Sabtu, 18 Februari 2017

Rasa Yang Tersisa

Dan pada setapak gelap aku tergagap. Padam lentera yang tergantung pada ranting-ranting tua, sementara angin meniupkan daun-daun kering yang terserak, dingin.

Ada gigil yang ditinggalkan oleh gerimis-gerimis kecil. Sementara angan terus bermain dengan bayang di dalam kenang.

Ini tentang kamu dan aku, yang masih menjadi kita... dulu. 

Entah berapa goresan cerita tertuang di buku kehidupan, dan berakhir saat sadar yang kita lawan adalah takdir.

Kini kita telah kembali menjadi aku dan kamu. Dimana sepasang hati yang dulu kukuh menjadi rapuh. Dimana sepasang mata yang dulu bersinar kini hanya mampu menatap nanar. 

Kita sudah kalah, sudah menyerah. Sudah waktunya kembali mengumpulkan serpihan rasa, menata ulang kepingan hati yang terberai. Mungkin tak lagi bisa sempurna, mungkin masih tertinggal jejak-jejak luka, tapi tak apa. Bukankah dulu kita sepakat untuk bahagia? 

Untukmu yang pernah singgah dan bertahta di dalam dada.... aku masih menyimpan seribu rasa yang terpaksa kukuburkan bersama mimpi-mimpi kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar