"Hujan lagi..." desahku dari balik jendela kantor. Kusandarkan sisi tubuhku pada jendela kaca yang terasa dingin. Pandanganku menerawang jauh, mengikuti pikiranku yang terbang pada peristiwa beberapa waktu silam bersamamu.
#
"Adalah keputusanku untuk kembali padanya," ucapku sore itu di antara gemuruh hujan di luar sana.
Kau terdiam. Dari ujung mataku yang masih menatap hujan dari jendela kaca di samping kiriku aku tahu jika teduh matamu yang saat itu berubah gusar tengah lurus memandangku.
"Lalu kita?" tanyamu lirih.
Aku mencoba untuk tak mengalihkan mataku dari tetesan air yang selama ini selalu mampu membuatku tenang itu. Aku bertahan untuk tak menatapmu, agar aku tak kembali terpuruk pada perasaanku sendiri.
"Vi... lalu bagaimana dengan kita?" ulangmu.
Ada getar pada suaramu yang selalu lembut. Ada putus asa yang sama dengan rasa yang saat itu telah mencabik habis bentuk hatiku.
Aku mencoba tersenyum pada hujan di luar jendela kaca itu walau terasa getir. Kutahan sesuatu yang basah di ujung mata agar tak jatuh dan luruh, "Kembalilah padanya, Al..." jawabku yang nyaris seperti bisikan saja. Berbeda dengan suara jantungku yang berdebar dengan begitu kerasnya hingga kurasakan sakit yang teramat sangat.
Aku tersentak saat kurasakan tanganku telah berada dalam genggamanmu. Genggaman yang selama ini telah menjadi tempat untukku pulang.
"Aku tak pernah meninggalkannya, Via," jawabmu yang akhirnya berhasil memaksaku untuk memalingkan wajah dari deras hujan dan memandang lurus manik hitammu yang teduh, yang selalu menjadi tempat persembunyianku dari kejaran rasa sepi dan takut.
"Tak pernah sekalipun aku meninggalkannya, tak pernah," tegasmu lagi.
"Al..."
"Aku tak pernah sekalipun menyingkirkannya dari kepalaku, apalagi dari hatiku," kerasmu.
"Tapi kau telah menyingkirkan setengah tempatnya untuk kudiami, Al!!! Ini tidak adil untuk dia!" tegasku. Kulihat kau segera terdiam dan membeku.
"Begitupun aku. Aku telah memberikan separuh tempatnya padamu. Ini tak adil untuk mereka, Al..." bisikku lirih dengan tangan gemetar yang dengan erat kau genggam.
Saat itu kau tak menjawab, kau hanya menatap tautan tangan kita dengan bibir terkatup rapat.
"Percayalah... bukan kita yang paling tersakiti jika semua ini terlanjur dalam. Bukan kita, Al..." kataku sambil menahan isak yang telah menggantung di ujung lidah.
Akhirnya kau mengangkat wajahmu yang kini tampak pias, "Vi..."
"Jangan mereka, Al... jangan mereka yang menanggung semua luka karena kita," potongku.
"Biar aku saja yang hancur, aku saja yang memikul sakitnya."
"Via... jangan teruskan. Kamu tak seharusnya..."
"Bukan... bukan karena aku sok ingin dipandang sebagai korban, bukan. Aku juga tak ingin dikasihani. Tapi memang seperti inilah yang seharusnya kuterima akibat kelancangan perasaanku padamu," potongku lagi.
"Hentikan, Via... ini bukan hanya salahmu. Kita hanya tak mampu menahan apa yang tumbuh dalam hati kita," jawabmu.
"Hanya, katamu? Kau bilang semua ini cuma sekedar 'hanya'?" kataku tak percaya.
"Tidak, Via... kau tahu maksudku tidak seperti itu," katamu.
Kubiarkan kau menciumi bukubuku tanganku yang mulai dingin. Aku tahu kau berusaha menenangkanku.
Kubiarkan rasa hangat itu memelukku untuk yang terakhir kalinya. Andai kau tahu betapa besar rasa cintaku untukmu. Andai kau tahu bahkan aku pun bersedia menukarkan segalanya untuk dapat selalu berada di dalam pelukmu. Semuanya... kecuali melukai mereka.
"Lalu bagaimana aku tanpamu?" tanyamu dengan nada suara yang begitu pilu. Kau pejamkan matamu seakan berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan hilang jika pagi tiba.
Kulepaskan perlahan jemariku dari genggamanmu lalu kusentuh lembut pipimu yang sedikit kasar, "Kau akan baik-baik saja, Al. Kita akan baik-baik saja," jawabku dengan memaksakan senyum di antara getar bibirku.
Kau hanya diam. Hanya memandangku dengan keraguan yang begitu besar. Lalu kembali meraih jari-jariku dan menggenggamnya lagi seperti tadi.
Aku tahu... kita sama-sama takut kehilangan. Tapi kita bisa apa?
Aku berdiri, dan tatapanmu mengikutiku. Kucoba untuk melepaskan lagi tanganku darimu.
"Jangan pergi, Via, kumohon..." pintamu penuh pengharapan.
Aku tercekat, aku hampir tak mengenalimu yang seperti itu. Kau tampak begitu rapuh. Tak kulihat sama sekali ketenangan yang selama ini selalu kau tunjukkan di hadapanku, di hadapan semua orang. Kau tampak begitu kalut, begitu penuh emosi. Tapi aku tetap menggeleng pelan, aku tak boleh kalah oleh perasaanku sendiri. Aku harus menyudahi semuanya.
"Kalau kau menyayangiku... tolong pikirkan perasaanku, Al. Pikirkan betapa sakitnya menyimpan rasa bersalah yang semakin hari semakin terasa begitu menyiksa ini," jawabku penuh rasa perih akibat sesak yang begitu menghimpit dada.
Dan rasa sakit itu kian menjadi saat akhirnya kau benar-benar melepaskan tanganku perlahan. Tapi bukankah aku sendiri yang memintanya? Bukankah ini adalah pilihanku sendiri?
"Aku menyayangimu, Vi... selalu menyayangimu," katamu setelah kita sama-sama berdiri dan saling berhadapan dengan meja cafe sebagai perantara.
Kulihat kau lalu menunduk, menekuri bentuk meja di bawahmu sembari kembali berbisik, "Aku tidak pernah tidak menyayangimu, Via... karena itu aku akan melepasmu. Pergilah..."
Kali ini aku kalah, kubiarkan airmata lolos dari kurungan retinaku. Kuanggukkan kepalaku yang terasa begitu berat. Semuanya sudah benar-benar berakhir, dan aku jadi tahu bagaimana bentuk kehancuran yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Al," kataku dengan senyum yang terukir di antara derai airmata.
Lalu kulangkahkan kakiku keluar untuk menerobos hujan. Kubiarkan seluruh derasnya menyirami lukaku, lalu menyamarkan derai tangisku.
Kutinggalkan cintaku di belakang sana. Kukuburkan semua mimpiku untuk bahagia bersamanya.
"Maafkan aku, Al... aku terlalu takut jika kelak aku tak bisa lagi melepasmu. Maafkan aku," lirihku di antara gemuruh hujan.
#
BLAARRR..!!!
Suara halilintar menyadarkan lamunanku. Segera kuusap pipiku yang ternyata telah basah oleh butiran bening yang mengalir dari mataku.
Aku kembali mendesah. Kutinggalkan jendela kaca itu dan kembali ke kursiku. Ada begitu banyak cerita tentang kita, Al. Cerita tentang aku, kamu, dan hujan yang selalu menemani hari-hari kita.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar