untuk membela diri. 

Audrey meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, setelah itu dia melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya lalu menyerahkan, lebih tepatnya meletakkan, benda itu ke dalam kantong kemeja Pedro. 

"Kukatakan untuk yang terakhir kalinya padamu, jangan pernah menghina Raffa di hadapan orangtuamu lagi. Karena dia seribu kali lebih terhormat... daripada kamu sendiri," tegas Audrey sambil menekan dada Pedro dengan telunjuknya yang gemetar karena amarah. Matanya yang selalu berbinar indah kini berkilat geram, menatap kekasihnya, atau mantannya, itu dengan rasa jijik yang teramat sangat. Sungguh dia merasa sudah buta selama ini, tak seharusnya dia membiarkan lelaki manja ini hadir di hidupnya.

Setelah mengucapkan itu Audrey segera berlari ke luar hotel. Sekali lagi Eric dan Lidya mengikuti langkah kaki putrinya. Mereka kagum dengan apa yang dilakukan Audrey pada Pedro. 

Eric segera menggamit lengan putrinya dan segera menuntun gadis itu ke mobil mereka. 

Tangisan Audrey pecah saat mereka sudah berada di dalam mobil. Lidya yang duduk di belakang untuk menemani putrinya segera memeluk erat gadis itu. Sementara Eric tetap fokus pada setirnya. 

Lidya tak berkata apa-apa, dia hanya diam saja dan membiarkan Audrey melepaskan tangisan di pelukannya. Nanti setelah putri kesayangannya tenang barulah dia akan bicara. Untuk saat ini cukup begini saja, memberikan bahu untuk airmata putrinya adalah yang terbaik yang bisa dia lakukan.

●

●

"Al... jangan tarik rambutku!!!"

"Rambut kamu yang nyangkut di tanganku."

"Bohong!! Kamu pasti sengaja, kan?"

"Ahahaha... iya."

"Al jahaaat... Mamaaa!!!"

Audrey memutar kembali rekaman videonya bersama Raffa yang diambil oleh Mamanya saat mereka berlibur dua tahun yang lalu.

"Tangannya minggir dong, Al."

"Kamu yang seharusnya geser ke sana."

"Ga mau!!"

"Ya sudah, jangan salahin aku kalau wajah jelek kamu ga kelihatan."

"Al iiih nyebelin!!! Papa jangan ketawa aja dong, videonya goyang tuh!!"

Audrey memutar rekaman video yang lain di waktu yang berbeda saat keluarganya kembali berkumpul bersama Raffa. Ah dia ingat, video ini diambil saat dia sedang mencoba handphone barunya yang dibelikan oleh Papanya.

"Nat... coba senyum dong, tapi yang manis ya?"

"Yeee... emangnya selama ini aku ga manis?"

"Mana aku tahu... kan aku ga pernah jilatin?"

"Apa sih, Alll?? Udah videoin yang bener."

"Ini juga udah bener kok, kamu aja yang daritadi manyun ga kelar-kelar."

"What? Bilang kek kalau udah mulai." 

Audrey tertawa pelan saat dia melihat sosoknya di video itu yang segera memasang senyum termanisnya ke arah kamera.

"Jelek," goda Raffa sambil menarik pelan hidung mancungnya.

"Biarin, weeeek. Tapi kamu suka, kan?" jawabnya sambil menepis tangan Raffa dari hidungnya.

Suara tawa Raffa terdengar begitu renyah, "Sayangnya iya."

Dan Audrey menangis tertahan saat dilihatnya mereka yang berada di dalam video saling melemparkan senyum penuh kasih, "Al... aku rindu," rintihnya.

Sudah seminggu Raffa pergi, tapi tak sekalipun ada kabar darinya. Mungkin Papanya tahu, tapi Audrey merasa malu jika harus bertanya. Dia juga malu jika harus menghubungi Raffa duluan mengingat apa yang telah dia lakukan pada pria itu begitu kekanakan. Begitu memalukan.

Lamunan Audrey terganggu oleh dering telpon di handphone-nya, Pedro. dengan malas di reject-nya panggilan dari pria itu. Dia tak ingin berhubungan lagi dengan Pedro, baginya mengenal pria itu seperti sebuah kesalahan untuknya. Apalagi kesombongan orangtuanya yang terus saja menghina Raffa.

Sejak kejadian di restoran itu memang sudah beberapa kali Pedro berusaha menemuinya, tapi dia terus menolak untuk bertemu. Bukan benci, justru Audrey merasa ada yang aneh di dalam dirinya. Saat Pedro selalu sibuk dengan alasan pekerjaannya dia tak pernah merasa keberatan. Saat Pedro harus pergi beberapa lama ke luar kota diapun tak pernah sibuk mencari tahu kabar pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. Bahkan terakhir kali dia memergoki Pedro mencium wanita lain dia juga tak merasa tersiksa.
Padahal hanya mendengar kalau Raffa akan pergi jauh saja rasanya hatinya begitu sakit, begitu merana. Dan saat pria itu sudah benar-benar pergi Audrey semakin merasa kalau hidupnya begitu hampa, kosong. Bahkan dia lupa bagaimana caranya tersenyum, bagaimana caranya tertawa. Seakan Raffa telah membawa pergi seluruh kebahagiaannya.

Airmata kembali mengalir dari mata indahnya. Biasanya Raffa lah yang selalu mengusap airmata itu, lalu menggantinya dengan tawa dan senyuman. Biasanya Raffa lah yang memeluknya lalu membelai lembut rambutnya saat dia merasa begitu sedih. Raffa lah yang menggenggam tangannya saat dia merasa sendiri. Raffa lah yang selalu ada bersamanya, sesibuk apapun dia di Rumah Sakit Raffa selalu memiliki jadwal tersendiri untuk menemaninya. Raffa-nya... Al tersayangnya.
Kali ini tangisan Audrey kembali pecah, dia menutup wajahnya dengan guling, menenggelamkan isaknya di sana sembari menyebut nama Al di antara airmatanya yang berderai hingga dia tertidur karena lelah.

●

●

Dua bulan berlalu sejak kedatangan Raffa di negara ini, semua seperti berjalan begitu lambat. Sesibuk apapun dia menggunakan waktunya masih saja ada celah untuk memikirkan gadisnya. Pria itu seperti meninggalkan hatinya di sana, dalam dekapan gadis cantik dengan matanya yang indah dan rambut ikalnya yang panjang. Nat-nya.

'Bagaimana kabarmu, Nat?' tanyanya dalam hati sembari menatap foto Audrey yang masih menjadi wallpaper di handphone-nya. Dengan lembut diusapnya foto itu dengan penuh kerinduan. "Berjanjilah kau akan bahagia, Nat... bersama siapapun walau bukan denganku," bisiknya lirih.

Pria berkacamata itu meletakkan ponselnya, lalu berguling ke samping untuk mengambil sesuatu di dalam laci nakas di sebelah tempat tidurnya, setelah itu dia duduk bersandarkan tumpukan bantal di punggungnya. Diamatinya kotak kecil hitam yang berada dalam genggamannya, lalu membuka tutupnya. Sebuah cincin bermatakan Safir berbentuk bunga mawar kecil tampak berkilau di bawah cahaya lampu kamarnya yang menyala. Dan sebentuk memori melintas diingatannya.

"Waaaah.... biruuuu!!! Lihat, Al... langitnya biru, lautnya biru, bajuku biru, baju kamu juga biru!!" 

"Suka banget sih sama warna biru?" 

"Iya dong, biru itu warna favorite aku. Rasanya tenaaaang banget kalau ngelihat warna biru."

"Pipi kamu juga biru tuh."

"Hah? Masa?" 

"Iya beneran... bohongnya."

"Aaaah Alll... iseng banget sih?" 

Raffa tersenyum sendiri saat kenangan tahun lalu mampir di otaknya, saat dia dan Nat berjalan-jalan di pinggir laut berdua, dimana lengannya lebih banyak digunakan untuk memeluk gadisnya yang manja, yang selalu cemberut karena godaannya. Pria itu menghela nafas panjang, berusaha melepaskan sesak yang menghimpit dadanya.

Kembali ditatapnya cincin di tangannya itu, "Bunganya cantik... seperti kamu, Nat," ucapnya sambil tersenyum. 

Tadi siang saat dia pulang dari Humbolt University dan melewati pertokoan, dia melihat cincin itu di sebuah toko perhiasan. Otomatis dia teringat pada Audrey yang begitu menyukai warna biru. Tanpa berpikir panjang dia segera membeli cincin itu, dan sekarang dia mulai berpikir kapan dia akan menyerahkan cincin itu pada Nat-nya? Apakah gadis itu akan mau menerimanya? Lagi-lagi Raffa mendesah pelan, 'Kalau memang tak bisa kuberikan maka akan kusimpan sendiri saja', katanya dalam hati.

●

●

"Sayang, ayo makan malam dulu," ajak Lidya saat melihat putrinya baru pulang kerja. 

Audrey tersenyum, "Aku tidur aja ya, Ma? Capek banget hari ini," tolaknya. 

"Kamu harus makan, sayang. Akhir-akhir ini kamu selalu pulang terlambat, apakah begitu sibuk di kantor?" tanya Eric sambil merangkul pundak putrinya yang sudah duduk di sampingnya.

Gadis itu merebahkan kepalanya di pundak Ayahnya, "Lumayan, Pa," jawabnya singkat. 

Pria itu melirik istrinya sekilas, mereka sama-sama tahu kalau bukan itu alasan gadis mereka bekerja tak mengenal waktu, "Atau kau sedang melarikan diri dari sesuatu?" tanya Eric lagi sambil mengusap lembut lengan anak gadisnya itu.

Audrey terdiam, orangtuanya memang tajam, selalu tahu apa yang sedang dia pikirkan. Seperti halnya orang kebanyakan dia memang menjadikan pekerjaannya sebagai pelarian. Dia ingin melarikan diri dari rasa sakit, dari rasa rindu yang terus menghimpit. Dia ingin sedikit melupakan pria yang beberapa bulan ini tak pernah pergi dari hati dan kepalanya. Pria yang setiap malam selalu membuatnya menangis oleh penyesalan yang begitu dalam. Pria yang tanpa sadar telah merampas seluruh kebahagiaannya, membawa pergi hatinya dan meninggalkan kekosongan dalam jiwanya.

'Al...' panggilnya pilu dalam hati. 

KRIIIINNNGG!!! 

Dering telpon rumah yang berbunyi nyaring menyentakkan mereka semua. Audrey segera berdiri untuk menerima panggilan itu, dia ingin mengalihkan pikirannya dari perasaan sedihnya, dia tak ingin kedua orangtuanya terus mengkhawatirkannya. 

"Ya, halo?" sapanya sopan. 

Sedetik, dua detik, tiga detik, hanya hening yang menyapa. 

"Halo?" ulang Audrey.

Hampir saja gadis itu menutup telponnya kalau saja telinganya tak menangkap sebuah suara yang menyapanya, //"Nat?"//

Audrey terkesiap, suara itu, panggilan itu. Suaranya menghilang, tenggorokannya tercekik oleh isak yang tertahan. 

//"Nat? Bagaimana kabarmu?"// tanya suara di seberang sana lagi.

Kali ini Audrey kalah, tangisnya pecah seketika, airmata tak lagi mampu dibendungnya. Kakinya lemas dan membuatnya bersimpuh di lantai dengan gagang telpon masih menempel erat di telinganya dan digenggam oleh kedua tangannya seakan-akan dia takut suara itu segera menghilang. 

Eric dan Lidya yang melihat hal itu segera menghampiri putri tunggal mereka, "Sayang? Kamu kenapa? Siapa yang menelepon?" tanya Lidya.

//"Nat? Kenapa menangis? Kamu sakit? Siapa yang membuatmu menangis, Nat?"//

Audrey makin terisak, perhatian ini, suara yang penuh kecemasan ini... seolah Al-nya telah pulang untuknya. 

//"Nat? Katakan sesuatu!"// 

"Al bodoh!!! Kamu bodoh, Al. Kamu pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini, hah?!!" teriak gadis itu di antara tangisnya dengan penuh emosi. 

Eric dan Lidya saling berpandangan, tapi ada senyum di bibir mereka setelah mengetahui siapa yang berada di seberang sana. Pelan mereka meninggalkan Audrey sendirian bersama Al-nya.

//"Kenapa kau menyalahkan aku?"// tanya Raffa bingung. Tapi ada sebuah kelegaan di hatinya saat ini, dia lega karena gadisnya telah memanggilnya Al lagi. 

"Lalu siapa yang harus aku salahkan? Kamu tak pernah mengatakan apapun tentang study-mu. Tiba-tiba saja kamu sudah mempersiapkan semuanya. Lalu setelahnya kamu pergi begitu saja, meninggalkanku tanpa satu katapun. Siapa yang bodoh menurutmu?!!" seru Audrey lagi masih dengan sisa isakan di bibirnya.

Mau tak mau Raffa terkekeh, kepedihan dan rasa sakitnya selama ini musnah setelah mendengar omelan Nat-nya saat ini, //"Bukankah kau sendiri yang menghindariku?"// katanya.

Audrey mengusap airmatanya dengan kesal, walau saat ini dia menangis tapi suara Raffa telah menyembuhkan semua kesedihannya, "Seharusnya kamu berusaha dong gimana caranya biar aku selesai marah sama kamu, bukan malah balas tak peduli," Audrey masih tak mau mengalah. 

//"Kalau aku berusaha tapi kamu terus menghindar, gimana? Harusnya kamu ngambeknya jangan serem-serem dong,"// goda Raffa lagi. Ingin rasanya dia segera terbang pulang dan memeluk erat gadisnya. Tak apa jika Audrey tak bisa menjadi kekasihnya, bisa melihatnya tersenyum lagi padanya saja sudah lebih dari cukup. 

"RAFFA JELEK!!! KAMU JAHAT!!! teriak Audrey kesal karena pria itu masih saja suka menggodanya.

Raffa terbahak keras di ujung telepon, rasanya sudah lama sekali dia tak tertawa selepas ini. //"Hei... apa kau merindukanku, Nat?"// tanyanya setelah tawanya reda.

Audrey tak menjawab, jantungnya berdebar halus mendengar pertanyaan Raffa.

//"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu,"// bisik Raffa. 

Airmata Audrey kembali mengalir, kali ini tanpa isakan. Ya... dia tahu, dia begitu paham rasa apa yang selama ini membuatnya sesak, "Aku juga merindukanmu, Al," jawabnya sambil menggenggam telponnya semakin erat. Entah kenapa dia merasa wajahnya memanas.

Di seberang sana Raffa tersenyum. //"Maafkan aku, ya? Maaf karena telah meninggalkanmu. Tapi kurasa kau akan baik-baik saja selama ada Pedro di sisimu,"// katanya sambil menelan ludah, berusaha menepis luka yang kembali menyusup ke dadanya saat menyebut nama kekasih Audrey.

Audrey tersenyum, dia mengusap lagi airmatanya, "Aku sudah tak bersama Pedro lagi, Al," jawabnya tanpa kepedihan apapun. Karena baginya bentuk luka yang sesungguhnya adalah saat Raffa pergi dan jauh darinya. Saat Raffa tak lagi ada di sisinya.

Raffa terdiam, jujur dadanya terasa begitu lega. Jahat kah dia? //"Kenapa?"// tanyanya basa-basi, walau sebenarnya sungguh dia tak peduli apapun alasannya.

"Tak penting apa alasannya. Yang penting saat ini adalah aku begitu ingin... aku ingin kamu pulang," ucap Audrey lirih sambil kembali menahan sesak di dadanya. Dia sungguh merindukan pria itu.

Di ujung sana Raffa menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi kerjanya, //"Kau sungguh ingin aku pulang?"// tanyanya.

Audrey mengangguk, tapi setelahnya dia menyadari kebodohannya karena Raffa tak mungkin bisa melihatnya, "Iya," jawabnya.

Raffa tersenyum lagi, dia memejamkan matanya, menikmati rasa hangat yang menjalari dadanya, //"Kalau aku pulang nanti ada satu hal yang aku minta darimu,"// katanya sambil mencoba meredakan debar dadanya yang mulai tak terkendali. Dia ingin menyampaikan kata-kata yang selama ini begitu ingin dia ucapkan pada Audrey.

"Apa?" tanya Audrey bingung.

Raffa terdiam sejenak dan menarik nafas panjang, //"Aku tak ingin... melihat ada laki-laki lain di sisimu saat aku pulang. Bisa kah?"//

Audrey tercengang oleh pertanyaan pria itu, jantungnya berdebar begitu cepat, dia tahu makna dari pertanyaan itu, besar kepala kah dia? Bolehkah dia mengira kalau Raffa tengah mengungkapkan perasaannya?

//"Nat?"//

Panggilan Raffa menyadarkannya. Gadis itu tertawa pelan, "Dasar bodoh, kau sedang mengancamku atau apa? Bagaimana kalau saat kau pulang nanti ada Papa di sampingku?" godanya.

Raffa mengerang, sekuat tenaga dia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya, dan jawaban gadis itu sungguh menyebalkan, //"Kau tahu maksudku, gadis nakal,"// katanya kesal.

Audrey tertawa puas karena bisa membalas Raffa yang selalu suka menggodanya.

//"Nat..."// panggil Raffa lagi karena gadis itu tak kunjung menjawab.

Audrey tersenyum, dia memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang perlahan. Dia sudah menentukan jawabannya, karena dia sudah tahu bagaimana perasaannya pada Raffa semenjak pria itu pergi darinya, "Ya, Al... aku janji," jawabnya pelan.

//"YES!!!"// tanpa sadar Raffa berseru kencang dan segera berdehem saat didengarnya Audrey tertawa keras di seberang sana. 'Bodoh', rutuknya dalam hati.

//"Nat..."// panggil Raffa setelah debaran jantungnya mereda.

"Ya?" jawab Audrey.

Raffa menarik nafas panjang, mempersiapkan diri mengatak satu hal pada gadis itu, //"Tapi jangan marah lagi ya kalau aku bilang sesuatu?"//

Audrey mengernyit bingung, "Marah kenapa?" tanyanya.

Raffa terdiam beberapa detik, //"Aku... baru saja memulai study-ku di sini, jadi aku... belum  bisa pulang dalam waktu dekat ini. Kau tak apa-apa?"// tanyanya hati-hati.

Audrey terdiam, dia sangat merindukan Raffa, tapi bukankah Raffa pergi juga untuk mengejar cita-citanya? Lagipula apa yang barusan saja mereka ucapkan sudah cukup menjadikan Raffa sebagai miliknya. Dia hanya butuh bersabar.
Gadis itu tersenyum sendiri, "Tak apa, asal..."

//"Asal apa?"// tanya Raffa penasaran karena Audrey menggantung kata-katanya.

"Asal... saat kamu pulang nanti kamu benar-benar pulang hanya untukku," jawabnya lirih. Gadis itu yakin kalau wajahnya saat ini pasti telah memerah.

Raffa tersenyum, Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang begitu besar padanya saat ini, //"Aku janji, Nat... aku akan pulang hanya untuk gadis bawelku tersayang,"// jawabnya.

Audrey terbelalak, "Aaaah Alll.... kamu nyebelin banget sih?!!" teriaknya kesal.

Raffa tertawa terbahak-bahak, dia bisa membayangkan bagaimana raut kesal gadisnya saat ini. 'Nat... Nat... aku ingin memelukmu saat ini juga', bisiknya dalam hati.

●

"Aduh... aduh... anak Mama kok wajahnya cerah sekali? Habis ditelpon siapa?" goda Lidya saat Audrey menyusul mereka ke meja makan.

Audrey tak menjawab, tapi pipinya bersemu merah. Dengan tersenyum dia mengambil nasi untuk diletakkan di piringnya.

"Katanya ga mau makan? Katanya Capek? Kayanya capeknya udah hilang nih, Ma," goda Eric kali ini yang disambut tawa istrinya.

Audrey semakin tersipu, "Apa sih, Pa... mesti deh usil kaya Al," katanya.

"Loh? Sudah ada Al lagi? Bukannya Raffa ya sekarang?" Lidya masih belum puas menggoda putrinya.

"Maaa... aku ga jadi makan nih," rajuk Audrey yang ditanggapi tawa keras kedua orangtuanya.

"Bagaimana kabar Raffa?" tanya Eric setelah keriuhan tadi mereda.

Audrey mengunyah makanannya perlahan, "Baik, Pa. Study-nya baru mulai seminggu ini," jawabnya. 

"Lalu pekerjaannya di Rumah Sakit? Lancar?" tanya Eric lagi. 

Audrey mengangguk, "Pasiennya lumayan banyak, jadi dia harus pintar-pintar membagi waktu antara study dan pekerjaan. Katanya Mr. Stevan, teman Papa itu, baik sekali sama Al. Dia mempercayakan banyak pekerjaan pada Al, hanya saja tak sampai mengganggu waktu belajar Al. Istrinya juga sering mengantar makanan ke apartemen Al, jadinya Al suka sungkan sendiri. Johan, putra mereka yang masih kecil juga sering main ke apartemen Al, kata Al Jo itu lucu sekali jadinya dia ga ngerasa kesepian," Audrey terus meracau menceritakan tentang Al-nya. Dia tak sadar kalau kedua orangtuanya menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan drastis putri mereka. Audrey yang beberapa bulan terakhir ini irit bicara, selalu tampak muram, dan tak pernah berselera makan kini telah kembali menjadi Audrey yang mereka kenal dulu, Audrey yang ceria, Audrey yang hidup. 

"O iya... Al juga menyampaikan salam buat Mama dan Papa, katanya dia sangat merindukan kalian," sampai gadis itu dengan senyum bahagianya. 

Merasa kalau kedua orangtuanya tak menanggapinya Audrey pun menghentikan celotehnya dan memandang keduanya yang masih tersenyum sambil menatapnya, "Kenapa?" tanya gadis itu bingung. 

Lidya yang duduk di samping putrinya membelai rambut gadis itu dengan lembut, "Tak apa, sayang. Mama dan Papa hanya merasa begitu bahagia saja melihatmu saat ini. Rasanya putri kesayangan kami telah kembali pulang dari perjalanannya yang begitu jauh." 

Audrey mencoba mencerna kata-kata Mamanya. Lalu tak lama gadis itu pun tersenyum. Dia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang telah kosong, lalu meneguk segelas air putih yang telah tersedia di hadapannya. Setelah mengusap bibirnya dengan tissue dia pun kembali menatap kedua orangtuanya. 
"Ma... Pa.. maaf ya kalau aku sudah membuat Mama dan Papa khawatir. Aku menyesali semua sikap dan kata-kataku pada Al. Padahal nyatanya aku... tak bisa jika tak ada dia," ucapnya sambil menundukkan kepalanya karena malu telah mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya di depan orangtuanya.

Eric dan Lidya tersenyum lebar. "Apakah akhirnya kalian telah memutuskan untuk berpacaran?" tanya pria itu dengan gamblang. 

Audrey tersentak, lalu dia meremas tissue di hadapannya dengan kikuk, "Mmmh... entah. Al... Al cuma bilang kalau.... mmmh.. kalau..." 

"Kalau apa?" kejar Lidya penasaran. 

Audrey memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya lagi, "Al bilang... dia tidak ingin saat dia pulang nanti ada pria lain di sisiku," lanjutnya dengan wajah memerah. Sementara Eric dan Lidya berusaha menahan geli melihat wajah tersipu anak gadis mereka. Padahal dulu saat membicarakan Pedro saja Audrey tak pernah tampak seperti itu, seperti gadis yang benar-benar sedang jatuh cinta. 

"Lalu jawabanmu?" tanya Eric kali ini. 

Audrey kembali menunduk dan sibuk dengan tissue-nya yang sudah tak berbentuk, "Ya... aku bilang iya. Aku janji kalau ga akan ada pria lain nantinya," jawabnya lirih. 

Kali ini Eric dan Lidya kembali terbahak-bahak.

Audrey cemberut, "Kok malah pada ketawa sih? Ma... jangan ikutan usil seperti Papa dong," rajuknya. 

Lidya masih tertawa geli sambil mengusap lembut punggung putrinya, "Anak Mama sudah mengenal cinta ternyata," katanya di antara tawanya. 

Audrey masih cemberut sampai tawa keduanya reda. "Menurut Mama dan Papa... apakah Al mencintaiku?" tanyanya gadis itu. 

Eric terkekeh pelan, "Audrey, putri Papa yang paling cantik, cuma kamu yang tak bisa membaca isi hati Raffa," jawabnya. 

Audrey mengernyit bingung, "Maksud Papa?" 

Eric tersenyum lagi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sejak dulu, tepatnya Papa lupa entah sejak kapan. Tapi sejak lama Raffa sudah menaruh hati padamu. Tanya Mamamu kalau kamu tak percaya," jawabnya lagi sambil menunjuk istrinya dengan dagunya. 

Audrey menganga tak percaya sambil menatap Mamanya, "Iya, Ma?" tanyanya. 

Lidya menganggukkan kepalanya, "Kamu aja yang terlalu sibuk bermanja dengan dia sampai-sampai tak pernah menyadari bagaimana caranya menatapmu," jawab sang Bunda. 

Audrey termenung, ya... selama ini dia hanya sibuk membahagiakan dirinya sendiri dengan limpahan perhatian dari Raffa. 

"Raffa selalu menatapmu seolah-olah kamu adalah sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang harus dia jaga dan harus dia bahagiakan," lanjut Lidya. "Raffa itu mencintai kamu sejak dulu, sayang," lanjutnya. 

Mata Audrey berkaca-kaca, sungguh dia tak menyangka kalau selama ini Al-nya telah mencintainya dengan begitu dalam, dan dia justru menciptakan luka pada diri pria itu. Audrey lalu memeluk Ibunya dan menyembunyikan wajahnya di bahu wanita itu, "Aku jahat ya, Ma? Aku sudah bikin Al sakit selama ini," bisiknya dengan suara gemetar menahan tangis. 

Lidya mengusap lengan putrinya, "Lupakan tentang hal itu, Mama yakin Raffa sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf padanya," jawab bijak Lidya sambil mencium kepala putrinya. "Lalu apakah kamu juga mencintai Raffa, sayang?" tanyanya lagi dengan serius. Beberapa saat tak ada jawaban dari gadis mereka sampai akhirnya dia merasa kalau Audrey menganggukkan kepalanya. Lalu Lidya tersenyum bahagia bersama suaminya. 

"Sayang... dengarkan Papa," panggil Eric. 

Audrey akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap lurus pada Ayahnya. 

"Dengar, ya.. Papa ingin kamu bisa memikirkan hal ini," kata Pria itu. Setelah Audrey mengangguk Eric pun melanjutkan bicaranya, "Raffa adalah lelaki dewasa, lelaki yang sangat bertanggung jawab akan kehidupannya. Yang ada di kepalanya tentu saja bukan melulu soal bersenang-senang. Ada banyak hal yang akan dia pikirkan dan kerjakan untuk masa depannya. Apalagi dia juga sudah mengungkapkan perasaannya padamu, Papa yakin dia sudah memikirkannya dengan begitu serius untuk menjalin hubungan yang lebih jauh lagi denganmu. Jadi... Papa harap kau mulai belajar untuk memahaminya. Kau harus mulai belajar untuk mengerti akan profesi yang dia jalani. Lihatlah Papa, sebagai dokter Papa dituntut untuk siap bekerja selama 24 jam, karena pekerjaan Papa berhubungan dengan kemanusiaan. Begitu pun Raffa. Siap tidak siap kau harus siap menghadapi apapun resikonya," kata pria itu panjang lebar. 

Audrey mendengarkan Papanya dengan serius. 

"Tapi jangan pernah berubah menjadi orang lain, sayang. Mama yakin Raffa akan selalu mencintai Nat-nya yang manja dan cerewet. Hanya saja kamu harus lebih bisa mengerti tentang pekerjaannya. Mama yakin kok kalau kamu akan selalu menjadi prioritas utama bagi Raffa, jadi jangan terlalu menuntutnya untuk selalu ada buat kamu, ya?" sambung Lidya. 

Audrey tersenyum dan mengangguk, "Ingatkan aku ya Ma kalau aku mulai bersikap egois dan kekanakan lagi," katanya sambil memeluk Mamanya dengan erat.

"Papa jadi tak sabar menunggu Raffa untuk segera melamar kamu," goda sang Ayah.

"Papaaa... apa sih? Baru juga aku dan Al baikan, Papa udah lari aja ke depan," jawab Audrey yang kembali cemberut. Dan lagi-lagi ruangan yang biasanya sepi itu itu ramai oleh gelak tawa Eric dan Lidya.

●

●

Dua bulan berlalu sejak Raffa dan Audrey menjalin hubungan, kehidupan keduanya pun kembali normal, bahkan lebih berbunga-bunga. Selalu ada telpon atau pesan singkat mampir ke ponsel masing-masing. Perbedaan waktu yang cukup jauh tak membuat komunikasi mereka terputus. Raffa sungguh telah begitu mengenal sifat Audrey, dia selalu tahu bagaimana cara membuat kekasihnya itu terus tersenyum walau tak selalu lewat rayuan gombal.

"Senyum-senyum terus nih anak gadis kita, Pa?" goda Lidya pada suatu malam saat mereka tengah bersantai di teras rumah.

Audrey yang sedang asik membalas bbm dari Raffa menjulurkan lidah pada Mamanya.

Lidya tertawa kecil sedangkan Eric hanya menggeleng saja.

"Kapan Raffa akan pulang, sayang?" tanya Lidya pada putrinya.

Audrey menatap Mamanya, ada kilau sendu di matanya yang indah, "Belum tahu, Ma. Katanya tesisnya masih sangat membutuhkan konsentrasi tinggi. Belum lagi pekerjaan di Rumah Sakit. Pasien Al sekarang semakin banyak," jawabnya.

Eric melipat surat kabar yang tengah dibacanya, "Dia harus pintar mengatur waktu dan keuangan, sayang. Dia beruntung karena ada pekerjaan yang bisa  dia kerjakan saat study-nya berlangsung, dan gaji dokter di sana cukup tinggi sehingga dia tidak terlalu dipusingkan oleh kebutuhan akan biaya hidup," jelas Eric.

Audrey menggigit bibir bawahnya, "Iya sih, Pa... padahal kan..."

"Kamu rindu?" potong Lidya sambil mengerling.

Pipi Audrey merona mendengar pertanyaan Ibunya, "Apa sih, Mama?" elaknya yang kembali disambut kekehan kedua orangtuanya. "Rindu sih, rindu... wajar, kan?" lanjutnya lirih sambil menunduk.

Lidya tersenyum maklum, "Kenapa bukan kamu saja yang ke Jerman?" tanyanya.

Audrey memajukan bibirnya, "Maunya sih gitu, Ma. Aku berencana minggu depan mau ke sana. Tapi kantor ga kasih ijin buat cuti," jawabnya kesal.

Lidya menghela nafas panjang, "Padahal kamu begitu ingin bersama dia saat ulang tahunmu minggu depan, kan?" 

Audrey mengangguk saja.

Eric tertawa pelan, "Kamu mau merayakan ulang tahunmu dimana, sayang?" tanyanya mencoba mengalihkan kerinduan putrinya. 

Gadis itu tampak berpikir sejenak, "Kita rayakan bertiga aja deh, Pa," jawabnya.

"Kamu tak ingin mengundang teman-temanmu untuk makan malam di rumah atau di suatu tempat?" tanya Lidya.

Audrey menggeleng, karena yang sangat diinginkannya adalah kehadiran Raffa di sisinya. Tapi bagaimanapun dia tak bisa memaksakan kehendaknya pada pria itu. 

PING!!! 

Audrey dikejutkan oleh suara ponselnya. Ada pesan singkat masuk melalui aplikasi bbm nya. Segera dia menggeser layarnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. 

"Sudah tidur, Nat?" 

Audrey segera tersenyum, padahal tadi Raffa sudah menghubunginya beberapa kali. "Belum. Nih lagi ngobrol sama Mama Papa," balasnya. 

"Membahas ulang tahunmu?" tebak Raffa. 

Audrey mengernyit, "Kok tahu?" balasnya lagi. "Kamu masih ingat tanggal ulang tahunku?" tanya gadis itu walau dia tahu kalau Raffa tak mungkin melupakan ulang tahunnya. 

"Aku bahkan hapal tanggal kelulusanmu dari SMP dan SMA," goda Raffa dengan emotikon kerlingan. 

Audrey tertawa pelan, "Bohong iih..." katanya. 

Beberapa saat tak ada balasan dari Raffa. Audrey pikir pria itu pasti ada kesibukan lain. 

"Masuklah ke kamarmu, sayang. Papa ikut geli melihat kamu senyum-senyum sendiri seperti itu," goda Eric yang disambut tawa istrinya. 

Audrey memberikan cengiran nakalnya, "Alasan Papa tuh... padahal Papa pengen pacaran sama Mama, kan? Makanya aku diusir masuk?" balas gadis itu. 

Eric terkekeh, "Iya dong... masa kamu aja yang bisa mesra-mesraan? Papa juga bisa."

Audrey tertawa. Malam memang semakin larut dan dia juga sudah merasa sedikit lelah. "Ya deh aku naik aja ke kamar. Gnite ya Pa... Ma..." ucapnya sebelum mencium pipi kedua orangtuanya dan berlalu dari hadapan mereka.

Baru saja dia merebahkan diri di kasur ponselnya berbunyi lagi. Segera dibacanya pesan yang masuk. 

"Nat... maaf ya? Aku tak bisa menemanimu saat hari ulang tahunmu minggu depan," ketik Raffa. 

Hati Audrey mencelos. Sebenarnya dia sudah siap jika tahun ini Raffa tak ada disisinya saat dia meniup lilin di atas kue tart-nya dan mendampinginya saat dia membuat pengharapan sambil memejamkan mata. Tapi mendengar sendiri dari Raffa kalau dia tak bisa datang mau tak mau rasa sedih itu tetap ada.

Jarinya mulai mengetik di atas ponselnya dengan lesu, "Nggak apa-apa kok, Al. Aku tahu kamu pasti ga bisa ninggalin Berlin saat ini," hiburnya walau sebenarnya dia sendiri yang butuh dihibur. "Tapi kirimi aku buket mawar yang besar ya? Yang warnanya biru," ketik Audrey lagi. 

Tak lama balasan dari Raffa datang, "Kalau aku kirim yang kecil kamu ga mau?" 

Audrey mengerutkan hidungnya, "Ga mau! Salah kamu sendiri ga bisa pulang pas ulang tahunku. Pokoknya aku minta yang besar," paksa gadis itu. 

"Baiklah, Tuan Putri... keinginanmu adalah perintah untukku," jawab Raffa desertai emotikon mahkota ratu.

Audrey tertawa pelan, lalu dia mengirimkan emotikan lidah terjulur. 

"Sekarang kamu tidur, ya? Sudah malam kan di sana? Ambil boneka Teddy besar mu dan peluk dia, melalui dia aku akan memelukmu sampai pagi," rayu Raffa.

Audrey terkikik geli, dia lalu meraih Teddy Bear coklat besar yang selalu duduk di tempat tidurnya. Boneka itu merupakan hadiah ulang tahun dari Raffa 3 tahun yang lalu. "Sudah, Tuan... aku sudah memeluk Teddy-mu," balas Audrey. 

"Tapi ingat satu hal..." balas Raffa. 

"Apa?" tanya gadis itu. 

"Boneka Teddy-nya jangan diilerin ya?" 

Audrey tersedak ludahnya sendiri, "Apa sih, Al... kamu tuh pasti ngeselin deh. Emang ga bakat jadi perayu ulung," seru Audrey disertai emotikon marah.

Di ujung sana Raffa terbahak-bahak, "Selamat Tidur, Nat-ku yang lucu. Have a nice dream, sweety," ketiknya diikuti emotikon ciuman.

Pipi Audrey memanas, "Have a good day to you too, Al," balasnya dengan emotikon pelukan.

Setelahnya ucapan selamat malam dari Raffa mengantarkan Audrey ke gerbang mimpi terindah.

●

●

Ternyata Eric merencanakan pesta ulang tahun yang cukup meriah untuk putrinya. Dia mengundang hampir semua dokter dan perawat yang bekerja di Rumah Sakitnya, juga anak-anak yatim piatu yang berdiri di bawah yayasannya. Eric dan Lidya sungguh ingin mengucapkan syukur untuk semua kebaikan yang diberikan Tuhan di dalam keluarga mereka.

Teman-teman kantor Audrey juga pada akhirnya diundang. Halaman samping kediaman keluarga Eric yang besar disulap menjadi tempat pesta kebun untuk acara ulang tahun Audrey sore hari ini. Di tiap sudut diberi hiasan balon dan pita berwarna putih dan biru. Begitupun dengan renda kursi dan meja makan, semua serba putih dan biru.

Gadis yang mengenakan gaun model A berwarna biru langit itu tampak begitu cantik dan anggun, tampak sederhana tapi elegan. Dengan senyum lebar dia menemui dan menerima jabatan tangan dari tamu-tamunya. Suasana yang begitu meriah, tapi meninggalkan kekosongan di sudut hatinya.
Tepat tengah malam tadi Raffa menelponnya, mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu menemaninya berbincang hingga hampir menjelang subuh. Begitu banyak permintaan maaf yang diucapkan pria itu karena tak bisa mendampinginya hari ini. Dn lagi-lagi dia harus berpura-pura kalau semuanya akan baik-baik saja tanpa kehadiran kekasihnya itu.

Audrey menghela nafas panjang, dia menatap buket mawar biru raksasa yang menghiasi tempat pestanya dengan begitu indah, 'Andai kamu di sini, Al', bisiknya dalam hati.

BRRRUUMMMM!!!!!

Sebuah suara keras membuyarkan lamunan Audrey, dia melihat ke arah halaman dimana sebuah LaFerrari Maranello berwarna merah melaju dengan cukup kencang sebelum berhenti tepat di depan teras rumahnya. Jantungnya berdebar, dia tak mengenal mobil itu, 'Mungkinkah?', harapnya.

Semua tamu yang hadir di situ tampak terpesona melihat mobil mewah yang baru saja datang, hanya orang yang sangat kaya lah yang mampu merogoh kantongnya untuk membeli mobil tipe itu. Suara-suara di sekitarnya sudah seperti lebah, semua saling bertanya siapakah yang berada di dalam mobil itu.

Mungkin hanya Audrey lah yang mendasah kesal dan kecewa saat melihat siapa yang keluar dari sedan sport merah itu, Pedro. Dibiarkannya pria itu berjalan dengan gayanya yang sok keren untuk mendekatinya. Banyak suara dari teman-temannya yang menggodanya, karena yang mereka tahu lelaki itulah kekasih Audrey. Audrey memang tak bilang kalau dia dan Pedro sudah putus, karena menurutnya itu bukan hal yang penting.

"Selamat ulang tahun, sayang," kata Pedro sambil menjabat tangan Audrey, dan dia tampak kesal saat gadis itu menjauhkan wajah darinya saat dia ingin mencium pipinya.

Audrey segera melepaskan tangannya dari lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu, "Terima kasih. Tapi bukankah aku tak mengundangmu?" tanya gadis itu tanpa basa-basi.

Pedro tersenyum seakan-akan gadis itu tengah bercanda, "Mungkin kau hanya lupa saja karena terlalu gugup bertemu lagi denganku, cantik," jawabnya penuh percaya diri.

"Bermimpilah terus, Pedro," kata Audrey dengan memasang senyum termanisnya. Sungguh dia mengutuk kehadiran pria itu di sini, merusak suasana hatinya yang memang sudah tak baik.

Pedro tertawa pelan, "Kuharap kau yang bangun dari mimpimu, sayang. Berhentilah bermimpi mengharapkan pangeran berjas putihmu datang hari ini. Kekasih mana yang tega membiarkan hari ulang tahun gadisnya begitu saja? Hanya lelaki bodoh yang tak memiliki otak," desis pria itu di dekat telinga Audrey.

Hampir saja Audrey menampar pipi Pedro kalau saja Mamanya tak segera menghampirinya, "Acaranya kita mulai sekarang, sayang. Ayo tiup lilinmu," katanya sambil menggandeng tangan putrinya dan membawanya ke tengah-tengah acara.

Audrey tampak begitu kesal, wajahnya memerah karena amarah, terlebih saat Pedro memilih berdiri di sampingnya seolah-olah dia masih kekasihnya.

"Abaikan emosimu, sayang. Tutup matamu, dan ucapkan pengharapanmu," kata Eric pada putrinya.

Audrey menarik nafas panjang, mencoba menghalau rasa kesalnya dan mengabaikan kehadiran Pedro di sisinya. Pelan dia mulai memejamkan mata dan mengabaikan suara-suara di belakangnya yang kembali berdengung seperti lebah. Entah apa yang dibisikkan para tamu itu. Mungkin mereka masih membicarakan Pedro dan mobil mewahnya, batin gadis itu.
Audrey pun memulai doanya dalam hati, 'Tuhan... Kau yang paling tahu apa yang aku harapkan saat ini. Bahagiakan kedua orangtuaku, Tuhan. Lalu berikan juga kebahagiaan untuknya, untuk dia yang begitu ingin kupeluk saat ini. Sampaikan padanya kalau aku begitu merindukannya, dan bawalah dia untuk segera mendampingiku. Amin'.

"Bukankah kamu telah berjanji kalau tak akan ada laki-laki lain di sampingmu saat aku pulang?"

Audrey tersentak, matanya langsung terbuka, mimpikah dia? Suara yang berbisik tepat di telinganya itu... benarkah? Segera saja gadis itu membalikkan tubuhnya, dan di hadapannya kini telah berdiri seorang pria dewasa yang begitu tampan dengan kacamata bening yang bertengger di batang hidungnya. Dia segera menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya, matanya terbelalak tak percaya. Senyum itu... tatapan itu... aroma parfum yang sangat dikenalnya. Pandangannya segera saja mengabur oleh air mata, jantungnya bergemuruh dengan kencang seolah akan terlepas dari tempatnya. Secepat inikah Tuhan mengabulkan doanya?

"Aku pulang, Nat," kata Raffa sambil merentangkan tangannya.

Tak perlu diminta segera saja Audrey menghambur ke dalam pelukan pria itu, dia menangis, menumpahkan semua rasa rindunya yang tak tertahankan lagi. Dekapan pria itu masih sama, masih sehangat dulu. Debar jantungnya juga masih sama, masih mebuatnya merasa begitu nyaman, seolah dia tahu dimana tempat seharusnya untuk pulang.
"Jahat!!!" ucapnya di antara isaknya, "Terus aja bohongin aku. Al jelek!!!" katanya lagi sambil memukuli punggung pria itu.

Raffa tertawa, dipeluknya tubuh gadis itu semakin erat, lalu diciuminya rambut ikalnya yang halus dan harum, "Aku ga bohong. Aku benar-benar pulang untuk kamu kok," belanya.

Audrey menjauhkan tubuhnya dengan wajah cemberut dan basah oleh airmata, untung saja dia bukan tipe gadis yang suka memakai make up tebal sehingga airmata tak terlalu membuat wajahnya kacau, "Kenapa ga bilang terus terang aja sih kalau bisa pulang?" rajuknya. Mereka lupa kalau banyak mata yang melihat mereka.

Raffa tersenyum, dia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya yang hangat, lalu menghapus sisa airmata di pipi putih kekasihnya, "Tapi kamu suka, kan?" bisiknya.

Audrey tersenyum dan mengangguk, dia tak bisa membohongi siapapun jika kebahagiaan besar tengah terpancar dari matanya saat ini.

"Apa kau ingin aku tetap berada di sisimu?" tanya Raffa lagi dengan sedikit gugup.

Audrey mengernyit bingung, lalu dia mengangguk lagi, karena dia memang ingin Raffa selalu berada di sisinya.

Raffa memandang Eric dan Lidya yang berdiri di belakang gadis itu, lalu tersenyum saat keduanya menganggukkan kepala.

Audrey segera menoleh ke belakang dan mulai paham kenapa Raffa tak segera memeluk kedua orangtuanya, "Pasti Papa dan Mama sudah mengetahui kepulangan Al, ya?" tuduhnya. Dan dia kembali cemberut saat keduanya hanya tertawa. 

"Nat..."

Panggilan Raffa membuat Audrey kembali menatap pria itu. Perutnya bergelenyar saat Raffa meraih satu tangannya lalu menggenggamnya. Jantungnya kembali berlompatan saat mata teduh Raffa menatap lurus padanya.

Setelah menarik nafas panjang dan meredakan debar jantungnya yang menggila Raffa pun melanjutkan kata-katanya dengan sedikit gugup. "Nat... aku masih harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan study dan pekerjaanku di Jerman. Dan tentu saja aku tak bisa terus mendampingimu," ucap pria itu tanpa melepaskan tatapannya pada Audrey.

Audrey tercekat, dadanya kembali tergores. Dia tahu, sangat tahu. Tapi membayangkan Raffa jauh lagi darinya dia kembali merasa takut. Takut kehilangan rasa hangat dan nyaman yang diciptakan oleh pelukan dan genggaman tangan Raffa. 
Tapi gadis itu tetap mengangguk walau dengan terpaksa. Dia terus belajar untuk memahami kesibukan Raffa-nya.

"Tapi... aku juga tak ingin terus jauh darimu, Nat," lanjut Raffa.

Audrey meremas tangan Raffa lebih erat, ada seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Apa yang akan dikatakan oleh Raffa? Dan jantungnya semakin menggila saat pria itu justru berlutut dengan satu kaki di hadapannya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Suara-suara ribut mulai terdengar di sekitar mereka, seakan semua bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh dokter tampan yang dingin itu.

"Audrey Nathania, menikahlah denganku. Dampingi aku hingga sang waktu tak memiliki alasan lagi untuk memisahkan kita. Hingga nafas kita sama-sama lelah dan terhenti. Lalu setelahnya teruslah dampingi aku di kehidupan-kehidupan kita yang selanjutnya, dan selanjutnya. Aku mencintai kamu, Nat," ucap Raffa dengan tegas dan penuh keyakinan.

Airmata segera membanjiri pipi Audrey, mulutnya kembali terbuka tanpa suara. Bermimpikah dia? Raffa melamarnya di hadapan kedua orangtuanya dan di hadapan para tamu yang hadir di pesta ulang tahunnya. Al-nya menawarkan kebahagiaan di depan mata semua orang tanpa ragu, memberikan hidupnya untuk terus berada di sampingnya.

"Nat?" Raffa mulai kehilangan percaya dirinya saat gadis itu hanya diam saja sambil menangis.

Audrey mengusap airmatanya dengan tangan yang tak digenggam Raffa, dia sudah yakin akan jawabannya. Jika dia merasa begitu takut kehilangan Raffa maka ini adalah pilihan yang paling benar. Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan, "Ya... aku mau, Al. Aku mau menikah dengan kamu dan mendampingi kamu untuk selamanya," jawabnya tegas tanpa keraguan.

Raffa memandang Audrey seakan tak percaya pada apa yang diucapkan gadis itu. Rasa lega membuncah di dadanya saat melihat anggukan dan senyum bahagia gadisnya. Segera saja dia berdiri dan memeluk pinggang Audrey yang otomatis membuat kaki gadis itu melayang karena tubuh Raffa yang tinggi. Audrey memekik saat pria itu justru memutar tubuhnya, lengannya memeluk pundak Raffa dengan kencang seakan takut terjatuh.

Suara tepukan tangan bergemuruh di tempat itu, bahkan tak ada yang memperhatikan bagaimana Pedro meninggalkan kediaman Eric dengan wajah kesal dan malu.

Lidya menangis haru dalam dekapan suaminya, Tuhan mengabulkan doa mereka, tak ada pria yang lebih baik dari Raffa yang dapat mereka percaya untuk menjaga dan mencintai putri kecil mereka yang kini telah tumbuh dengan begitu cantik dan bahagia.

Raffa menurunkan tubuh mungil Audrey lalu merogoh kantong celananya. Disodorkannya kotak hitam kecil pada Audrey. Dan gadis itu terpana saat Raffa membuka tutupnya. Sebuah cincin emas putih polos dengan hiasan mawar kecil yang terbuat dari batu safir berwarna biru di tengahnya tampak begitu indah.

"Kamu sudah siapkan cincin ini sejak kapan? Mawar biru kecil yang pernah kau sebutkan beberapa waktu yang lalu," tanya Audrey masih dengan tatapan bahagia melihat cincin yang disodorkan Raffa.

"Sejak pertama kali tiba di Jerman," jawab Raffa sambil mengambil cincin itu dari kotaknya. "Aku teringat kamu yang menyukai warna biru saat melihat cincin ini, juga bunga kesukaan kamu," katanya lagi sambil meraih telapak tangan kiri Audrey lalu memasangkan cincin itu di jari manisnya, "Untuk calon istriku yang kecantikannya bahkan tak bisa disaingi oleh batu permata ini," bisiknya lembut.

Audrey terkikik geli mendengar gombalan Raffa. Hatinya membuncah oleh haru, ternyata benar kata kedua orangtuanya kalau Raffa memang sudah mencintainya sejak dulu. Tapi tawanya langsung hilang saat Raffa mendekatkan wajahnya. Gadis itu memejamkan matanya, dan jantungnya kembali berulah saat bibir tipis Raffa menyapa lembut bibirnya yang merah. Nafasnya terasa sesak. Ciuman pria itu begitu lembut, begitu hangat, dan tak menuntut. Raffa menyentuhnya dengan penuh perasaan, dengan penuh pemujaan. Menyentuhnya dengan begitu hati-hati seakan takut melukainya, sehingga airmata Audrey mengalir begitu saja. Tak pernah dia dicintai dengan penuh ketulusan seperti cara Raffa mencintainya. "Aku mencintai kamu, Al. Sangat mencintai kamu," bisik Audrey setelah Raffa memisahkan bibir mereka.

Raffa tersenyum bahagia, lalu pria itu memeluk erat kekasih hatinya. Kini hatinya telah terbentuk dengan sempurna, dengan Nat-nya yang berada dalam dekapannya berlatar belakangkan jingganya senja.

SELESAI





A.N : 
Yeaaaayyy... akhirnya kelar juga. Baiklah... saya tunggu jejak-jejak kakinya yaaa #pelukcium muach... muach \(^o^)/ 

Happy B'day, Ness... wish you all the best lah pokoknya. Moga panjang umur, sehat selalu, dan lancar selalu pekerjaan dan rejekinya. Juga dilimpahi kebahagiaan dalam hidup dan keluarga. Aamiin...
Tahun depan jangan minta kado cerpen lagi ya, Nes... sebab tahun depan kayanya aku males nulis cerpen #eeh xDD

18 komentar:

  1. Sukaaaa...romantis bangeeeet.
    Makasih dah bikin cerita yang keren mbak Lluvia.

    Ditunggu karya berikutnya yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah klo seneng mbak, aku penuhi yang minta manis2, hehehe
      makasih juga mbak udah mau selalu baca karyaku #peluk2 #cium2

      Hapus
  2. so sweet...selalu bikin aq terpesona sama karyanya mba Liuvia, ditunggu kisah2 romantis lainnya..aq masih setia nungguin teach me please??

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kah? aaawww pujianmu bikin aku pengen terbang kaya angry bird, mbak xDDD
      Makasih ya, mbak... Teach Me Please insha Allah segera tak selesaikan #peluk2

      Hapus
  3. Wkwkwkwk...c pedro ke laut aja
    Ada ya cowo kaya gitu ishhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru klo ga ada cwo model begitu maka dunia bakal membosankan, mbak... ga ada yang bisa dijelek2in #eeeh xDD
      makasih mbak... #peluk2

      Hapus
  4. Pedroo...kelaut ajah sana main ma ikan hiu
    Haduh...dokter ganteng... luv u full dehhhh...
    Qiqiqi

    *gagalfokuskayanyanihmballuvia

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.... tapi kan yang ini pake kacamata, mbak... jadi ga mirip kok xDD
      Pedro udah temenan ama piranha di amazon kok #plaakk

      makasih mbak cantik... #cium2 :*

      Hapus
  5. bagus-bagus mbak cerpen yg ada di blog nya menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... makasih pujiannya, dan terima kasih juga sudah bersedia baca :)

      Hapus
  6. ceritanya menarik dan romantis mbak,saya suka.
    sukses terus buat artikel selanjutnya yaa mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak udah mau mampir buat baca dan meninggalkan jejak kaki ^_^

      Hapus
  7. KYAAAAAAAAA......
    -Tendang Pedro
    -Geser Nat
    -Peluk AL kenceng-kenceng..kan aku yang Ultah #modus
    hahhahaaaa....
    Bener kan nyesel kau Nat, untung aja authormu kejar setoran untuk tgl 8 jadi ga panjang2in dirimu punya penderitaan, kalo ga pasti dibikin mewek2 lima ember dirimu. XD
    Tapi sebelnya ama keluarga Pedro kebales ama semprotannya Nat, xixixi.
    Kok Pedro ga kau gampar Cin? ga seru ah, harusnya kau layangkan high heelnya Nat ke muka Pedro, biar tahu rasa tu cowok tengil, gaya borjuis mental bencis, wkwkwkkw.
    Oh AL,cweeettt banget deh...jadi pengen maen ke RS siapa tahu ketemu dokter seganteng AL. Kira2 dimana ya aku bisa ketemu siganteng AL..#lirik2authorcantik
    Peluk Via, cium Via....arigatoooo ya Cin...tenang aja, tahun depan aku ga minta cerpen kok tapi minta novel, hahahhaahahaa
    Makasih juga buat doanya, yuk move on bareng2, XD
    Tinggal aku yang punya hutang sama mu ya...sampai ketemu di lain cerita yang lebih manis, muahhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja si Pedro ga gw hajar abis2an, krn kelakuan Nat udah cukup labil, jadi jangan ditambahin lagi labilnya. Calon ibu dokter ga boleh barbar dong kelakuannya #kibasinponi #eeeh xDD
      dokter semodel Al itu cuma hayalan, suer... krn dokter yg gw kenal kelakuannya sungguh absurd klo ga pake topeng #orz.
      Sukur deh klo kau suka, kirain bakal jadi aneh sebab ini kan cerpen kejar tayang, wkwkwk
      ya udah siapin gih kadoku #nunggusambilkipas2

      Hapus
  8. bagus dan menarik cerpennya. ditunggu yaa mbak cerpen selanjutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak udah baca dan ninggalin jejak, mbak ^_^

      Hapus
  9. ayo dong mbak nge blog lagi!! saya akan tunggu cerita-cerita menarik lainnya.

    BalasHapus