Mencoba kembali dengan cerita dan tokoh-tokoh yang baru, semoga suka ya... hehe.
happy reading ^_^
Dan langkah-langkah cepatku pun perlahan terhenti saat kulihat sosok yang begitu kukenal ada di ujung koridor sana. Degup jantung yang mulai tak tenang sejak turun dari taksi di area parkir tadi semakin terasa tak karuan, sesak. Pria tampan yang mengenakan jubah putihnya itu masih seperti terakhir kali aku melihatnya. Matanya yang teduh, senyum lebarnya yang membuat semua orang ikut tersenyum, semua masih sama. Hanya saja kulihat dia agak sedikit kurus, tapi tak mengurangi daya pikatnya. Pria berusia 30 tahun itu tetap saja mempesona.
happy reading ^_^
__________________
Dan langkah-langkah cepatku pun perlahan terhenti saat kulihat sosok yang begitu kukenal ada di ujung koridor sana. Degup jantung yang mulai tak tenang sejak turun dari taksi di area parkir tadi semakin terasa tak karuan, sesak. Pria tampan yang mengenakan jubah putihnya itu masih seperti terakhir kali aku melihatnya. Matanya yang teduh, senyum lebarnya yang membuat semua orang ikut tersenyum, semua masih sama. Hanya saja kulihat dia agak sedikit kurus, tapi tak mengurangi daya pikatnya. Pria berusia 30 tahun itu tetap saja mempesona.
Dia tidak melihatku, dia disibukkan oleh dokter-dokter muda itu, juniornya di Rumah Sakit terbesar di kotaku ini. Idola para wanita, kataku dulu, mungkin juga hingga saat ini. Aku menundukkan kepala lalu tersenyum miris saat kurasakan debar lama itu kembali terasa.
Ingin kuurungkan langkah dan memutar mencari jalan ke arah lain. Sungguh bertemu dengannya di sini adalah satu-satunya ketakutanku. Setelah apa yang telah kami putuskan dua tahun yang lalu aku tak berharap melihatnya lagi dalam waktu dekat ini.
Aku menarik nafas panjang setelah kuangkat lagi pandangan untuk kembali menatapnya dari kejauhan, lalu perlahan mundur untuk bersembunyi di sudut teras gedung yang sedikit sepi. Kusandarkan punggung di tembok putih yang dingin itu, kutengadahkan wajah menghitungi butiran hujan yang telah turun sejak sebelum aku menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini untuk mengunjungi sahabat baikku, Rena.
Rasa sakit itu masih membekas, masih terasa begitu nyata.
Raditya Kurniawan, kekasihku ketika aku menyandang status sebagai mahasiswi di perguruan tinggi swasta yang sama dengannya. Dia 3 tingkat di atasku, hanya saja kami berbeda jurusan, dia di kedokteran, sementara aku mengambil jurusan akutansi perpajakan. Kampus kami tak jauh sehingga kami sering bertemu, entah itu di perpustakaan atau pujasera tempat para mahasiswa sering menghabiskan waktu istirahatnya.
Lima tahun kami menjalin hubungan, bahkan keluarga kami pun sudah saling mengenal dan memberikan restunya. Di dalam otakku sudah terpatri jika kelak akulah yang akan mendampinginya, yang akan menjadi istrinya, dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Hingga dua tahun kemarin dimana dia datang padaku dan mengatakan jika... seorang gadis muda yang begitu cantik, dokter muda yang berada di bawah bimbingannya, juga putri dari seorang dokter senior yang begitu dia hormati.... hamil... olehnya.
Masih kuingat dengan jelas bagaimana ekspresinya saat mengatakan hal itu. Saat aku tertawa dan menuduhnya bercanda dia bahkan sama sekali tak menatapku, tersenyum pun tidak. Hanya wajah piasnya yang tertangkap oleh mataku yang mulai kabur dan berkaca saat menyadari kalau semua itu bukan sekedar mimpi buruk. Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupku aku merasa hancur dan tak berguna lagi. Bagaimana bisa dia yang selama ini memperlakukan aku layaknya seorang Ratu mampu menyakitiku sedalam ini? Dia yang selalu menjaga dan menghormatiku sebagai seorang wanita justru mampu menghamili perempuan lain yang bahkan baru dia kenal beberapa bulan saja? Bagaimana bisa? Aku yang pernah hampir kehilangan batas-batas norma saat bersamanya... dia justru menolakku dengan mengatakan jika dia terlalu mencintaiku dan tak akan menyentuhku sebelum Tuhan memberikan restunya. Lalu kenapa dia bisa melakukannya dengan perempuan lain?
Dan pada akhirnya aku hanya mampu menahan diri untuk tak segera mengakhiri hidupku saat kudengar kabar pernikahannya yang bahkan dia tak mengundang atau memberikan kabar padaku.
BLAARRRR!!!!
Suara petir yang begitu besar membuatku terkejut dan otomatis membuatku berteriak sambil menutup telinga. Oke... aku memang menyukai hujan, tapi tidak berikut petirnya.
Suara tawa yang berat terdengar di sampingku, segera saja kutolehkan wajah untuk melihat siapa orang yang telah lancang menertawakanku itu. Kulihat seorang pria dewasa dengan wajah sedikit bule menatapku masih sambil tertawa terbahak. Bahkan dia tak sungkan sama sekali membiarkan mulutnya terbuka lebar tanpa ditutupi tangannya.
"Kamu pikir ini lucu?" gerutuku sambil memalingkan wajah kembali menatap langit yang begitu gelap di awal senja ini.
Pria itu menghentikan tawanya, "Ya, lucu. Bahkan putraku pun berani menantang petir," jawabnya lalu kembali terkekeh.
Aku hanya berdecak kesal tanpa memandangnya lagi. Malven Julian namanya. Dia adalah pria matang yang gila kerja. Pengusaha eksport impor yang perusahaannya diincar oleh ribuan pencari kerja. Seorang duda kaya idaman para wanita yang katanya tak percaya akan cinta. Baginya cinta hanyalah sebuah omong kosong belaka. Ah tidak... sebenarnya dia memiliki cinta, cinta pada putra tunggalnya yang hidup bersama ibunya, mantan istrinya.
Bagaimana aku bisa tahu kehidupannya? Haaah... dia adalah paman dari Rena, sahabatku.
"Sudah bertemu Rena?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng sambil menunduk. Kutatap genangan di depan teras koridor samping. Menikmati riaknya kala tetesan hujan yang kini tinggal gerimis menyapa permukaannya.
"Kenapa? Jangan-jangan kamu menungguku?" ada nada menggoda dari bibirnya yang biasa bicara apa adanya itu.
Aku hanya mendengus dan menantang tatapan mata pria berusia 40 tahun itu. Yaah... 40 tahun. Tidak, dia tidak tua, bahkan terkesan begitu dewasa, manly. Jambang tipis yang menghiasi kedua sisi wajahnya menambah kesan kuat selain tatapan matanya yang tajam.
Malven menyeringai lalu berjalan mendahuluiku, "Ayo!" ajaknya.
Aku masih ragu untuk melangkah, aku masih belum siap bertemu Raditya, pria yang berhasil meluluhlantakkan hidupku.
Aku melihat Malven menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk melihatku. Mungkin dia merasa kalau aku masih berdiam di tempatku.
"Kenapa? Minta kugendong?" tanyanya sambil mendekatiku.
Otomatis aku mundur dan menjauh. Entah kenapa aku sedikit takut pada paman sahabatku itu.
Malven berdecak sambil berkacak pinggang, "Vall... aku tidak sedang berusaha memperkosamu, tenanglah," guraunya.
Aku memendelikkan mata dan menyingkirkan tubuhnya dengan tanganku untuk dapat melewatinya. Tanpa banyak bicara kutinggalkan dia di belakang.
Pria yang menyebalkan. Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu saat dia baru kembali dari Australia untuk mengembangkan bisnisnya di Jakarta, tempat asalnya. Nenek Rena memang dari Australia, tapi setelah menikah dengan kakeknya yang warga negara Indonesia asli otomatis kedua orang anaknya, ibu Rena dan Malven, juga berkebangsaan Indonesia.
Karena persahabatanku yang sudah begitu lama dengan Rena, sejak kami menjadi Mahasiswa di jurusan yang sama, aku jadi sering bertemu dengan Malven, dan mengenalnya lebih jauh dari cerita-cerita Rena bahwa pria itu telah bercerai dengan Anita, mantan istrinya, dan memiliki seorang anak lelaki dari pernikahan mereka yang kini berusia 15 tahun, Kenzo. Pernikahan mereka hanya bertahan 3 tahun saja, karena keduanya merasa tak nyaman dengan pernikahan mereka. Mungkin karena Malven dan Anita berteman baik sejak lama. Tanpa melalui proses berpacaran yang lama merekapun akhirnya menikah dan memiliki Kenzo setahun setelahnya. Dan berpisah 2 tahun kemudian.
Hubungan yang aneh, pikirku saat itu. Kalau memang tak merasa yakin kenapa harus menikah? Aku yang sudah begitu yakin saja nyatanya bisa gagal.
DUGGG!!!
Aku terhuyung ke belakang saat kurasakan jika aku telah menabrak keras tubuh seseorang. Untung saja tangan sigap di belakang menahan tubuhku yang cukup kecil ini sehingga aku terhindar dari rasa malu.
Aku langsung menoleh ke belakang, dan mendapati Malven lah yang membantuku.
"Thanks," ucapku yang hanya dijawab kedikan kepala saja olehnya.
"Maaf, anda tidak apa-apa?" tanya sebuah suara yang nyaris saja merampas kesadaranku.
Tubuhku menegang saat itu juga sampai rasanya aku tak berani memalingkan wajah untuk melihat siapa yang baru saja kutabrak. Aku hanya menatap mata coklat terang milik Malven, berharap mendapat keberanian dari sana.
"Are you okay? Kau pucat," kali ini nada suara Malven tampak sedikit cemas.
Aku tak menjawab.
"Maaf, nona... apa anda baik-baik saja?" suara orang itu kembali terdengar. Dan aku memberanikan diri untuk melihatnya.
Setiap detik perputaran kepalaku rasanya begitu berat, begitu sakit. Dan saat pada akhirnya aku benar-benar melihatnya rasa sakit yang dulu pernah tercipta kembali menyerang seluruh saraf di tubuhku.
Wajah itu, aku melihatnya lagi, begitu jelas kali ini, tak dari jarak jauh lagi seperti tadi. Dan dari jarak sedekat ini ternyata rasa sakit dulu kembali memelukku, masih sempurna meremas seluruh bentuk hatiku. Mata itu, bibir itu, dan tubuhku terasa begitu lemas dalam dekapan Malven yang sejak tadi tak melepaskan kedua lenganku dari cengkeramannya.
"Vallerie..." kulihat Radit sama terkejutnya denganku. Wajahnya yang putih semakin tampak pucat.
Aku menutup mata erat-erat, kututupi wajahku dengan kedua tangan. Suaranya, bahkan caranya memanggilku pun masih sama seperti dulu.
"Vall? Kenapa?"
Suara Malven menyadarkanku. Kuraih tangannya yang memegang lengan kananku, terasa begitu hangat, atau memang tanganku yang telah menjadi begitu dingin? Karena aku sempat merasakan Malven sedikit berjengit saat aku menyentuh tangannya.
Aku memalingkan wajah ke samping, seakan tahu apa keinginanku pria blasteran itu menundukkan kepalanya dan mendekatkan telinganya ke arahku.
"Ven, please... bawa aku pergi dari sini, please," pintaku lirih.
Malven menatapku tajam, lalu tanpa bersuara dia segera menggiringku menjauh dari tempat itu. Lengannya yang kokoh merangkul bahuku yang rasanya tak lagi bertulang. Andai tak ada lengan itu pasti aku tak akan mampu mengangkat kaki walau hanya satu senti saja.
"Vallerie...!!!"
Aku mendengar Radit memanggilku beberapa kali, tapi aku tak mampu menghentikan langkah, atau lebih tepatnya tak ingin berhenti.
Aku tak melihat kemana Malven membawaku, bahkan aku tak mendengar apa yang dia tanyakan atau katakan sepanjang jalan, bahkan aku tak merasakan apapun sampai kusadari kalau aku sudah berdiri di depan kamar 202, kamar Rena.
"Kau mau masuk atau mau pergi ke sebuah tempat dulu?" tanya Malven.
Aku ragu. Sebenarnya aku ingin pulang saja, tapi tak mungkin rasanya jika aku tak segera menjenguk Rena yang baru saja melahirkan, sahabat macam apa aku? Tapi di sisi lain perasaanku juga sedang sangat kacau.
Tidak... Rena jauh lebih penting, putusku.
Kuusapkan kedua tangan ke wajahku, lalu mencoba untuk tersenyum entah pada siapa. Aku tak boleh merusak moment bahagia sahabatku sendiri.
Setelah menghela nafas panjang aku segera mengetuk pintu di depanku dan segera masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.
"Vall...!!!" pekik bahagia seorang perempuan sebayaku yang berambut coklat pendek itu langsung menciptakan senyum lebih lebar di wajahku.
"Hai... selamat ya, mama baru," ucapku sambil memeluk erat tubuh jangkung sahabatku itu. Wajah cantiknya tampak begitu bersinar dan membuatnya semakin tampak sempurna. Kusembunyikan raut sedihku sebisa mungkin, aku tetap tersenyum bahagia melihat wanita muda yang baru saja menjadi ibu itu.
"Thanks, cinta... akhirnya kamu datang juga," jawabnya riang setelah kami melepaskan pelukan kami. "Hai, Uncle," sapa Rena pada Malven yang ternyata sudah berdiri di dekat kami.
"Congratulation, baby," ucap pria itu yang menggantikanku memeluk keponakannya.
"Thanks," jawab Rena yang sedikit mengambang karena matanya sibuk menyelidiki kami yang datang berdua. "Kalian datang bersama?" tebaknya dengan senyuman tertahan.
Aku segera menggeleng, "Kami hanya bertemu di bawah," jawabku jujur, karena memang awalnya begitu. Bisa kulihat seringaian di bibir Malven dan aku mencoba untuk tidak memedulikannya.
"Mana keponakan baruku?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hanya ada Rena sendirian.
"Reno sedang mengambilnya di ruang bayi," jawab Rena.
"Para kakek dan neneknya tak datang?" tanya Malven kali ini.
Rena tersenyum, "Mereka baru saja pulang setelah kuusir karena tak mau meninggalkan cucu mereka sejak semalam. Mereka harus istirahat atau semua akan sakit," jelas gadis yang tingginya hampir mendekati Malven itu. Padahal aku saja tak lebih dari pundaknya.
"Hei... kau juga sekarang sudah menjadi seorang kakek, Uncle," goda Rena, dan tanpa sadar akupun terbahak keras saat kulihat wajah Malven yang tampak kesal.
"Hah... salahkan nenekmu yang membuat jarak usiaku dan mamamu cukup jauh. Jangan panggil aku kakek atau aku akan menculik putri kecilmu," ancam pria itu yang lagi-lagi membuat kami tertawa.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan muncullah seraut wajah yang begitu kusayangi, Reno, suami Rena yang kebetulan adalah kakak sepupuku. Ada bayi mungil dalam gendongannya yang tertidur pulas walaupun cara menggendong Reno masih tampak kaku.
"Hai... selamat ya, mas," ucapku sambil mencium pipinya setelah pria itu membungkuk ke arahku dengan senyum bahagianya.
"Thanks, Vall," jawabnya sambil mengacak rambutku dengan sebelah tangannya.
Entahlah... aku dikelilingi begitu banyak orang-orang yang memiliki tubuh mirip jerapah, sepertinya hanya aku yg memiliki tubuh mungil, mungkin itulah sebabnya kenapa aku hampir selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh mereka, padahal usiaku sudah 27 tahun.
"Hai, Ven," sapa mas Reno pada paman Rena yang masih menampakkan wajah kesalnya, "Lihat, ini cucumu, cantik sekali, kan?" goda Reno sambil mendekatkan putri kecilnya pada pria itu. "Usiaku 37 tahun, dan aku masih seorang ayah. Tapi kau yang 40 tahun justru sudah menjadi seorang kakek," lanjut Reno.
Lagi-lagi aku dan Rena terbahak melihat dua pria yang nyaris tak pernah akur itu. Kebiasaan Malven yang lama tinggal di luar negeri membuatnya tak suka jika dipanggil dengan embel-embel om, kak, mas, atau apalah. Dia lebih suka jika kami cukup memanggil namanya saja. Hanya Rena yang diijinkan memanggilnya Uncle atau Om.
Lagi-lagi aku dan Rena terbahak melihat dua pria yang nyaris tak pernah akur itu. Kebiasaan Malven yang lama tinggal di luar negeri membuatnya tak suka jika dipanggil dengan embel-embel om, kak, mas, atau apalah. Dia lebih suka jika kami cukup memanggil namanya saja. Hanya Rena yang diijinkan memanggilnya Uncle atau Om.
"Oh kumohon, tutup mulut kalian. Dan berikan bayi cantik itu padaku," sergahnya sambil meminta putri Rena dari gendongan Reno. "Sungguh tak pantas bidadari secantik ini memiliki ayah sepertimu," balasnya tanpa memandang ke arah Reno yang hanya bisa memberikan cengiran bangganya.
Aku sedikit terpesona melihat bagaimana luwesnya Malven menggendong bayi perempuan Rena. Bayi mungil itu tampak begitu nyaman berbaring dalam dekapan lengan kekar kakeknya. Ah... aku jadi tertawa sendiri dalam hati kalau mengingat Malven sekarang sudah menjadi seorang kakek. Jarak usianya dengan kakaknya, Ibu Rena, memang cukup jauh, itulah mengapa di usianya yang sekarang ini dia sudah harus memiliki cucu. Bibirku menyeringai sendiri kalau mengingat hal itu.
Aku harus mengucapkan terima kasih padanya nanti. Kuakui aku selamat dari rasa sakit tadi juga karena ada dia di dekatku, jadi aku tak merasa sendiri.
Aku menghela nafas panjang, keriuhan tiga orang di ruangan ini berlomba dengan suara hujan yang mulai deras lagi di luar sana. Kulangkahkan kakiku mendekati jendela. Selalu seperti itu, aku selalu suka mengamati hujan. Alih-alih menghitungi tetesannya tapi anganku selalu terbang ke masa-masa yang lalu. Ya... aku masih sulit menghapus luka yang begitu membekas ini. Raditya menorehkannya terlalu dalam. Dan dadaku kembali serasa diremas dengan kuat saat kulihat bayangnya di koridor bawah melalui jendela ruangan ini. Aku melihatnya di sana, berbincang dengan seorang tua di kursi kayu yang diletakkan sepanjang koridor Rumah Sakit, mungkin salah satu pasiennya.
Dari lantai 2 saja aku masih bisa merekam jelas bentuk tubuhnya, gerak geriknya. Bahkan dari tempat sejauh ini aku seakan masih bisa mendengar suaranya dengan begitu jelas. Rasa apa ini? Rindu kah? Masih bisa kah aku merasakan rindu? Padahal dia sudah mencabik-cabik hatiku sedemikian rupa. Tapi kenapa aku tak bisa memalingkan mataku sedikitpun dari sosoknya?
Aku melihat orang tua yang bersamanya sudah pergi, tapi dia masih di sana, duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Apakah dia tengah memikirkanku? Apakah pertemuan singkat tadi setidaknya masih meninggalkan jejak di ingatannya? Di hatinya?
Aku terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan yang cukup lebar menutup kedua mataku, "Hentikan, Vall. Atau kau mau aku membuatnya babak belur lagi seperti dua tahun lalu?" suara Reno seperti ancaman di telingaku, rupanya dia tahu apa dan siapa yang tengah kuamati sedemikian rupa sejak tadi.
Aku tersenyum tipis sambil menyandarkan belakang kepalaku di dada kakak sepupuku itu. Tidak... Rena tidak pernah cemburu padaku. Sejak dulu dia sudah tahu kalau Reno begitu menyayangiku. Kami berdua sama-sama anak tunggal, dan Reno sudah menggapku sebagai adik kandungnya sendiri. Lalu kemudian Rena menjadi sahabatku, dan kami bertiga pun seakan tak terpisahkan. Usia Reno yang sepuluh tahun di atas kami membuatnya menjadi sosok pria yang begitu menjaga dan melindungi kami. Termasuk bagian dia menghajar Raditya habis-habisan dua tahun lalu, aku sama sekali tak menyalahkannya.
Dan aku begitu bahagia saat aku tahu kalau kedua orang tersayangku ini pada akhirnya memutuskan untuk bersama.
"Sorry, Vall. Aku juga tak berharap kamu bertemu dia lagi. Tapi tempat bersalin paling bagus ada di sini. Aku tak punya pilihan, apalagi orangtua kami juga memaksa agar aku melahirkan di sini. Maaf, ya?"
Reno akhirnya melepaskan tangannya dari mataku saat mendengar suara istrinya yang berbicara padaku.
Aku menoleh pada Rena yang juga ternyata tengah memandang arah yang sama, dimana baru saja kulihat sosok Raditya, dari tempat tidurnya yang begitu dekat dengan jendela. Sungguh aku tak ingin menangis, tapi entah kenapa airmataku mengalir begitu saja tanpa isak dan suara.
"Ayolah... jangan kau rusak suasananya dengan tangisan tak bergunamu itu."
Suara berat Malven menyentakku, segera saja kuhapus airmataku dan mencoba untuk menertawakan kekonyolanku sendiri.
"Uncle, tolong jangan bicara seperti itu. Kau tak mengenal Vallerie dengan baik, kau bahkan tak tahu apapun tentang dia. Biarkan dia menumpahkan semua emosinya," bela Rena dengan kesal.
Reno mengacak-acak rambutku lagi sambil berkata, "Kurasa Malven benar 'kali ini', berhentilah menangisi orang tak berguna seperti dia."
"Apa maksudmu dengan 'kali ini'? Kau pikir selama ini aku selalu salah? Dan siapa yang kau maksud dengan 'dia'? Apa sepupumu itu tengah menangisiku?" tanya pria berambut coklat gelap itu dengan penuh percaya diri.
"Bermimpi saja kau, kakek. Akan kuhapus ingatan Vallerie jika yang ditangisinya adalah kau," jawab Reno dengan ketus.
"Berhenti memanggilku kakek, justru kau seharusnya sudah telat menyandang status sebagai ayah," balas Malven.
Dan kali ini aku benar-benar tertawa melihat ekspresi kesal Reno mendengar kata-kata Malven. Begitu juga dengan Rena yang sudah kembali memangku gadis kecilnya. Kubiarkan dua pria dengan selisih usia tiga tahun itu beradu mulut sementara aku memilih mendekati tempat tidur sahabatku. "Siapa namanya, Na?" tanyaku sambil mengagumi bayi mungil itu. Bayi yang begitu cantik, seperti ibunya. Kulitnya yang putih dan bibirnya yang merah. Rambutnya sedikit berwarna coklat, juga seperti ibunya. Tapi dia memiliki bentuk alis dan hidung yang mirip dengan ayahnya.
Rena mengamati wajah putrinya yang memang terlihat sangat cantik dan menggemaskan itu, "Menurutmu nama Revalia bagus ga?"
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Kuambil dari gabungan nama kita, Rena dan Vallerie," jelas Rena yang membuatku ternganga.
"Nama kita?" tanyaku tak percaya.
Rena mengangguk mantap, "Ya, nama kita. Agar dia tahu jika ada seorang wanita lagi yang menyayanginya sebesar kasih sayang ibunya."
Segera saja kupeluk dan kucium pipi sahabatku itu, hatiku yang tadinya begitu dingin dan sakit perlahan menghangat mendengar kata-katanya. Kusandarkan kepalaku di bahu Rena sambil memainkan tangan si kecil yang terkatup rapat. Kuusap bukubuku tangannya dengan lembut lalu kukecup tangan mungil itu sambil membisikkan sebuah kalimat, "Ya, aku akan ikut menyayangimu bersama Ayah dan Ibumu, bidadari kecilku."
#
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Reno saat dia mengantarku pulang dari Rumah Sakit. Rena memaksa suaminya untuk menemaniku, sementara Malven masih di Rumah Sakit sampai Reno kembali.
Aku sedikit terpesona melihat bagaimana luwesnya Malven menggendong bayi perempuan Rena. Bayi mungil itu tampak begitu nyaman berbaring dalam dekapan lengan kekar kakeknya. Ah... aku jadi tertawa sendiri dalam hati kalau mengingat Malven sekarang sudah menjadi seorang kakek. Jarak usianya dengan kakaknya, Ibu Rena, memang cukup jauh, itulah mengapa di usianya yang sekarang ini dia sudah harus memiliki cucu. Bibirku menyeringai sendiri kalau mengingat hal itu.
Aku harus mengucapkan terima kasih padanya nanti. Kuakui aku selamat dari rasa sakit tadi juga karena ada dia di dekatku, jadi aku tak merasa sendiri.
Aku menghela nafas panjang, keriuhan tiga orang di ruangan ini berlomba dengan suara hujan yang mulai deras lagi di luar sana. Kulangkahkan kakiku mendekati jendela. Selalu seperti itu, aku selalu suka mengamati hujan. Alih-alih menghitungi tetesannya tapi anganku selalu terbang ke masa-masa yang lalu. Ya... aku masih sulit menghapus luka yang begitu membekas ini. Raditya menorehkannya terlalu dalam. Dan dadaku kembali serasa diremas dengan kuat saat kulihat bayangnya di koridor bawah melalui jendela ruangan ini. Aku melihatnya di sana, berbincang dengan seorang tua di kursi kayu yang diletakkan sepanjang koridor Rumah Sakit, mungkin salah satu pasiennya.
Dari lantai 2 saja aku masih bisa merekam jelas bentuk tubuhnya, gerak geriknya. Bahkan dari tempat sejauh ini aku seakan masih bisa mendengar suaranya dengan begitu jelas. Rasa apa ini? Rindu kah? Masih bisa kah aku merasakan rindu? Padahal dia sudah mencabik-cabik hatiku sedemikian rupa. Tapi kenapa aku tak bisa memalingkan mataku sedikitpun dari sosoknya?
Aku melihat orang tua yang bersamanya sudah pergi, tapi dia masih di sana, duduk sendiri sambil menundukkan kepalanya. Apakah dia tengah memikirkanku? Apakah pertemuan singkat tadi setidaknya masih meninggalkan jejak di ingatannya? Di hatinya?
Aku terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan yang cukup lebar menutup kedua mataku, "Hentikan, Vall. Atau kau mau aku membuatnya babak belur lagi seperti dua tahun lalu?" suara Reno seperti ancaman di telingaku, rupanya dia tahu apa dan siapa yang tengah kuamati sedemikian rupa sejak tadi.
Aku tersenyum tipis sambil menyandarkan belakang kepalaku di dada kakak sepupuku itu. Tidak... Rena tidak pernah cemburu padaku. Sejak dulu dia sudah tahu kalau Reno begitu menyayangiku. Kami berdua sama-sama anak tunggal, dan Reno sudah menggapku sebagai adik kandungnya sendiri. Lalu kemudian Rena menjadi sahabatku, dan kami bertiga pun seakan tak terpisahkan. Usia Reno yang sepuluh tahun di atas kami membuatnya menjadi sosok pria yang begitu menjaga dan melindungi kami. Termasuk bagian dia menghajar Raditya habis-habisan dua tahun lalu, aku sama sekali tak menyalahkannya.
Dan aku begitu bahagia saat aku tahu kalau kedua orang tersayangku ini pada akhirnya memutuskan untuk bersama.
"Sorry, Vall. Aku juga tak berharap kamu bertemu dia lagi. Tapi tempat bersalin paling bagus ada di sini. Aku tak punya pilihan, apalagi orangtua kami juga memaksa agar aku melahirkan di sini. Maaf, ya?"
Reno akhirnya melepaskan tangannya dari mataku saat mendengar suara istrinya yang berbicara padaku.
Aku menoleh pada Rena yang juga ternyata tengah memandang arah yang sama, dimana baru saja kulihat sosok Raditya, dari tempat tidurnya yang begitu dekat dengan jendela. Sungguh aku tak ingin menangis, tapi entah kenapa airmataku mengalir begitu saja tanpa isak dan suara.
"Ayolah... jangan kau rusak suasananya dengan tangisan tak bergunamu itu."
Suara berat Malven menyentakku, segera saja kuhapus airmataku dan mencoba untuk menertawakan kekonyolanku sendiri.
"Uncle, tolong jangan bicara seperti itu. Kau tak mengenal Vallerie dengan baik, kau bahkan tak tahu apapun tentang dia. Biarkan dia menumpahkan semua emosinya," bela Rena dengan kesal.
Reno mengacak-acak rambutku lagi sambil berkata, "Kurasa Malven benar 'kali ini', berhentilah menangisi orang tak berguna seperti dia."
"Apa maksudmu dengan 'kali ini'? Kau pikir selama ini aku selalu salah? Dan siapa yang kau maksud dengan 'dia'? Apa sepupumu itu tengah menangisiku?" tanya pria berambut coklat gelap itu dengan penuh percaya diri.
"Bermimpi saja kau, kakek. Akan kuhapus ingatan Vallerie jika yang ditangisinya adalah kau," jawab Reno dengan ketus.
"Berhenti memanggilku kakek, justru kau seharusnya sudah telat menyandang status sebagai ayah," balas Malven.
Dan kali ini aku benar-benar tertawa melihat ekspresi kesal Reno mendengar kata-kata Malven. Begitu juga dengan Rena yang sudah kembali memangku gadis kecilnya. Kubiarkan dua pria dengan selisih usia tiga tahun itu beradu mulut sementara aku memilih mendekati tempat tidur sahabatku. "Siapa namanya, Na?" tanyaku sambil mengagumi bayi mungil itu. Bayi yang begitu cantik, seperti ibunya. Kulitnya yang putih dan bibirnya yang merah. Rambutnya sedikit berwarna coklat, juga seperti ibunya. Tapi dia memiliki bentuk alis dan hidung yang mirip dengan ayahnya.
Rena mengamati wajah putrinya yang memang terlihat sangat cantik dan menggemaskan itu, "Menurutmu nama Revalia bagus ga?"
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Kuambil dari gabungan nama kita, Rena dan Vallerie," jelas Rena yang membuatku ternganga.
"Nama kita?" tanyaku tak percaya.
Rena mengangguk mantap, "Ya, nama kita. Agar dia tahu jika ada seorang wanita lagi yang menyayanginya sebesar kasih sayang ibunya."
Segera saja kupeluk dan kucium pipi sahabatku itu, hatiku yang tadinya begitu dingin dan sakit perlahan menghangat mendengar kata-katanya. Kusandarkan kepalaku di bahu Rena sambil memainkan tangan si kecil yang terkatup rapat. Kuusap bukubuku tangannya dengan lembut lalu kukecup tangan mungil itu sambil membisikkan sebuah kalimat, "Ya, aku akan ikut menyayangimu bersama Ayah dan Ibumu, bidadari kecilku."
#
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Reno saat dia mengantarku pulang dari Rumah Sakit. Rena memaksa suaminya untuk menemaniku, sementara Malven masih di Rumah Sakit sampai Reno kembali.
"Baik kok, mas," jawabku. "Tadi aku cuma kaget aja, kupikir aku sudah bisa menyembuhkan sakit hatiku, tapi nyatanya..."
Kudengar Reno mendengus, "Wajar kalau kamu masih belum bisa melupakan masa lalumu, hanya saja dia tak pantas mendapatkan perlakuan istimewa ini, Vall. Luar biasa sekali dia bisa mengikatmu sampai hari ini padahal dia lebih memilih perempuan lain," katanya dengan nada kesal.
Aku hanya tersenyum miris sambil melempar pandangan keluar kaca, masih gerimis, dan aspal basah memantulkan gemerlap lampu Ibukota malam ini.
"Besok kamu ga usah ke kantor kalau memang sedang ga enak hati. Biar Robby yang urus semua pekerjaan kita," sambung sepupuku itu lagi .
Aku menggeleng pelan tanpa melepaskan pandanganku dari suasana di luar jendela mobil, "Aku masuk aja, Mas. Besok aku ada janji dengan klien baru yang ingin memesan mebel kita dalam jumlah besar, dan kalau sudah oke dia minta untuk segera dikirim ke Jepang," jawabku.
Ya.. kami memang bekerja di perusahaan yang sama. Mas Reno adalah pemilik dari perusahaan mebel yang sangat besar, dan aku ikut memiliki sebagian saham di sana. Kami berdua sama-sama anak tunggal yang beruntung karena lahir dari keluarga berada. Papa dan Tante Erika memiliki perkebunan cengkeh, teh, kopi dan peternakan yang begitu besar dan berkembang. Kakek menyerahkan tanahnya yang luas kepada kedua anaknya untuk dikelola bersama, hasilnya begitu melimpah di tangan para orangtua kami. Dan mereka memberikan kami modal untuk memiliki usaha sendiri. Dari modal yang diberikan para orangtua kami pun berhasil mendirikan perusahan kecil yang bergerak dibidang produksi mebel hingga semakin hari perusahaan kami semakin besar dan berkembang. Kami juga mengelola pabrik makanan kaleng dan minuman seperti daging olahan, susu dan yogurt yang bahannya kami beli sendiri dari hasil peternakan milik kedua orangtua kami.
"Ambillah cuti, Vall. Kamu sudah bekerja dengan sangat keras dua tahun belakangan ini. Pergilah berlibur kemanapun kamu suka."
"Ambillah cuti, Vall. Kamu sudah bekerja dengan sangat keras dua tahun belakangan ini. Pergilah berlibur kemanapun kamu suka."
"Tapi, mas, aku harus..."
"Kali ini aja aku ga mau dibantah. Kamu harus memperbaiki hidupmu. Bersenang-senanglah, lakukan apapun yang kamu suka," potong Reno. "Atau kamu bisa pulang ke Bandung kalau kamu mau. Ambillah sebanyak-banyaknya waktu untuk dirimu sendiri," lanjutnya.
Aku terdiam dan memikirkan saran dari kakak sepupuku itu. Pulang ke Bandung mungkin adalah ide yang bagus, tapi bukan ide yang menyenangkan, menurutku. Bertemu Mama dan Papa hanya akan membuatku pusing dengan seribu petuah tentang pasangan hidup, cinta, dan rumah tangga. Apalagi Mama juga beberapa kali memiliki niat untuk menjodohkanku dengan putra dari beberapa teman atau rekan bisnis Papa. Oh tidak... membayangkannya saja aku sudah pusing.
"Aku ga mau mengumpankan diri dan menjadi mangsa yang menggiurkan untuk Mama," keluhku yang disambut tawa keras pria yang sedang mengendalikan laju mobilnya itu.
"Kalau gitu tentukan kamu mau kemana, dan aku yang akan urus semuanya nanti," kata Reno lagi sambil menarik bahuku ke dalam dekapan lengan kirinya.
Aku tersenyum, rasa sakit yang sejak tadi ada berangsur hilang dan berganti rasa nyaman, "Thanks ya, Mas... aku sayang banget sama kamu," ucapku lirih, lalu aku merasakan sebuah kecupan di ubun-ubunku.
.
#
.
"Sudah nentuin kemana kamu mau liburan, Vall? Ini sudah 3 minggu loh sejak Mas Reno minta kamu pergi berlibur," ingat Rena saat aku membantunya menata kamar Revalia.
Aku menatap sahabatku yang masih mendekap putri kecilnya itu sembari menarik nafas panjang. Kupeluk boneka beruang berukuran raksasa yang kuberikan sebagai kado untuk keponakan baruku sambil duduk disofa tunggal yang disediakan di samping box bayi untuk memudahkan Rena menyusui Reva nantinya.
"Apa aku beneran harus pergi? Malas juga rasanya kalau ingat Mas Reno bakal ngurusin perusahaan sendirian disaat ramai pesanan seperti ini, Na," jawabku.
Rena berdecak, "Jangan mikirin itu, kalau mas Reno bilang kamu bisa pergi itu tandanya dia mampu mengatasi urusan perusahaan sendirian. Udahlah... jangan kebanyakan pertimbangan, aku benci ngeliat kamu seperti mayat hidup terus, Vall," kata Rena kesal.
Aku tersenyum tipis dan memeluk Teddy Bear Reva dengan semakin erat, "Aku baik-baik aja kok, Na," bantahku pelan.
"Vall... aku kenal kamu ga sehari dua hari, tahunan, Vall. Sampai rasanya aku bisa membaca dengan baik apa yang ada di dalam hati dan pikiran kamu. Lupakan Raditya, please...!" lanjut Rena lagi sambil membaringkan Reva ke dalam box bayi di sampingku.
.
#
.
"Sudah nentuin kemana kamu mau liburan, Vall? Ini sudah 3 minggu loh sejak Mas Reno minta kamu pergi berlibur," ingat Rena saat aku membantunya menata kamar Revalia.
Aku menatap sahabatku yang masih mendekap putri kecilnya itu sembari menarik nafas panjang. Kupeluk boneka beruang berukuran raksasa yang kuberikan sebagai kado untuk keponakan baruku sambil duduk disofa tunggal yang disediakan di samping box bayi untuk memudahkan Rena menyusui Reva nantinya.
"Apa aku beneran harus pergi? Malas juga rasanya kalau ingat Mas Reno bakal ngurusin perusahaan sendirian disaat ramai pesanan seperti ini, Na," jawabku.
Rena berdecak, "Jangan mikirin itu, kalau mas Reno bilang kamu bisa pergi itu tandanya dia mampu mengatasi urusan perusahaan sendirian. Udahlah... jangan kebanyakan pertimbangan, aku benci ngeliat kamu seperti mayat hidup terus, Vall," kata Rena kesal.
Aku tersenyum tipis dan memeluk Teddy Bear Reva dengan semakin erat, "Aku baik-baik aja kok, Na," bantahku pelan.
"Vall... aku kenal kamu ga sehari dua hari, tahunan, Vall. Sampai rasanya aku bisa membaca dengan baik apa yang ada di dalam hati dan pikiran kamu. Lupakan Raditya, please...!" lanjut Rena lagi sambil membaringkan Reva ke dalam box bayi di sampingku.
"Gimana caranya?" desahku.
Rena menghampiriku dan duduk di lengan sofa yang kutempati. Lengannya memeluk bahuku dan mengusap lembut lenganku. "Cin... banyak cara, tinggal niatmu aja gimana? Lupakan dia, maafkan salahnya, ikhlaskan apa yang telah diputuskannya," jawabnya. "Kamu terlalu berharga untuk terus meratapi semuanya. Kamu juga berhak mendapatkan yang terbaik untuk hidupmu sendiri. Jangan biarkan laki-laki bodoh itu terus mengekang hatimu. Move on, Vall," lanjutnya dengan nada gemas.
Aku tertawa kecil lalu merebahkan kepalaku di pahanya, "Aku juga ga mau terperangkap dalam mimpi buruk terus, Na. Tapi ga tau kenapa rasanya susaaah banget ngehapus bayangan dia dari dalam otakku."
"Barossa Valley, Adelaide."
Aku dan Rena terkejut mendengar suara yang tiba-tiba mengganggu obrolan kami, segera saja kami mengarahkan pandangan kami ke pintu kamar baby Reva.
Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti dan kurang jelas dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Malven tadi.
Pria tinggi itu melangkahkan kakinya perlahan mendekati kami, "Barossa Valley, perkebunan anggur terbesar di Australia selatan, Adelaide. Kusarankan kau ke sana," katanya sambil menatapku dengan matanya yang tajam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku samping celana jeans nya. Oke... dia memang tampan, sudah kujelaskan sejak awal, kan?
Aku menatap Rena sekilas lalu kembali memandang Malven tanpa bersuara, karena aku sendiri masih belum memastikan akan pergi atau tidak.
Seakan tahu kalau aku masih bimbang dia pun melanjutkan kata-katanya, "Pantai, lembah, perkebunan luas, penghasil wine terbaik di dunia, roti buatan rumahan dengan keju asli buatan tangan, masakan khas Australia, toko-toko barang antik, dan banyak hal lain lagi yang akan membuatmu tak ingin pulang kembali ke negara ini," lanjutnya.
Aku tersenyum tipis saja mendengarkan promosinya. Yah... menarik, aku sudah pernah mendengar tentang tempat itu, bahkan sempat ingin pergi ke sana. Hanya saja kalau sendirian pasti rasanya akan...
"Kalau tak keberatan kau bisa pergi bersamaku ke sana."
Kali ini bukan aku saja yang terkejut mendengar ucapan Malven yang seakan bisa membaca kata hatiku, Rena bahkan sampai membuka mulutnya lebar seakan tak percaya dengan pendengarannya. Sementara aku tak mampu berkata apa-apa, karena obrolan ini semakin tak masuk akal untukku.
"Ckk... kenapa lambat sekali sih kerja otak perempuan?" sergahnya tak sabar. "Minggu depan aku ada pekerjaan di sana, aku bermaksud baik menawarimu tumpangan. Kau tak akan menjadi turis bodoh kalau bersamaku yang sudah cukup baik mengenal daerah itu," kata pria itu sambil memicingkan matanya.
Segera saja aku tertawa pelan mengingat keponakanku sedang tidur, "Oh oke, sorry," jawabku sambil mengibaskan tanganku di depan mukaku sendiri.
"Bicaralah sedikit lembut, Paman. Kau sedang bicara dengan wanita," gerutu Rena yang hanya disambut dengusan oleh Malven.
Aku kembali tertawa perlahan. Aku tak pernah tersinggung dengan cara bicara pria ini. Dia memang selalu kasar, tapi selalu ada kejujuran dibalik semua kata-katanya. Bukankah itu lebih baik daripada ucapan manis yang hanya berisi omong kosong saja?
"Gimana? Mau pergi?" tanyanya lagi.
Aku tersenyum tanpa menatap matanya, antara ingin dan tidak. Tempat yang menakjubkan, tapi jika harus berdua dengan Malven... tak apa-apa kah?
"Kau pikirkan saja dulu, kalau kau setuju kau bisa antar pasport-mu ke kantorku lusa jam 10 pagi, biar aku bisa urus semua untukmu di sana," kata pria itu.
Aku hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyum di bibirku.
"Tenang saja, kita akan tidur terpisah kalau kau tak setuju tidur satu ranjang denganku."
Aku langsung memelototkan mataku dengan mulut terbuka.
"PAMAN!!! JAGA BICARAMU!!!" bentak Rena sambil melemparkan bantal kecil ke arah pria yang tertawa terbahak sambil berlari ke luar kamar itu.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tinggah usil pria itu, entah kenapa sejak awal berkenalan dia selalu suka membuatku kesal.
"Maafkan pamanku, Vall. Kau tahu sendiri gimana sifatnya sejak dulu, selalu menyebalkan," gerutu Rena.
Aku hanya terkekeh pelan sambil mengusap lengan sahabatku yang tengah cemberut itu, "Ga masalah, Na... aku sudah hafal kelakuannya," jawabku.
Rena menghela nafas panjang lalu menatapku, matanya yang tajam sedikit mirip dengan pamannya, "Tapi kurasa ada baiknya kau pergi dengan dia, Vall. Walau sering bikin ulah tapi pamanku itu selalu penuh perhatian," sarannya.
Aku tak menjawab, karena jujur saja sejak tadi otakku pun sudah memikirkan semuanya, memikirkan baik dan buruknya. Kalau aku tak pergi mungkin kepala dan hatiku akan selalu dipenuhi oleh Raditya, Raditya, dan Raditya.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tinggah usil pria itu, entah kenapa sejak awal berkenalan dia selalu suka membuatku kesal.
"Maafkan pamanku, Vall. Kau tahu sendiri gimana sifatnya sejak dulu, selalu menyebalkan," gerutu Rena.
Aku hanya terkekeh pelan sambil mengusap lengan sahabatku yang tengah cemberut itu, "Ga masalah, Na... aku sudah hafal kelakuannya," jawabku.
Rena menghela nafas panjang lalu menatapku, matanya yang tajam sedikit mirip dengan pamannya, "Tapi kurasa ada baiknya kau pergi dengan dia, Vall. Walau sering bikin ulah tapi pamanku itu selalu penuh perhatian," sarannya.
Aku tak menjawab, karena jujur saja sejak tadi otakku pun sudah memikirkan semuanya, memikirkan baik dan buruknya. Kalau aku tak pergi mungkin kepala dan hatiku akan selalu dipenuhi oleh Raditya, Raditya, dan Raditya.
.
#
.
Tepat jam 10 saat kulangkahkan kakiku dengan sedikit ragu ketika memasuki gedung tiga lantai ini, tak begitu besar tapi tampak begitu megah dan mewah. Pilihan interiornya pun tak murahan, begitu simpel tapi tegas, seperti sifat pimpinan sekaligus pemilik perusahaan ini, Malven Julian.
Ini kali pertama aku datang langsung ke kantornya, selama ini kami selalu bertemu di tempat Rena atau di tempat lain, bersama Rena. Aku hampir tak pernah berdua dengan dia, lebih tepatnya aku yang selalu menolak setiap kali dia ingin memberikanku tumpangan ataupun beberapa hal lain dimana dia beberapa kali mengajakku bersamanya seperti makan siang ataupun makan malam.
Sejak Rena menikah dengan mas Reno aku memang lebih sering menghabiskan waktu sendirian, mungkin itu yang membuatnya merasa kasihan padaku dan berusaha menemaniku, tapi... sejak tak ada lagi Raditya di sampingku aku telah menjelma menjadi perempuan yang sangat menutup diri.
"Selamat pagi, Ibu... ada yang bisa saya bantu?" sapa ramah seorang gadis muda yang bertugas sebagai receptionist.
Aku pun membalas senyumnya, "Selamat siang, mbak. Saya ada janji dengan Bapak Malven siang ini, apa saya bisa bertemu?" tanyaku.
Gadis itu tampak sedikit mengawasiku dengan cara yang cukup sopan, menurutku, "Maaf, saya bicara dengan Ibu siapa? Biar saya sampaikan pada sekretaris pak Malven," tanyanya lagi masih dengan nada sopan.
"Vallerie, Valleria Abraham," jawabku menyebutkan namaku sendiri. Kulihat gadis itu mengangguk lalu menghubungi seseorang dengan telpon di depannya. Aku tak begitu mendengarkan apa yang dia bicarakan dengan orang di ujung sana, kuhabiskan waktu sambil mengamati sekeliling dengan penuh minat, mebel-mebel yang diletakkan di lobby utama ini tampaknya di desain khusus, karena aku tak pernah melihatnya di katalog-katalog online dan sebagainya. Lukisan-lukisan di dindingnya pun cukup antik tapi tak kelihatan kuno, cantik sekali.
Selain kuliner, aku selalu terkesan dengan barang-barang seperti ini, karena itulah aku dan mas Reno memilih untuk membuka perusahaan dan pabrik mebel.
"Jadi... ada yang membuatmu suka dengan salah satu barang di ruangan ini?"
Sebuah tanya mengejutkanku, langsung saja kutolehkan kepala ke sumber suara yang berasal dari belakangku. Tampak sosok pria yang tengah kucari berdiri tegap di sana dengan kemeja biru gelapnya yang semakin menonjolkan warna kulitnya yang cukup terang.
Aku mengedikkan kepala sedikit, "Yah... seleramu cukup bagus," kataku.
Malven mengangkat ujung bibirnya sedikit hampir menyerupai seringaian, "Aku dapat sebagian besar itu di Barossa Valley," jawabnya yang kusambut dengan bentuk bibir menyerupai huruf O.
"Kau baru datang?" tanyaku saat melihat tangannya masih memegang sebuah tas hitam.
dia mengangguk, "Baru saja, aku sudah di depan saat Sonny menelponku kalau kau datang," jawabnya sambil menyebut nama sekretarisnya. Ya... sekretarisnya seorang pria, aku juga sudah mengenalnya dan beberapa kali bertemu saat Sonny ikut dengan Malven.
Entah kenapa di balik wajah sempurna ini aku jarang melihatnya bersama seorang wanita. Setiap kali Rena bertanya tentang hal itu dia selalu menjawab kalau perempuan itu merepotkan.
"Ayo ke ruanganku," ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.
Seakan ingat dengan gadis receptionist tadi akupun berpamitan dan mengucapkan terima kasih padanya.
.
Kuulurkan buku pasport-ku pada Malven setelah aku duduk di sampingnya, di sofa hitam yang diletakkan di ruang kerjanya.
Malven menerima buku itu lalu langsung membukanya sekalian melihat tanggal kadaluarsa yang berlaku di dalamnya. Setelah melihat kalau pasport itu masih berlaku diapun menyerahkannya pada Sonny yang sejak tadi duduk di seberang kami, "Kau urus semuanya, kami berangkat minggu depan dan akan berada di sana selama sepuluh hari."
"Nggak kurang lama?" sindirku.
Malven mengangguk-angguk tanpa menatapku, "Tiga minggu kalau begitu," ralatnya pada Sonny dan segera saja dia mengelak tinjuan tanganku pada lengannya sambil terkekeh geli.
"Aku cuma menyindirmu, Tuan," kataku kesal. "Seminggu aja, gimana?" tawarku setelah tawanya reda.
Malven berdecak sambil mengambil surat kabar dari meja di depan kami, "Cuma beda 3 hari aja ribut, Reno mengusirmu selama 2 minggu, kan?" jawabnya sambil menekuri berita yang dia baca.
Aku memutar kesal bola mataku, "Mas Reno ga pernah ngusir aku, dia cuma minta aku ambil cuti sebentar," bantahku.
"Sama saja, itu bisa diartikan kalau dia ingin memiliki sedikit waktu untuk terbebas darimu," ledeknya.
Kali ini aku yang berdecak, "Kenapa sih kau jadi orang menyebalkan sekali?" kataku yang disambut tawa geli Sonny yang masih duduk di depan kami.
"Kamu memang enak dijadikan sasaran empuk sifat usil Bos, Vall," kata pria jangkung berkacamata itu dengan kekehannya.
"Kenapa harus aku?" keluhku sambil menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Pendingin ruangan yang begitu sejuk membuatku merasa begitu nyaman, apalagi semalam aku nyaris tak tidur. Beberapa hari ini kuhabiskan waktu untuk menyelesaikan banyak pekerjaan, apalagi mas Reno terus saja memaksaku mengambil cuti.
"Karena Rena terlalu baik untuk kugoda," jawab Malven enteng tanpa menatapku tapi aku masih bisa melihat bibirnya berkedut menahan tawa.
"Terserah kau lah," jawabku pelan saat kurasa mataku terasa begitu berat. Sebenarnya sejak kemarin aku merasa kalau kondisi tubuhku sedang tidak baik, kepalaku terus saja berdenyut, tapi kupaksakan pergi juga ke sini.
Obrolan Malven dan Sonny pun mulai terdengar samar di telingaku sampai akhirnya aku merasakan sebuah lengan merengkuh tubuhku dengan begitu lembut sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.
.
TREKKK!!!
Suara sedikit keras itu langsung membawa kembali kesadaranku. Aku melenguh pelan saat kurasakan kepalaku begitu sakit, apalagi saat aku berusaha membuka mata.
"Sssh... jangan memaksakan diri, it's okay, tak ada apa-apa, Vall... tidurlah lagi."
Suara berat itu terasa begitu menenangkan, dan sebuah usapan ringan di keningku kembali membuatku terlelap.
.
"Daddy, is she your new lover?"
"Who?"
"This Sleeping Beauty."
"... No."
"Kalau begitu boleh untukku, ya?"
"What?"
"Dia cantik sekali, kalau Daddy tak mau biar untukku saja, ya kan, Mom?"
"Tutup mulutmu, anak muda."
Suara debat dua orang laki-laki dan tawa renyah seorang wanita yang samar-samar terdengar di telingaku kembali memaksaku untuk bangun, kali ini sakit di kepalaku tak begitu kurasakan lagi. Perlahan kucoba untuk membuka mata dan menggerakkan tangan. Pandanganku masih sedikit kabur, tapi aku bisa melihat seorang anak lelaki tampan berdiri di dekatku. Benar-benar cetakan Malven edisi remaja.
"Daddy, finally the Princess woke up."
Suara langkah kaki yang agak berat terdengar mendekat, dan kurasakan sebuah lengan yang cukup besar membantuku bangun dan duduk.
"Are you okay?"
Kalau saja pandanganku masih sangat kabur mungkin aku tak akan percaya kalau kata-kata penuh nada khawatir itu muncul dari mulut Malven.
Kuusap wajahku dan menggeleng, "Maaf, sepertinya aku ketiduran," jawabku.
"Bahkan aku tak tahu kau tadi tidur atau pingsan," kata pria itu dan aku hanya tertawa pelan.
"Kau tak ingin mengenalkanku padanya, Daddy?"
Segera saja aku kembali menyapukan pandanganku yang mulai terang ke seluruh ruangan. Anak lelaki tadi tersenyum begitu manis padaku, dan ada seorang wanita cantik yang berjalan mendekatiku, juga dengan wajah ramahnya.
"Tak bisakah kau tenang sedikit, Boy? Kau cerewet sekali seperti Ibumu," jawab Malven setelah melepaskan lengannya dari bahuku dan ikut berdiri bersama anak lelaki juga wanita yang kini ketiganya telah berada di depanku.
"Kenapa kau bawa-bawa aku? Kau bahkan seribu kali lebih menyebalkan daripadaku, Ven," jawab sengit wanita itu, tapi ada binar canda di bola matanya yang berwarna coklat terang.
"Hai, kenalkan namaku Kenzo," kata anak itu sambil mengulurkan tangannya padaku, dan aku menyambutnya masih dengan duduk. Mungkin ini tak sopan, tapi aku tak yakin jika ikut berdiri aku akan bisa berdiri dengan sempurna, sedangkan masih kurasakan sisa pusing di kepala.
"Hai, aku Vallerie," jawabku pelan, lalu aku segera sadar akan panggilan remaja itu tadi pada Malven dan teringat dengan nama Kenzo. Segera kuarahkan lagi wajahku pada wanita yang berdiri di samping Malven dengan gugup, rasanya tak nyaman sekali.
Segera saja kupaksakan diri untuk bangkit dan berdiri, "H-hai, aku..."
"Kenapa memaksakan diri, cukup duduk saja," wanita cantik itu segera memegang bahuku dan memaksaku kembali duduk diikuti olehnya di sampingku. "Aku Anita, senang melihatmu bisa tidur pulas di sini," candanya.
Aku merasa malu dan juga jengah karena putra dan mantan istri Malven melihatku tertidur di kantor pria itu, "A-aku... maaf, aku bahkan tak sadar kalau..."
"Pingsan?" potong Malven sambil melipat tangannya di depan dada. Matanya menatapku dengan begitu tajam, dan kali ini entah kenapa debar jantungku terasa begitu cepat.
"Maaf, aku..."
"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat lagi, aku dan Kenzo harus segera kembali ke Sydney, pesawat kami tak bisa menunggu," potong Anita kali ini.
"Mom.. aku baru mengenalnya, bisakah kita undur kepulangan kita?" rayu Kenzo.
"No, Ken.. you have to go to school tomorrow," tolak Anita.
"Please, Mom..." rengek Kenzo lagi, "Aku juga baru bertemu Daddy dua hari," lanjutnya.
"Minggu depan aku akan ke Adelaide bersama Vall, kami akan mengunjungi kalian, atau kau bisa menyusul kami ke sana," jawab Malven pada kenzo yang disambut tatapan terkejut anak dan mantan istrinya itu.
"Wow... kau gerak cepat kali ini, Ven," goda Anita sambil memandangku dengan tatapan jenakanya.
Aku kembali merasa gugup, aku tak ingin mereka beranggapan yang bukan-bukan terhadapku, "Tidak, bukan... ini tak seperti yang kalian pikirkan. Aku memang ingin mengambil liburan dan Malven..."
"Katamu dia bukan kekasihmu, Dad?! Apa kau berniat membuatku patah hati di usia remajaku?" potong Kenzo dengan mata menyipit curiga pada Ayahnya.
"Ya Tuhan... kalian segeralah pergi, atau pesawat itu akan dengan senang hati meninggalkan penumpang-penumpang cerewet seperti kalian," usir Malven yang disambut gelak tawa Anita.
Anita segera berdiri, begitupun denganku, "Baiklah... baiklah, come on, Ken... Mommy akan carikan gadis manis yang seusia denganmu nanti, jadi jangan kau rebut milik Ayahmu," goda wanita itu lagi sambil mengerling padaku.
Aku hampir membantah kalau saja Malven tak segera melarangku, "Cukup, Vall... mau kau bicara apapun mereka tak akan mau mendengarkan, jadi lebih baik hemat saja suaramu."
Dan Anitapun kembali tergelak, "Tak usah sungkan padaku, Vall... aku dan dia kini telah kembali menjadi seorang sahabat," katanya sambil menunjuk pada Malven, "Kau tak perlu pikirkan masa lalu kami."
Aku benar-benar kehabisan kata-kata, dan tatapan Malven lagi-lagi membuatku tak berkutik. Apa ada yang salah dengan jantungku sebelum aku pingsan tadi?
"Tapi kau harus tetap memikirkanku sebagai anak tirimu jika kau benar-benar akan menjadi ibuku nantinya," sambung Kenzo yang lagi-lagi disambut oleh tawa renyah Anita, sementara Malven tampak gemas dan hanya bisa mengusap wajahnya dengan gusar saja.
"Ayo, Ken... kita pergi sekarang, sebelum Ayahmu benar-benar meledak pada kita," pamit Anita sebelum dia mencium pipi mantan suaminya dan memelukku dengan penuh persahabatan, "Dan kuharap kau sudah tahu kalau dia itu sangat menyebalkan, Vall," katanya padaku dan melangkah menuju meja kerja Malven untuk mengambil tasnya.
Dan lagi-lagi aku hanya diam dengan sedikit tersenyum, mencoba menuruti saran Malven sebelumnya.
"Kau menjanjikanku handphone baru, Dad," kata Kenzo saat memeluk Ayahnya dengan erat. Sepasang mata coklat gelap yang serasi dengan warna rambutnya, benar-benar menurun dari ayahnya.
Malven mendengus sambil memukul pelan kepala putranya, "Nanti kalau aku ke sana kau bisa pilih model sesukamu," jawabnya dan disambut cengiran Kenzo.
"Senang bisa mengenalmu, Vall. Rena banyak cerita tentangmu tapi baru kali ini aku dan Mommy bertemu denganmu. Kuharap kau bisa bertahan dengan Daddy, percayalah... dia lebih sulit dari yang kau bayangkan," kata Kenzo dengan gayanya yang sok tua.
Kali ini aku tak bisa menahan tawaku, begitupun dengan Anita. Sementara Malven hanya bisa berkacak pinggang tanpa suara.
"Enough, Ken... atau Ayahmu akan benar-benar menendangmu," kata Anita sambil menyampirkan tas hitamnya ke pundak.
"Dan kalau kau tak bisa bertahan dengan Daddy... kau bisa mencariku, Vall," lanjut pemuda itu lagi sebelum berlari keluar ruangan setelah mencium pipiku dengan cepat. Dan lagi-lagi tawa pecah dari mulutku melihat ekspresi Malven yang gemas bercampur kesal itu.
.
"Kau mendapatkan hiburan, nona?" tanya Malven saat kami tengah duduk di sebuah restoran. Pria itu memaksaku untuk makan siang bersamanya dengan alasan dia tak ingin merawat seorang gadis yang pingsan lagi, huh... konyol.
Aku tertawa pelan, "Apa benar Kenzo baru berusia 15 tahun?"
Malven menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya sambil mengangguk.
"Benar-benar terlihat seperti pemuda yang sudah siap menikah," kataku sambil meneguk sedikit air putih di depanku.
"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta pada anakku."
Uhuk...!!! Kata-kata Malven berhasil membuatku tersedak, "Jangan mulai berpikiran gila," jawabku setelah mengusap mulutku, dan pria itu hanya terkekeh saja.
Untuk beberapa saat kami terdiam dan terus menikmati Rib Eye Steak yang kami pesan beberapa saat lalu. Banyak pertanyaan muncul di kepalaku, hanya saja aku ragu ingin menanyakannya pada Malven. Aku tak ingin dituding terlalu mencampuri urusannya.
"Maafkan jika Anita dan Kenzo telah membuatmu kesal tadi," kata Malven akhirnya.
Aku menggeleng sambil menelan makananku, "Tidak, sama sekali tidak, mereka berdua baik," jawabku. "Justru aku sempat takut kalau kehadiranku di sanalah yang akan mengganggu kalian dan membuat suasana menjadi..."
"Tidak nyaman?" tebak Malven yang kujawab dengan anggukan.
Pria itu tersenyum kecil tanpa memandangku, "Aku dan Anita tetap bersahabat baik meskipun kami sudah tak lagi bersama, dan aku bersyukur Kenzo bisa menyikapi hal ini dengan dewasa," katanya sambil sibuk dengan Hot Plate-nya.
"Kalian berpisah waktu Kenzo masih berusia 2 tahun, kan?" tanyaku tanpa bermaksud menyelidiki.
"Kurasa Rena sudah menceritakan banyak hal tentangku padamu, huh?" jawabnya dengan cengiran khasnya.
Aku mengedikkan kepala, "Yah... sedikit banyak begitu."
"Dasar perempuan, apa kalian tak ada pekerjaan lain selain membicarakan orang? Atau... jangan bilang kalau diam-diam kau tertarik padaku."
Kali ini aku sungguh-sungguh tersedak hingga Malven harus membantu menepuk-nepuk punggungku, "Apa kau berniat membunuhku?" kecamku padanya yang lagi-lagi hanya berbalas cengiran menyebalkannya.
Dan untuk beberapa saat kami sama-sama diam lagi hingga akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya, "Lalu..." kataku ragu.
Malven menatap lurus padaku, dan aku menjadi bimbang apakah harus kuteruskan atau tidak. "Tanya saja apapun yang ingin kau tanyakan," kata pria itu saat aku tak juga meneruskan kata-kataku.
Kumainkan garpu dan pisauku di atas piring steak sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk membalas tatapan pria di depanku itu, "Bagaimana bisa... hubunganmu dan Anita baik-baik saja setelah berpisah? Apalagi... kalian telah menikah selama 3 tahun dan... memiliki Kenzo," tanyaku akhirnya.
Kali ini Malven tersenyum, dia meletakkan pisau dan garpu di atas piring besinya yang telah kosong, lalu meneguk segelas jeruk dingin dan mengusap bibirnya sebelum mulai bicara untuk menjawab pertanyaanku, "Aku dan Anita telah bersahabat dengan cukup lama. Bahkan aku lupa sudah berapa tahun kami bersama sampai akhirnya kami saling jatuh cinta. Tanpa menunggu lama kamipun segera menikah dan Kenzo pun hadir di tengah kami. Rumah tangga yang sempurna, sampai pada akhirnya kami sadar kalau cinta kami ternyata tak seluas langit."
Aku mendengarkan pria itu dengan seksama, bahkan makananku yang masih tersisapun kuabaikan.
"Kami mulai saling menolak, mulai saling menghindar, dan mulai merasa tak nyaman jika berada berdua di dalam kamar. Hingga pada suatu malam Anita meminta maaf padaku karena dia ingin mengakhiri pernikahan kami. Kalau kau bertanya apakah aku bersedih... tentu saja sedih, dan aku yakin Anita pun tak kalah sedihnya. Tapi kami lebih memilih sama-sama menelan kesedihan daripada akhirnya nanti kami akan saling menyakiti."
Kali ini kuletakkan pisau dan garpuku yang sejak tadi kupegang, dan perutkupun langsung terasa kenyang walau makananku hanya kuhabiskan separuhnya saja. "Kau tak membencinya? Tak marah padanya?" tanyaku lirih.
Malven mendengus pelan, "Awalnya sulit, tapi kehadiran Kenzo mengajari kami untuk bisa bersikap dewasa. Dan kami pun belajar membangun hubungan seperti dulu lagi, seperti sebelum kami menikah, dan kami bisa, sehingga Kenzo tak perlu kehilangan kedua orangtuanya."
Kuusap belakang leherku yang mendadak terasa kaku, "Kenapa semudah itu?" keluhku tanpa menatapnya.
"Semudah apa?" tanya Malven tak mengerti.
Hatiku terasa begitu sakit akan kata-kata yang ingin keluar dari mulutku.
"Vall..."
"Kenapa semudah itu cinta pupus? Kenapa semudah itu memutuskan berpisah? Tak adakah alasan yang lebih baik lagi untuk bertahan? Atau itu cuma akal-akalanmu saja agar bisa terbebas dari sebuah ikatan?" tanyaku gusar. Kutatap Malven dengan pandangan yang mulai berkabut, kulihat dia meraih dompetnya dan memanggil pelayan untuk menyelesaikan pembayaran.
"Kuantar kau pulang," katanya padaku setelah semua selesai. Tak ada nada marah pada suaranya, justru aku mendengar ada nada cemas di sana. Aku ingin menolak tapi rasa pusing kembali menyerang kepalaku. "Ayo, Val... aku tak ingin melihatmu tumbang lagi," paksanya sambil membantuku berdiri dan merengkuh lembut bahuku dan membimbingku menuju pintu keluar restoran.
.
Selama di dalam mobil kami sama sekali tak bicara. Pikiranku melayang pada banyak peristiwa yang terjadi padaku sejak aku mengenal Raditya. Cinta yang kami agung-agungkan selama 5 tahun akhirnya kandas juga dalam hitungan detik. Harapan yang telah kutanamkan jauh-jauh ke dalam hatiku dipatahkan begitu saja. Impian yang kugoreskan di setiap lembaran hidupku terkoyak dengan paksa. Dan itu menyakitkan.
Kebahagiaan yang kukira akan abadi nyatanya hanya ilusi. Dia meninggalkanku tanpa menyisakan alasan untukku bisa mempertahankan semuanya. Tak ada satupun daya bagiku untuk menolak luka yang dikirimkannya bertubi-tubi.
Sesak, rasanya seperti mati, seperti itukah rasanya mati? Bukankah jika kita mati tak ada lagi yang dirasa? Lalu apa namanya itu? Saat raga rasanya tak lagi berguna, saat jiwa dihancurkan sekejap mata.
Kenapa? Sebenarnya apa arti cinta di mata mereka? Apakah hanya sekedar sampah? Kenapa mereka begitu mengerikan?
"Kita sudah sampai."
Suara Malven mengejutkanku, aku segera mengerjap dan mencari kesadaranku lagi. Lamunan panjang telah membawaku nyaris tak menyentuh bumi.
"Kau baik-baik saja?"
Entah kenapa hari ini aku banyak mendengar nada cemas terlontar dari mulut pria yang selalu mengeluarkan kata-kata menyebalkan ini, dan aku hanya mengangguk.
"Thanks," ucapku setelah kubuka pintu mobilnya dan bersiap keluar menuju ruangan apartemenku yang nyaman.
"Kuantar sampai ke atas," katanya seakan memerintah.
Aku segera menggeleng, "Ga usah, makasih. Aku bisa sendiri," kataku sebelum menutup pintunya.
Kulihat kaca mobil itu turun perlahan dan menampakkan wajah Malven yang kalau mataku tak berkabut kurasa dia nampak khawatir. "Take care," katanya padaku.
Aku mengangguk dan membalikkan tubuhku lalu melangkah menuju pintu masuk gedung apartemen terbesar di kotaku ini.
.
"Karena Rena terlalu baik untuk kugoda," jawab Malven enteng tanpa menatapku tapi aku masih bisa melihat bibirnya berkedut menahan tawa.
"Terserah kau lah," jawabku pelan saat kurasa mataku terasa begitu berat. Sebenarnya sejak kemarin aku merasa kalau kondisi tubuhku sedang tidak baik, kepalaku terus saja berdenyut, tapi kupaksakan pergi juga ke sini.
Obrolan Malven dan Sonny pun mulai terdengar samar di telingaku sampai akhirnya aku merasakan sebuah lengan merengkuh tubuhku dengan begitu lembut sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.
.
TREKKK!!!
Suara sedikit keras itu langsung membawa kembali kesadaranku. Aku melenguh pelan saat kurasakan kepalaku begitu sakit, apalagi saat aku berusaha membuka mata.
"Sssh... jangan memaksakan diri, it's okay, tak ada apa-apa, Vall... tidurlah lagi."
Suara berat itu terasa begitu menenangkan, dan sebuah usapan ringan di keningku kembali membuatku terlelap.
.
"Daddy, is she your new lover?"
"Who?"
"This Sleeping Beauty."
"... No."
"Kalau begitu boleh untukku, ya?"
"What?"
"Dia cantik sekali, kalau Daddy tak mau biar untukku saja, ya kan, Mom?"
"Tutup mulutmu, anak muda."
Suara debat dua orang laki-laki dan tawa renyah seorang wanita yang samar-samar terdengar di telingaku kembali memaksaku untuk bangun, kali ini sakit di kepalaku tak begitu kurasakan lagi. Perlahan kucoba untuk membuka mata dan menggerakkan tangan. Pandanganku masih sedikit kabur, tapi aku bisa melihat seorang anak lelaki tampan berdiri di dekatku. Benar-benar cetakan Malven edisi remaja.
"Daddy, finally the Princess woke up."
Suara langkah kaki yang agak berat terdengar mendekat, dan kurasakan sebuah lengan yang cukup besar membantuku bangun dan duduk.
"Are you okay?"
Kalau saja pandanganku masih sangat kabur mungkin aku tak akan percaya kalau kata-kata penuh nada khawatir itu muncul dari mulut Malven.
Kuusap wajahku dan menggeleng, "Maaf, sepertinya aku ketiduran," jawabku.
"Bahkan aku tak tahu kau tadi tidur atau pingsan," kata pria itu dan aku hanya tertawa pelan.
"Kau tak ingin mengenalkanku padanya, Daddy?"
Segera saja aku kembali menyapukan pandanganku yang mulai terang ke seluruh ruangan. Anak lelaki tadi tersenyum begitu manis padaku, dan ada seorang wanita cantik yang berjalan mendekatiku, juga dengan wajah ramahnya.
"Tak bisakah kau tenang sedikit, Boy? Kau cerewet sekali seperti Ibumu," jawab Malven setelah melepaskan lengannya dari bahuku dan ikut berdiri bersama anak lelaki juga wanita yang kini ketiganya telah berada di depanku.
"Kenapa kau bawa-bawa aku? Kau bahkan seribu kali lebih menyebalkan daripadaku, Ven," jawab sengit wanita itu, tapi ada binar canda di bola matanya yang berwarna coklat terang.
"Hai, kenalkan namaku Kenzo," kata anak itu sambil mengulurkan tangannya padaku, dan aku menyambutnya masih dengan duduk. Mungkin ini tak sopan, tapi aku tak yakin jika ikut berdiri aku akan bisa berdiri dengan sempurna, sedangkan masih kurasakan sisa pusing di kepala.
"Hai, aku Vallerie," jawabku pelan, lalu aku segera sadar akan panggilan remaja itu tadi pada Malven dan teringat dengan nama Kenzo. Segera kuarahkan lagi wajahku pada wanita yang berdiri di samping Malven dengan gugup, rasanya tak nyaman sekali.
Segera saja kupaksakan diri untuk bangkit dan berdiri, "H-hai, aku..."
"Kenapa memaksakan diri, cukup duduk saja," wanita cantik itu segera memegang bahuku dan memaksaku kembali duduk diikuti olehnya di sampingku. "Aku Anita, senang melihatmu bisa tidur pulas di sini," candanya.
Aku merasa malu dan juga jengah karena putra dan mantan istri Malven melihatku tertidur di kantor pria itu, "A-aku... maaf, aku bahkan tak sadar kalau..."
"Pingsan?" potong Malven sambil melipat tangannya di depan dada. Matanya menatapku dengan begitu tajam, dan kali ini entah kenapa debar jantungku terasa begitu cepat.
"Maaf, aku..."
"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat lagi, aku dan Kenzo harus segera kembali ke Sydney, pesawat kami tak bisa menunggu," potong Anita kali ini.
"Mom.. aku baru mengenalnya, bisakah kita undur kepulangan kita?" rayu Kenzo.
"No, Ken.. you have to go to school tomorrow," tolak Anita.
"Please, Mom..." rengek Kenzo lagi, "Aku juga baru bertemu Daddy dua hari," lanjutnya.
"Minggu depan aku akan ke Adelaide bersama Vall, kami akan mengunjungi kalian, atau kau bisa menyusul kami ke sana," jawab Malven pada kenzo yang disambut tatapan terkejut anak dan mantan istrinya itu.
"Wow... kau gerak cepat kali ini, Ven," goda Anita sambil memandangku dengan tatapan jenakanya.
Aku kembali merasa gugup, aku tak ingin mereka beranggapan yang bukan-bukan terhadapku, "Tidak, bukan... ini tak seperti yang kalian pikirkan. Aku memang ingin mengambil liburan dan Malven..."
"Katamu dia bukan kekasihmu, Dad?! Apa kau berniat membuatku patah hati di usia remajaku?" potong Kenzo dengan mata menyipit curiga pada Ayahnya.
"Ya Tuhan... kalian segeralah pergi, atau pesawat itu akan dengan senang hati meninggalkan penumpang-penumpang cerewet seperti kalian," usir Malven yang disambut gelak tawa Anita.
Anita segera berdiri, begitupun denganku, "Baiklah... baiklah, come on, Ken... Mommy akan carikan gadis manis yang seusia denganmu nanti, jadi jangan kau rebut milik Ayahmu," goda wanita itu lagi sambil mengerling padaku.
Aku hampir membantah kalau saja Malven tak segera melarangku, "Cukup, Vall... mau kau bicara apapun mereka tak akan mau mendengarkan, jadi lebih baik hemat saja suaramu."
Dan Anitapun kembali tergelak, "Tak usah sungkan padaku, Vall... aku dan dia kini telah kembali menjadi seorang sahabat," katanya sambil menunjuk pada Malven, "Kau tak perlu pikirkan masa lalu kami."
Aku benar-benar kehabisan kata-kata, dan tatapan Malven lagi-lagi membuatku tak berkutik. Apa ada yang salah dengan jantungku sebelum aku pingsan tadi?
"Tapi kau harus tetap memikirkanku sebagai anak tirimu jika kau benar-benar akan menjadi ibuku nantinya," sambung Kenzo yang lagi-lagi disambut oleh tawa renyah Anita, sementara Malven tampak gemas dan hanya bisa mengusap wajahnya dengan gusar saja.
"Ayo, Ken... kita pergi sekarang, sebelum Ayahmu benar-benar meledak pada kita," pamit Anita sebelum dia mencium pipi mantan suaminya dan memelukku dengan penuh persahabatan, "Dan kuharap kau sudah tahu kalau dia itu sangat menyebalkan, Vall," katanya padaku dan melangkah menuju meja kerja Malven untuk mengambil tasnya.
Dan lagi-lagi aku hanya diam dengan sedikit tersenyum, mencoba menuruti saran Malven sebelumnya.
"Kau menjanjikanku handphone baru, Dad," kata Kenzo saat memeluk Ayahnya dengan erat. Sepasang mata coklat gelap yang serasi dengan warna rambutnya, benar-benar menurun dari ayahnya.
Malven mendengus sambil memukul pelan kepala putranya, "Nanti kalau aku ke sana kau bisa pilih model sesukamu," jawabnya dan disambut cengiran Kenzo.
"Senang bisa mengenalmu, Vall. Rena banyak cerita tentangmu tapi baru kali ini aku dan Mommy bertemu denganmu. Kuharap kau bisa bertahan dengan Daddy, percayalah... dia lebih sulit dari yang kau bayangkan," kata Kenzo dengan gayanya yang sok tua.
Kali ini aku tak bisa menahan tawaku, begitupun dengan Anita. Sementara Malven hanya bisa berkacak pinggang tanpa suara.
"Enough, Ken... atau Ayahmu akan benar-benar menendangmu," kata Anita sambil menyampirkan tas hitamnya ke pundak.
"Dan kalau kau tak bisa bertahan dengan Daddy... kau bisa mencariku, Vall," lanjut pemuda itu lagi sebelum berlari keluar ruangan setelah mencium pipiku dengan cepat. Dan lagi-lagi tawa pecah dari mulutku melihat ekspresi Malven yang gemas bercampur kesal itu.
.
"Kau mendapatkan hiburan, nona?" tanya Malven saat kami tengah duduk di sebuah restoran. Pria itu memaksaku untuk makan siang bersamanya dengan alasan dia tak ingin merawat seorang gadis yang pingsan lagi, huh... konyol.
Aku tertawa pelan, "Apa benar Kenzo baru berusia 15 tahun?"
Malven menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya sambil mengangguk.
"Benar-benar terlihat seperti pemuda yang sudah siap menikah," kataku sambil meneguk sedikit air putih di depanku.
"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta pada anakku."
Uhuk...!!! Kata-kata Malven berhasil membuatku tersedak, "Jangan mulai berpikiran gila," jawabku setelah mengusap mulutku, dan pria itu hanya terkekeh saja.
Untuk beberapa saat kami terdiam dan terus menikmati Rib Eye Steak yang kami pesan beberapa saat lalu. Banyak pertanyaan muncul di kepalaku, hanya saja aku ragu ingin menanyakannya pada Malven. Aku tak ingin dituding terlalu mencampuri urusannya.
"Maafkan jika Anita dan Kenzo telah membuatmu kesal tadi," kata Malven akhirnya.
Aku menggeleng sambil menelan makananku, "Tidak, sama sekali tidak, mereka berdua baik," jawabku. "Justru aku sempat takut kalau kehadiranku di sanalah yang akan mengganggu kalian dan membuat suasana menjadi..."
"Tidak nyaman?" tebak Malven yang kujawab dengan anggukan.
Pria itu tersenyum kecil tanpa memandangku, "Aku dan Anita tetap bersahabat baik meskipun kami sudah tak lagi bersama, dan aku bersyukur Kenzo bisa menyikapi hal ini dengan dewasa," katanya sambil sibuk dengan Hot Plate-nya.
"Kalian berpisah waktu Kenzo masih berusia 2 tahun, kan?" tanyaku tanpa bermaksud menyelidiki.
"Kurasa Rena sudah menceritakan banyak hal tentangku padamu, huh?" jawabnya dengan cengiran khasnya.
Aku mengedikkan kepala, "Yah... sedikit banyak begitu."
"Dasar perempuan, apa kalian tak ada pekerjaan lain selain membicarakan orang? Atau... jangan bilang kalau diam-diam kau tertarik padaku."
Kali ini aku sungguh-sungguh tersedak hingga Malven harus membantu menepuk-nepuk punggungku, "Apa kau berniat membunuhku?" kecamku padanya yang lagi-lagi hanya berbalas cengiran menyebalkannya.
Dan untuk beberapa saat kami sama-sama diam lagi hingga akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya, "Lalu..." kataku ragu.
Malven menatap lurus padaku, dan aku menjadi bimbang apakah harus kuteruskan atau tidak. "Tanya saja apapun yang ingin kau tanyakan," kata pria itu saat aku tak juga meneruskan kata-kataku.
Kumainkan garpu dan pisauku di atas piring steak sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk membalas tatapan pria di depanku itu, "Bagaimana bisa... hubunganmu dan Anita baik-baik saja setelah berpisah? Apalagi... kalian telah menikah selama 3 tahun dan... memiliki Kenzo," tanyaku akhirnya.
Kali ini Malven tersenyum, dia meletakkan pisau dan garpu di atas piring besinya yang telah kosong, lalu meneguk segelas jeruk dingin dan mengusap bibirnya sebelum mulai bicara untuk menjawab pertanyaanku, "Aku dan Anita telah bersahabat dengan cukup lama. Bahkan aku lupa sudah berapa tahun kami bersama sampai akhirnya kami saling jatuh cinta. Tanpa menunggu lama kamipun segera menikah dan Kenzo pun hadir di tengah kami. Rumah tangga yang sempurna, sampai pada akhirnya kami sadar kalau cinta kami ternyata tak seluas langit."
Aku mendengarkan pria itu dengan seksama, bahkan makananku yang masih tersisapun kuabaikan.
"Kami mulai saling menolak, mulai saling menghindar, dan mulai merasa tak nyaman jika berada berdua di dalam kamar. Hingga pada suatu malam Anita meminta maaf padaku karena dia ingin mengakhiri pernikahan kami. Kalau kau bertanya apakah aku bersedih... tentu saja sedih, dan aku yakin Anita pun tak kalah sedihnya. Tapi kami lebih memilih sama-sama menelan kesedihan daripada akhirnya nanti kami akan saling menyakiti."
Kali ini kuletakkan pisau dan garpuku yang sejak tadi kupegang, dan perutkupun langsung terasa kenyang walau makananku hanya kuhabiskan separuhnya saja. "Kau tak membencinya? Tak marah padanya?" tanyaku lirih.
Malven mendengus pelan, "Awalnya sulit, tapi kehadiran Kenzo mengajari kami untuk bisa bersikap dewasa. Dan kami pun belajar membangun hubungan seperti dulu lagi, seperti sebelum kami menikah, dan kami bisa, sehingga Kenzo tak perlu kehilangan kedua orangtuanya."
Kuusap belakang leherku yang mendadak terasa kaku, "Kenapa semudah itu?" keluhku tanpa menatapnya.
"Semudah apa?" tanya Malven tak mengerti.
Hatiku terasa begitu sakit akan kata-kata yang ingin keluar dari mulutku.
"Vall..."
"Kenapa semudah itu cinta pupus? Kenapa semudah itu memutuskan berpisah? Tak adakah alasan yang lebih baik lagi untuk bertahan? Atau itu cuma akal-akalanmu saja agar bisa terbebas dari sebuah ikatan?" tanyaku gusar. Kutatap Malven dengan pandangan yang mulai berkabut, kulihat dia meraih dompetnya dan memanggil pelayan untuk menyelesaikan pembayaran.
"Kuantar kau pulang," katanya padaku setelah semua selesai. Tak ada nada marah pada suaranya, justru aku mendengar ada nada cemas di sana. Aku ingin menolak tapi rasa pusing kembali menyerang kepalaku. "Ayo, Val... aku tak ingin melihatmu tumbang lagi," paksanya sambil membantuku berdiri dan merengkuh lembut bahuku dan membimbingku menuju pintu keluar restoran.
.
Selama di dalam mobil kami sama sekali tak bicara. Pikiranku melayang pada banyak peristiwa yang terjadi padaku sejak aku mengenal Raditya. Cinta yang kami agung-agungkan selama 5 tahun akhirnya kandas juga dalam hitungan detik. Harapan yang telah kutanamkan jauh-jauh ke dalam hatiku dipatahkan begitu saja. Impian yang kugoreskan di setiap lembaran hidupku terkoyak dengan paksa. Dan itu menyakitkan.
Kebahagiaan yang kukira akan abadi nyatanya hanya ilusi. Dia meninggalkanku tanpa menyisakan alasan untukku bisa mempertahankan semuanya. Tak ada satupun daya bagiku untuk menolak luka yang dikirimkannya bertubi-tubi.
Sesak, rasanya seperti mati, seperti itukah rasanya mati? Bukankah jika kita mati tak ada lagi yang dirasa? Lalu apa namanya itu? Saat raga rasanya tak lagi berguna, saat jiwa dihancurkan sekejap mata.
Kenapa? Sebenarnya apa arti cinta di mata mereka? Apakah hanya sekedar sampah? Kenapa mereka begitu mengerikan?
"Kita sudah sampai."
Suara Malven mengejutkanku, aku segera mengerjap dan mencari kesadaranku lagi. Lamunan panjang telah membawaku nyaris tak menyentuh bumi.
"Kau baik-baik saja?"
Entah kenapa hari ini aku banyak mendengar nada cemas terlontar dari mulut pria yang selalu mengeluarkan kata-kata menyebalkan ini, dan aku hanya mengangguk.
"Thanks," ucapku setelah kubuka pintu mobilnya dan bersiap keluar menuju ruangan apartemenku yang nyaman.
"Kuantar sampai ke atas," katanya seakan memerintah.
Aku segera menggeleng, "Ga usah, makasih. Aku bisa sendiri," kataku sebelum menutup pintunya.
Kulihat kaca mobil itu turun perlahan dan menampakkan wajah Malven yang kalau mataku tak berkabut kurasa dia nampak khawatir. "Take care," katanya padaku.
Aku mengangguk dan membalikkan tubuhku lalu melangkah menuju pintu masuk gedung apartemen terbesar di kotaku ini.
.
Kuhentikan lift di lantai 5 lalu melangkah gontai sembari menekuri lantai menuju ruanganku. Rasanya begitu lelah, terlalu banyak yang kupikirkan hari ini dan rasanya aku ingin menghilang saja.
Kepalaku kembali terasa begitu sakit, perutku pun terasa begitu mual, sepertinya aku benar-benar butuh tidur yang cukup lama. Kubuka tasku untuk mengambil kunci pintu apartemen. Dengan sedikit susah payah kumasukkan anak kunci itu ke lubangnya.
"Vall..."
Jantungku bagai dipukul godam, suara itu. Kuhentikan gerakan tanganku saat itu juga, apakah aku tak salah dengar? Mungkin hanya halusinasi karena seharian aku terus memikirkannya.
"Vall..."
Dan kali ini aku merasa begitu lemas ketika menyadari jika memang ada orang lain yang berdiri di belakangku.
"Vall, kumohon... lihat aku," pinta suara itu memelas.
Kupejamkan sejenak mataku sebelum kubalikkan tubuhku, dan ya... dia ada di sini, begitu dekat denganku. Kutahan rasa perih yang mulai menghampiriku kembali.
"Vall... maafkan aku," katanya.
Kuberanikan diri memandang wajahnya, menatap matanya. Ya Tuhan... sungguh dia tak berubah, wajahnya, tatapannya, bibirnya, suaranya, bahkan harumnya. "Maaf... untuk apa?" tanyaku lirih menahan getaran. Jantungku berdebar begitu kencang, kurasakan keringat dingin mulai membasahi kening dan punggungku.
Raditya tampak begitu gugup, berkali-kali dia mengusapkan telapak tangannya ke samping tubuhnya. "Aku... aku tak pernah bermaksud menyakitimu."
Aku tersenyum miris, sepertinya dia ingin kembali menjelajah masa lalu, "Lalu kau sebut sikapmu dulu sebagai apa? Menghiburku?" tanyaku sarkas.
"Vall... aku mencintaimu," katanya.
Aku terhenyak. Cinta? Dia bilang dia mencintaiku?
"Aku masih sangat mencintaimu, Valleria," ulang Radit.
Aku menatapnya nanar, "Kau menyebutnya cinta? Seperti itukah makna cinta untukmu?"
"Ini semua tak seperti yang kau bayangkan, Vall... aku tak pernah berhenti jatuh cinta padamu. Aku..."
"Anak itu... anak yang sekarang telah lahir itu, siapa Ayahnya?" potongku dengan tanya.
Raditya terpaku menatapku, ada binar tak terbaca di matanya, entah itu luka atau apa.
"Siapa Ayahnya, Dit?" tanyaku lagi.
Raditya terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Aku."
Aku tersenyum lagi dengan hati tersayat-sayat. "Apa Ibunya yang dulu memaksamu melakukan hal itu? Menghamilinya?" kejarku.
Radit menatapku, mulutnya terbuka seperti hendak bersuara, tapi hanya bisu yang kudengar.
"Apa gadis itu yang memaksamu sehingga dia hamil?" ulangku, dan kali ini Raditya menggeleng.
"Dan kau bilang kalau sejak dulu kau tak pernah berhenti mencintaiku?" tanyaku lagi.
"Vall... aku.."
"Jelas sekali kau menghianatiku, Dit. Lalu darimana cinta itu datang? Tak ada cinta di atas penghianatan, Raditya," ucapku, kali ini aku tak bisa menyembunyikan getar pada suaraku.
"Vall... aku menyesal. Beri aku kesempatan sekali lagi," pintanya.
Aku membelalakkan mata terkejut mendengar ucapannya, "Kau ingin aku memberimu kesempatan lagi? Kesempatan untuk apa?" tanyaku, lalu aku menggeleng dengan keras, "Tak ada lagi kesempatan sejak kau melangkahkan kakimu untuk yang terakhir kalinya dari pintu ini dua tahun yang lalu," tegasku.
Aku terpaku saat Radtya melangkah semakin dekat lalu memelukku erat, "Lepas!!!" kataku, tapi sekali lagi tubuhku tak mampu melawan kekuatannya.
"Apa kau tak mencintaiku lagi, Vall? Tak merindukanku?"
Kurasakan tubuh pria itu bergetar saat memelukku. Pelukannya masih sama seperti dulu, begitu hangat. Bisa kudengar lagi degup jantungnya yang dulu selalu mampu membuatku tenang. Apakah benar aku tak mencintainya lagi? Apa rasa sakit ini adalah bentuk cinta yang tersembunyi? Kalau memang cinta kenapa harus sesakit ini? Rindukah? Mengingatnya setiap detik apakah juga bentuk dari rindu yang terpendam?
"Vall... kembalilah padaku, kumohon," bisik Raditya di telingaku.
Kenapa? Kenapa cinta jadi tampak begitu menakutkan?
Kudorong tubunya saat rasa sakit menyerangku dari segala arah, "Pergi... kumohon pergilah," pintaku sebelum akal sehatku hilang.
"Kau masih menginginkanku, Vall... jujurlah," paksa Raditya.
Kepalaku mulai berputar saat aku terus menggeleng, entah apa yang kutolak. Pernyataannya? Ataukah kenyataannya?
"Kau masih mencintaiku, Vall..." paksa Radit lagi sambil kembali mencoba mendekat.
Mataku mulai berkabut, dan dadaku juga terasa begitu sesak sehingga aku harus bernafas dengan tersengal-sengal, "Pergi, kubilang... PERGI!!!" teriakku sebelum pandanganku berubah gelap. Dan sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya aku masih bisa mendengar teriakan dua orang memanggil namaku. Dua orang?
.
#
.
Suara langkah kaki mondar mandir di dekatku mengusik lelapku. Ada apa? Apakah aku sedang tidur? Kucoba membuka mata perlahan, putih. Kenapa putih? Aku tak suka warna putih.
"Vall... kau sudah bangun?"
Kulihat mas Reno sudah berdiri di depanku dengan wajah cemasnya.
Aku mengernyitkan keningku, kenapa ada mas Reno? Ini dimana? Aku ingin bertanya tapi rasanya begitu berat. Tapi melihat infus yang terpasang di tangan kiriku aku bisa menebak kalau aku sedang berada di rumah sakit.
"Ada yang sakit? Mana yang sakit, Vall?" tanya mas Reno sambil mengusap lembut kening dan rambutku.
Aku mencoba untuk menggeleng, tak ada yang sakit, hanya saja rasanya begitu lemas. "Mas..." ucapku akhirnya.
"Ya, sayang? Kamu butuh apa?" tanyanya penuh kasih.
Aku memejamkan mataku sebentar sebelum kembali bertanya, "Aku kenapa?"
Mas Reno manatapku lurus tanpa menghentikan belaiannya di keningku. "Tadi siang kamu pingsan di depan apartemenmu, dan Malven yang membawamu ke sini," jawabnya.
"Malven?" tanyaku tak percaya, bukankah dia cuma mengantarku sampai parkiran saja?
Mas Reno menghela nafas panjang, "Malven bilang... kamu seperti habis bertengkar dengan seseorang sebelum pingsan. Siapa, Vall?"
Aku mencoba memutar lagi kejadian sebelum aku jatuh pingsan dan perlahan mulai ingat lagi semua yang terjadi.
"Raditya?"
Aku tersentak saat mas Reno menyebutkan nama pria itu.
"Mau apa dia? Ngapain dia datang lagi?" tanya sepupuku itu dengan wajah menahan amarah.
Aku cuma diam dan menggeleng, mas Reno begitu membenci Raditya dan aku tak ingin ada masalah lagi nantinya.
"Apa dia nyakitin kamu? Bilang, Vall... biar aku hajar lagi dia sampe babak belur," ancamnya.
"Siapa yang mau kau hajar? Aku ikut, sudah lama aku tak melatih kekuatan tangan dan kakiku," sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang Reno.
Aiiisssh... kenapa dia harus jadi kompor sih? batinku saat melihat kehadiran Malven.
"Sudah... sudah, biarkan Vallerie istirahat dulu, kalian jangan ribut di sini," sergah Rena yang ternyata juga ikut di belakang pamannya. "Gimana keadaanmu, cinta?" tanyanya padaku dengan panggilan kesayangannya.
Aku mencoba tersenyum sambil memijat pangkal hidungku, "Cuma sedikit pusing dan lemas," jawabku. "Aku kenapa, Na?"
Sahabat yang kini menjadi saudara iparku itu duduk di tempat tidur sambil mengusap tangan kananku yang tak diinfus, "Tekanan darah dan HB mu sangat rendah, dan ada tipesnya juga, makanya kamu tadi sampai pingsan, Vall," jawabnya.
"Dua kali," sambung Malven.
Rena dan mas Reno segera menatap Malven dengan tajam, "Dua kali gimana?" tanya Reno.
Malven mengangkat bahunya sambil memandangku, "Yang pertama tadi pagi di kantorku, lalu setelah makan siang di depan apartemennya."
"Ngapain kamu ke kantor kakeknya Reva?" tanya mas Reno dengan bingung.
"Sudah kubilang kalau aku sudah lama tak melatih tangan dan kakiku, kau mau jadi kelinci percobaanku?" tantang Malven pada Reno karena menyebutnya kakek, sementara Rena tertawa lepas.
"Ngasih pasport-ku, mas. Minggu depan aku ikut Malven ke Adelaide," jawabku, dan Reno semakin mengernyitkan keningnya.
"Kenapa harus sama dia? Kamu yakin bakalan aman?" tanya Reno yang entah kenapa suka sekali menebar aura pertikaian dengan adik mertuanya sendiri.
"Mas..." Rena memperingatkan suaminya dengan wajah kesal, mungkin dia sudah pusing mendengarkan keributan tak berguna dari dua pria dewasa itu.
"Kau sendiri yang mengusirnya untuk berlibur, kan? Aku berbaik hati saja memberinya tumpangan dan menawarkan diri menjadi guide untuknya," jawab Malven sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur untuk penunggu pasien di ruangan, yang kutebak pasti, VVIP ini.
"Siapa yang ngusir? Aku cuma suruh Vallerie ambil cuti untuk berlibur, bukan memintanya mengumpankan diri ke mulut harimau," jawab Reno yang hanya dibalas oleh kekehan Malven.
Dua pria itu selalu berdebat, tapi dibalik semuanya mereka juga adalah rekan bisnis yang baik.
Tanpa sadar aku sedikit mengernyitkan kening karena pusing yang mulai datang lagi, "Udah mas jangan berisik, sepertinya Vall masih belum bisa denger kalian ribut terus," kata Rena pada suaminya.
Aku tersenyum, rasanya memang begitu lelah, dan lemas, padahal hanya berbincang sebentar dengan mereka. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Mas Ren, mas ga bilang ke mama atau tante kan kalau aku sakit?" tanyaku.
Reno menggeleng, "Ga, Vall. Karena aku tahu kamu pasti ga pengen mereka tahu. Apalagi sekarang mereka berempat sedang honeymoon dadakan ke London."
Aku tersenyum lega, lagipula ini bukan sakit parah, dan aku tak ingin mereka khawatir lalu memaksakan diri untuk pulang.
"Ya sudah kamu istirahat ya? Gpp kan sendirian?" tanya mas Reno.
"Mas di sini aja jagain Vallerie, biar aku pulang sama om Malven," kata Rena.
Aku segera menggeleng, "Udah kalian pulang aja semua, aku bukan balita lagi. Lagipula aku tinggal panggil suster kalau butuh sesuatu," tolakku pelan dengan mata yang mulai terasa berat. Bahkan sepertinya aku tak dengar apa-apa lagi setelahnya.
.
Apa? Siapa di sana? Siapa yang terus berusaha mendekatiku dari kegelapan?
"Vall... aku mencintaimu, Vall.."
Jantungku berdebar dengan begitu kencangnya, suara itu, bayangan tubuh itu, aku mengenalnya.
"Vall... kembalilah padaku."
Bayangan itu semakin jelas dan semakin dekat seakan ingin menarikku dan membawaku pergi. Aku menggeleng keras dengan keringat yang mengalir deras dan terasa begitu dingin di tubuhku, "Pergi... pergi..." tolakku yang terus melangkah mundur.
"Vall, please..."
Akhirnya wajah Raditya tampak jelas di mataku, tapi tatapannya bukan seperti dia yang kukenal dulu. Tatapannya begitu mengerikan, dan bibirnya menyeringai licik. Aku semakin panik dan semakin merasa takut, "Pergi... PERGI!!!" teriakku keras dengan jantung yang semakin berdegup tak beraturan.
"Vall.."
Aku menutup mata dan telinga sambil terus meronta saat kurasakan sepasang tangan menyentuhku.
"Vallerie, kamu kenapa?!!"
Aku terus meronta saat sepasang tangan itu justru merengkuhku.
"Ya Tuhan, Vall... buka matamu, ini aku!!!"
Seperti tersengat arus listrik akupun tersadar, segera kubuka mataku dengan nafas tersengal-sengal. Ada seseorang di hadapanku, tapi bukan Raditya. Seseorang dengan mata coklatnya yang gelap, yang tampak begitu cemas menatapku.
"Apa yang terjadi? Apa kau bermimpi buruk?" tanyanya lembut sambil menyibakkan rambut dari wajahku.
Aku tak bisa menjawab, kepalaku terasa begitu sakit, dan nafaskupun tak teratur. Rasa takut tadi masih terasa, hanya saja kali ini ada rasa lega dan tenang melihat ada Malven di dekatku.
"Tidurlah lagi, Vall, ini masih tengah malam," kata Malven sambil mengusap ujung kepalaku. Rasanya begitu nyaman sehingga kurasakan mataku kembali memberat.
"Tidurlah, jangan takutkan apapun. Aku di sini," bisikan Malven mengantarku kembali terlelap.
.
#
.
Aku menggeliat pelan saat kurasakan sesuatu yang berat menindih pinggangku. Tak keras, bahkan terasa begitu hangat. Perlahan kubuka mataku, tercium harum yang tak begitu kukenal. Dan langsung saja aku tercekat saat kusadari aku tengah tertidur dalam pelukan seseorang. Kudongakkan kepala dan kulihat Malven tengah terpejam, lengannya terulur di bawah kepalaku dan kujadikan bantal, sejak kapan? Jantungku berdebar, debar aneh yang membuat tubuhku memanas. Bagaimana bisa?
Aku berusaha bangun walau kepalaku masih sedikit pusing, dan gerakan tubuhku akhirnya membuat pria itu membuka matanya, "Kau sudah bangun?" tanyanya tenang.
"K-kenapa kamu di sini?" tanyaku gugup setelah dia bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas air untukku. Kuambil gelas dari tangannya lalu meneguk sedikit isinya untuk meredakan debar jantungku yang tak beraturan.
"Apartemenku sedang di renovasi, aku tak suka bau cat, makanya aku memilih menginap di sini," jawabnya sambil duduk di kursi dekat tempat tidurku. Dia meraih gelas dari tanganku lalu menghabiskan sisanya. Entah kenapa kurasakan wajahku memanas melihat ulahnya.
"Terus? Terus kenapa kamu bisa..." aku tak melanjutkan kata-kataku, aku hanya menunjuk tempat di sisiku yang habis ditidurinya.
Malven terkekeh lalu mengacak rambut coklatnya dan membuatnya berantakan. Kenapa dia semakin terlihat... seksi? Oh Tuhan, otakku...!!!
"Semalam kau berteriak waktu tidur, sepertinya mimpi buruk," jawab pria itu. "Saat kau bangun dan melihatku kau langsung tidur lagi, dan tangamu terus memegangku, kupikir kau pasti masih merasa takut, ya sudah akhirnya aku tidur saja di sana bersamamu," lanjutnya sambil berdiri dan melangkah ke tempat tidur penunggu untuk kembali merebahkan tubuhnya.
'Enteng sekali jawabannya, apa dia ga tahu kalau jantungku seperti mau lompat keluar waktu lihat dia sedang tidur sambil memelukku?' batinku.
Aku sedikit terkejut saat pintu kamarku terbuka, dua orang suster masuk sambil tersenyum, "Selamat pagi, mbak... sudah bangun?" tanya mereka ramah. Seorang suster yang masih muda langsung memeriksa botol infusku, sementara yang satunya, yang terlihat lebih senior, memintaku kembali berbaring untuk memeriksa tekanan darahku.
Kulihat suster yang muda melirik ke arah seberang tempat tidurku dengan senyum kecil dan wajah yang sedikit bersemu merah, segera kuarahkan mataku ke tempatnya memandang, kulihat Malven telah kembali memejamkan matanya. Hah... dasar perempuan, tak bisa santai kalau melihat pria tampan.
Saat kulihat logo Rumah Sakit di seragam para suster itu aku seperti di sadarkan akan sesuatu, ya... aku berada di Rumah Sakit tempat Raditya praktek, segera saja perasaanku kembali tak enak. "Sus... siapa dokter yang merawatku?" tanyaku curiga.
Suster yang sudah selesai memeriksa tekanan darahku tersenyum, "Dokter Rossita, mbak," jawabnya.
Rossita? Rossita? Dimana aku pernah mendengar nama itu? Tanyaku dalam hati.
"Beliau masih sangat muda, tapi juga sangat pintar," lanjut suster muda yang masih sibuk melirik ke arah Malven dengan tatapan terpesonanya. Aku hanya mengangguk saja, kupikir tak masalah siapapun dokternya, selama itu bukan...
"Tapi mulai hari ini dokter Ross tidak bisa visite, nanti akan digantikan oleh suaminya yang juga dokter, namanya dokter Raditya Kurniawan, mbak."
Kata-kata perawat itu sukses merampas seluruh nafasku. Ya Tuhan... kenapa harus dia? Aku kembali memejamkan mata, kupijat pangkal hidungku dengan kuat untuk meredakan sakit yang kembali menghantam kepalaku. Ingin rasanya kumaki mereka, tapi semua ini bukan salah mereka, dan mereka tidak tahu apa-apa.
"Dokter David yang nanti akan merawatmu, aku sudah memintanya secara pribadi untuk menggantikan doktermu."
Suara Malven kembali membuatku membuka mata, kulihat dia sudah berdiri di dekat tempat tidurku dengan dua tangan tersimpan di balik saku celana jeansnya. Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti.
"Dave adalah teman baikku, dia dokter spesialis penyakit dalam terbaik saat ini. Jadi semalam kutelpon dia dan memintanya untuk merawatmu," jawab Malven sambil kembali duduk di tempat tidurku. Entah kenapa aku mulai terbiasa berdekatan dengannya.
"Maaf, pak... kami belum menerima konfirmasi apapun dari dokter Rossi maupun dokter David tentang pergantian perawatan ini," kata suster yang tadi memeriksa tensiku.
Malven hanya mengangkat bahu, dia tak menatap kedua suster itu, matanya hanya lurus memandangku, "Aku tak peduli bagaimana prosedurnya, hanya saja David sudah menyatakan bersedia dan oke," jawabnya acuh.
Aku tersenyum dan benafas lega, kali ini aku sangat menyukai sifat arogannya.
Pintu kamarku kembali terbuka, seorang pria setengah baya masuk dengan wajah kesal, "Selamat pagi, Nona. Seumur karirku sebagai dokter tidak pernah sekalipun aku harus memeriksa pasien sepagi ini kalau saja yang memintaku dengan paksa bukan orang itu," tunjuknya pada Malven yang hanya terkekeh. Sementara dua orang perawat yang ada di ruangan segera mundur setelah memberikan hormat kepada orang yang baru datang itu.
Aku memicingkan mata mencoba menebak siapa pria dengan warna kulit coklat terang ini. Kutebak umurnya berkisar 45 tahunan, tapi tak mengurangi gurat tampan dari wajahnya.
Malven berdiri dan menjabat erat tangan pria itu lalu memeluknya sebentar, "Lama tak bertemu tapi mulutmu tetap menyebalkan, dok," katanya sambil menepuk lengan pria itu.
"Tak ada yang lebih menyebalkan selain menerima telpon tengah malam dan memaksaku memeriksa pasien sepagi mungkin," jawabnya sarkas. Dan lagi-lagi Malven hanya tertawa ringan. "Perbuatannya kah?" batinku.
"Tolong ambilkan stateskop dan rekam medisnya," perintahnya pada para perawat tanpa melihat ke arah mereka, dan suster muda segera mengangguk dan melangkah keluar untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh pria dengan wajah sedikit blasteran ini.
Aku mencoba tersenyum saat pria itu akhirnya menatapku dan mengamatiku dari balik kacamata beningnya. Bibirnya yang sejak tadi tampak kaku kini tersenyum padaku, "Maaf jika kesan pertamamu padaku buruk, Nona. Salahkan kekasihmu ini yang membuatku terjaga tengah malam dan tak bisa tidur lagi," katanya tanpa melihat Malven.
Aku membelalakkan mata, kekasih? Siapa kekasih Malven? Aku? Kutatap Malven dengan tajam, dan dia hanya menyeringai saja. Kubalas senyumnya dengan rasa sedikit kikuk, bagaimana cara menjelaskan padanya kalau malven bukan kekasihku? Pasti akan jadi lebih panjang lagi ceritanya.
"Perkenalkan, namaku David Gunawan. Kau bisa memanggilku Dave," kenalnya sambil mengulurkan tangan.
"Vallerie, Valleria Abraham," balasku sembari menyambut uluran tangannya.
Kulihat dokter David mengernyitkan keningnya dan menggenggam tanganku semakin erat, "Hmmm... suhu tubuhmu masih sangat tinggi, Vall," katanya. Lalu jemarinya yang panjang menekan lembut nadi tanganku dan mengangguk pelan. Setelah itu matanya yang sedikit biru mengamati rekam medis yang baru saja diberikan oleh perawat yang sudah kembali dari mengambil berkasnya.
"Masih ada beberapa tes darah lagi yang harus kau jalani dan juga tranfusi darah untuk menaikkan jumlah HB mu," terang dokter David tanpa menatapku.
"Seberapa parah sakitnya?"
Pertanyaan Malven yang penuh nada khawatir itu entah kenapa mengalirkan rasa hangat di dada, tak biasanya dia begitu, apalagi kami bisa dibilang tak pernah terlalu dekat atau akrab.
Dave menutup map kuning di tangannya setelah dia menuliskan sesuatu, lalu menyerahkan pada si perawat yang sejak tadi terus saja terpesona oleh Malven yang berdiri di dekatnya. "Kadar Hemoglobin darahnya cukup rendah, kita harus menaikkan jumlahnya hingga batas normal atau dia akan terus merasa lemas. Angka tipesnya juga cukup tinggi, jadi... Vallerie butuh istirahat total."
Malven kembali mendekatiku tanpa memutus pandangannya ke arahku, "Kalau begitu kita undur saja perjalanan kita," katanya.
"Kalian ada rencana pergi jauh?" tanya David.
Malven mengangguk, "Adelaide, minggu depan," jawabnya.
Dokter David mengusap dagunya yang tak ditumbuhi jenggot, dia tampak berpikir sejenak sebelum bicara, "Kurasa tak apa, kalau Vallerie bisa istirahat total tanpa gangguan kurasa dia akan pulih dalam beberapa hari ini."
Kulihat Malven menarik nafas lega, "Baguslah, kau bisa meneruskan istirahatmu di sana sambil liburan," katanya padaku yang entah kenapa kali ini tak ingin menolak idenya. Kurasa aku juga butuh lingkungan yang berbeda untuk menyembuhkan lukaku.
.
#
.
Kuhela nafas panjang sambil melirik jam di dinding, sudah lewat jam makan siang dan dia belum juga datang. 'Kenapa sih mas Reno harus minta dia yang jemput? Lebih baik kan aku naik taxi aja', gerutuku dalam hati.
Hari ini dokter David mengijinkanku pulang setelah aku capek merengek-rengek padanya. Lima hari di Rumah Sakit adalah hal yang sangat membosankan. Hampir saja kupeluk dia saat mengatakan kalau aku sudah bisa pulang siang ini. Setelah mas Reno kuberi kabar ternyata dia tak bisa menjemput karena sedang berada di luar kota, dan dia melarangku untuk pulang sendiri naik taxi. Dia memaksaku untuk menunggu Malven yang sampai saat ini belum juga datang.
"Setengah jam lagi kalau belum datang juga akan kutinggalkan dia", putusku.
Kuhabiskan waktuku dengan membuka-buka email yang masuk ke handphone-ku. Lima hari tak masuk kantor pasti akan banyak sekali pekerjaan yang menumpuk, begitu pikirku. Tapi kemarin mas Reno bilang kalau semua pekerjaanku sudah diselesaikan olehnya. Sempat kuputuskan membatalkan kepergianku untuk berlibur, tapi mas Reno melarang, dia memaksaku untuk tetap pergi sekalian beristirahat di tempat yang baru.
CKLEEKK!!!
"Dasar jam karet, kamu pikir aku ga bosan nungguin kamu daritadi?" omelku tanpa melihat siapa yang membuka pintu ruang rawatku.
"Siapa dia? Yang dengan seenak hati meminta dokter David menggantikan tugasku?"
Jantungku seakan berhenti berdetak saat kudengar sebuah suara yang begitu kukenal. Segera saja kudongakkan kepalaku untuk melihat pria yang sudah berdiri di hadapanku. "Radit," desisku.
"Siapa dia, Vall?" tanyanya lagi dan berjalan semakin mendekat, sementara aku tak bisa mundur karena posisiku yang sedang duduk di tempat tidur.
"Ap-apa sih, Dit?" aku tergagap.
Mata yang biasanya lembut itu kini tampak penuh amarah, "Aku yang seharusnya merawatmu, dan tiba-tiba kepala Rumah Sakit mengatakan kalau posisiku sudah digantikan oleh dokter lain. Siapa yang mengatur ini?" tanyanya lagi sambil menyengkeram kedua lenganku kuat-kuat.
"Aku ga ngerti kamu ngomong apa," jawabku walau aku begitu paham apa maksudnya. Dia marah karena Malven telah meminta dokter David untuk menggantikan dia.
"Segitu bencinya kamu sama aku? Atau itu cuma cara kamu mengelak dari perasaan kamu sendiri?"
Aku mulai muak mendengar kata-katanya, sebisa mungkin aku berusaha melepaskan lenganku dari cengkeramannya, "Yang pertama mungkin, tapi option kedua itu hanya khayalanmu saja, Dit. Perasaanku sudah mati sejak dua tahun yang lalu," bantahku dan aku menjerit saat cekalan tangannya semakin kuat di lenganku.
Mataku terbelalak saat kulihat pria yang kukenal begitu lembut itu berusaha untuk menciumku dengan paksa. Kutendang kakinya, tapi itu tak membuatnya mundur, bahkan dia semakin menarik tubuhku, "Jangan, Radit!!! Gila kamu!!!" pekikku sambil terus meronta. Ini menakutkan, Raditya yang kukenal tak pernah bersikap seperti ini, tak pernah memaksa.
"Apa kamu harus kupaksa dulu supaya kamu sadar kalau kamu masih cinta sama aku, Vall?" tanya Raditya yang segera saja mendorong tubuhku dengan kasar ke tempat tidur.
Rasa takut itu semakin mencengkeram dadaku, "Radit, Jangan!!! Pergi!!!" teriakku sambil terus meronta dan menghindari bibirnya yang terus saja berusaha menciumku.
Setelahnya, di antara pandanganku yang mulai kabur oleh airmata takut dan kecewa, kulihat tubuh Raditya terdorong menjauh dengan paksa, dan aku begitu lega saat kulihat Malven berdiri di dekatku dengan raut muka... marah? Segera saja tendangan lutut Malven mendarat di perut Raditya dan membuat pria itu tersungkur di lantai.
Setelah melihat kalau Raditya tak melawan Malven lalu menghampiriku. Tanganku yang terkepal di depan dada gemetar, bibirku gemetar, seluruh tubuhku gemetar. Lidahku terasa begitu kelu, bahkan aku tak bisa mengatakan sepatah katapun pada Malven yang terus saja memandangku. Aku berusaha bangkit dari posisiku dengan susah payah, hingga akhirnya aku hanya bisa menangis pelan saat pria itu menarik tubuhku dengan lembut ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku terlambat menjemputmu," katanya sambil terus mengusap punggungku, memberikan rasa aman yang begitu besar.
Aku tak menjawab, aku hanya bisa menggeleng di dadanya.
"Sebaiknya kau pergi, dokter. Sebelum kupanggil Security untuk melemparmu ke jalan," kata-kata Malven tampak menahan geram, dan dekapannya padaku semakin erat.
"Siapa anda? Apa anda mengancam saya?" kudengar Raditya juga tampak marah.
"Kau pikir aku tak bisa menjatuhkanmu karena kau menantu dari kepala Rumah Sakit ini? Percayalah, bahkan aku bisa menghancurkan Rumah Sakit ini dalam sehari," tubuhku menegang saat kudengar kata-kata pria itu. Kurasakan Malven menyurukkan wajahnya ke rambutku, "Sssh... It's okay," bisiknya.
Kulepaskan tubuhku dari pelukan pria itu, "Kita pulang aja, Ven," ajakku lemah setelah puas menangis, aku tak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Kulihat Raditya yang sudah kembali berdiri menatapku tajam.
Aiiisssh... kenapa dia harus jadi kompor sih? batinku saat melihat kehadiran Malven.
"Sudah... sudah, biarkan Vallerie istirahat dulu, kalian jangan ribut di sini," sergah Rena yang ternyata juga ikut di belakang pamannya. "Gimana keadaanmu, cinta?" tanyanya padaku dengan panggilan kesayangannya.
Aku mencoba tersenyum sambil memijat pangkal hidungku, "Cuma sedikit pusing dan lemas," jawabku. "Aku kenapa, Na?"
Sahabat yang kini menjadi saudara iparku itu duduk di tempat tidur sambil mengusap tangan kananku yang tak diinfus, "Tekanan darah dan HB mu sangat rendah, dan ada tipesnya juga, makanya kamu tadi sampai pingsan, Vall," jawabnya.
"Dua kali," sambung Malven.
Rena dan mas Reno segera menatap Malven dengan tajam, "Dua kali gimana?" tanya Reno.
Malven mengangkat bahunya sambil memandangku, "Yang pertama tadi pagi di kantorku, lalu setelah makan siang di depan apartemennya."
"Ngapain kamu ke kantor kakeknya Reva?" tanya mas Reno dengan bingung.
"Sudah kubilang kalau aku sudah lama tak melatih tangan dan kakiku, kau mau jadi kelinci percobaanku?" tantang Malven pada Reno karena menyebutnya kakek, sementara Rena tertawa lepas.
"Ngasih pasport-ku, mas. Minggu depan aku ikut Malven ke Adelaide," jawabku, dan Reno semakin mengernyitkan keningnya.
"Kenapa harus sama dia? Kamu yakin bakalan aman?" tanya Reno yang entah kenapa suka sekali menebar aura pertikaian dengan adik mertuanya sendiri.
"Mas..." Rena memperingatkan suaminya dengan wajah kesal, mungkin dia sudah pusing mendengarkan keributan tak berguna dari dua pria dewasa itu.
"Kau sendiri yang mengusirnya untuk berlibur, kan? Aku berbaik hati saja memberinya tumpangan dan menawarkan diri menjadi guide untuknya," jawab Malven sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur untuk penunggu pasien di ruangan, yang kutebak pasti, VVIP ini.
"Siapa yang ngusir? Aku cuma suruh Vallerie ambil cuti untuk berlibur, bukan memintanya mengumpankan diri ke mulut harimau," jawab Reno yang hanya dibalas oleh kekehan Malven.
Dua pria itu selalu berdebat, tapi dibalik semuanya mereka juga adalah rekan bisnis yang baik.
Tanpa sadar aku sedikit mengernyitkan kening karena pusing yang mulai datang lagi, "Udah mas jangan berisik, sepertinya Vall masih belum bisa denger kalian ribut terus," kata Rena pada suaminya.
Aku tersenyum, rasanya memang begitu lelah, dan lemas, padahal hanya berbincang sebentar dengan mereka. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Mas Ren, mas ga bilang ke mama atau tante kan kalau aku sakit?" tanyaku.
Reno menggeleng, "Ga, Vall. Karena aku tahu kamu pasti ga pengen mereka tahu. Apalagi sekarang mereka berempat sedang honeymoon dadakan ke London."
Aku tersenyum lega, lagipula ini bukan sakit parah, dan aku tak ingin mereka khawatir lalu memaksakan diri untuk pulang.
"Ya sudah kamu istirahat ya? Gpp kan sendirian?" tanya mas Reno.
"Mas di sini aja jagain Vallerie, biar aku pulang sama om Malven," kata Rena.
Aku segera menggeleng, "Udah kalian pulang aja semua, aku bukan balita lagi. Lagipula aku tinggal panggil suster kalau butuh sesuatu," tolakku pelan dengan mata yang mulai terasa berat. Bahkan sepertinya aku tak dengar apa-apa lagi setelahnya.
.
Apa? Siapa di sana? Siapa yang terus berusaha mendekatiku dari kegelapan?
"Vall... aku mencintaimu, Vall.."
Jantungku berdebar dengan begitu kencangnya, suara itu, bayangan tubuh itu, aku mengenalnya.
"Vall... kembalilah padaku."
Bayangan itu semakin jelas dan semakin dekat seakan ingin menarikku dan membawaku pergi. Aku menggeleng keras dengan keringat yang mengalir deras dan terasa begitu dingin di tubuhku, "Pergi... pergi..." tolakku yang terus melangkah mundur.
"Vall, please..."
Akhirnya wajah Raditya tampak jelas di mataku, tapi tatapannya bukan seperti dia yang kukenal dulu. Tatapannya begitu mengerikan, dan bibirnya menyeringai licik. Aku semakin panik dan semakin merasa takut, "Pergi... PERGI!!!" teriakku keras dengan jantung yang semakin berdegup tak beraturan.
"Vall.."
Aku menutup mata dan telinga sambil terus meronta saat kurasakan sepasang tangan menyentuhku.
"Vallerie, kamu kenapa?!!"
Aku terus meronta saat sepasang tangan itu justru merengkuhku.
"Ya Tuhan, Vall... buka matamu, ini aku!!!"
Seperti tersengat arus listrik akupun tersadar, segera kubuka mataku dengan nafas tersengal-sengal. Ada seseorang di hadapanku, tapi bukan Raditya. Seseorang dengan mata coklatnya yang gelap, yang tampak begitu cemas menatapku.
"Apa yang terjadi? Apa kau bermimpi buruk?" tanyanya lembut sambil menyibakkan rambut dari wajahku.
Aku tak bisa menjawab, kepalaku terasa begitu sakit, dan nafaskupun tak teratur. Rasa takut tadi masih terasa, hanya saja kali ini ada rasa lega dan tenang melihat ada Malven di dekatku.
"Tidurlah lagi, Vall, ini masih tengah malam," kata Malven sambil mengusap ujung kepalaku. Rasanya begitu nyaman sehingga kurasakan mataku kembali memberat.
"Tidurlah, jangan takutkan apapun. Aku di sini," bisikan Malven mengantarku kembali terlelap.
.
#
.
Aku menggeliat pelan saat kurasakan sesuatu yang berat menindih pinggangku. Tak keras, bahkan terasa begitu hangat. Perlahan kubuka mataku, tercium harum yang tak begitu kukenal. Dan langsung saja aku tercekat saat kusadari aku tengah tertidur dalam pelukan seseorang. Kudongakkan kepala dan kulihat Malven tengah terpejam, lengannya terulur di bawah kepalaku dan kujadikan bantal, sejak kapan? Jantungku berdebar, debar aneh yang membuat tubuhku memanas. Bagaimana bisa?
Aku berusaha bangun walau kepalaku masih sedikit pusing, dan gerakan tubuhku akhirnya membuat pria itu membuka matanya, "Kau sudah bangun?" tanyanya tenang.
"K-kenapa kamu di sini?" tanyaku gugup setelah dia bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas air untukku. Kuambil gelas dari tangannya lalu meneguk sedikit isinya untuk meredakan debar jantungku yang tak beraturan.
"Apartemenku sedang di renovasi, aku tak suka bau cat, makanya aku memilih menginap di sini," jawabnya sambil duduk di kursi dekat tempat tidurku. Dia meraih gelas dari tanganku lalu menghabiskan sisanya. Entah kenapa kurasakan wajahku memanas melihat ulahnya.
"Terus? Terus kenapa kamu bisa..." aku tak melanjutkan kata-kataku, aku hanya menunjuk tempat di sisiku yang habis ditidurinya.
Malven terkekeh lalu mengacak rambut coklatnya dan membuatnya berantakan. Kenapa dia semakin terlihat... seksi? Oh Tuhan, otakku...!!!
"Semalam kau berteriak waktu tidur, sepertinya mimpi buruk," jawab pria itu. "Saat kau bangun dan melihatku kau langsung tidur lagi, dan tangamu terus memegangku, kupikir kau pasti masih merasa takut, ya sudah akhirnya aku tidur saja di sana bersamamu," lanjutnya sambil berdiri dan melangkah ke tempat tidur penunggu untuk kembali merebahkan tubuhnya.
'Enteng sekali jawabannya, apa dia ga tahu kalau jantungku seperti mau lompat keluar waktu lihat dia sedang tidur sambil memelukku?' batinku.
Aku sedikit terkejut saat pintu kamarku terbuka, dua orang suster masuk sambil tersenyum, "Selamat pagi, mbak... sudah bangun?" tanya mereka ramah. Seorang suster yang masih muda langsung memeriksa botol infusku, sementara yang satunya, yang terlihat lebih senior, memintaku kembali berbaring untuk memeriksa tekanan darahku.
Kulihat suster yang muda melirik ke arah seberang tempat tidurku dengan senyum kecil dan wajah yang sedikit bersemu merah, segera kuarahkan mataku ke tempatnya memandang, kulihat Malven telah kembali memejamkan matanya. Hah... dasar perempuan, tak bisa santai kalau melihat pria tampan.
Saat kulihat logo Rumah Sakit di seragam para suster itu aku seperti di sadarkan akan sesuatu, ya... aku berada di Rumah Sakit tempat Raditya praktek, segera saja perasaanku kembali tak enak. "Sus... siapa dokter yang merawatku?" tanyaku curiga.
Suster yang sudah selesai memeriksa tekanan darahku tersenyum, "Dokter Rossita, mbak," jawabnya.
Rossita? Rossita? Dimana aku pernah mendengar nama itu? Tanyaku dalam hati.
"Beliau masih sangat muda, tapi juga sangat pintar," lanjut suster muda yang masih sibuk melirik ke arah Malven dengan tatapan terpesonanya. Aku hanya mengangguk saja, kupikir tak masalah siapapun dokternya, selama itu bukan...
"Tapi mulai hari ini dokter Ross tidak bisa visite, nanti akan digantikan oleh suaminya yang juga dokter, namanya dokter Raditya Kurniawan, mbak."
Kata-kata perawat itu sukses merampas seluruh nafasku. Ya Tuhan... kenapa harus dia? Aku kembali memejamkan mata, kupijat pangkal hidungku dengan kuat untuk meredakan sakit yang kembali menghantam kepalaku. Ingin rasanya kumaki mereka, tapi semua ini bukan salah mereka, dan mereka tidak tahu apa-apa.
"Dokter David yang nanti akan merawatmu, aku sudah memintanya secara pribadi untuk menggantikan doktermu."
Suara Malven kembali membuatku membuka mata, kulihat dia sudah berdiri di dekat tempat tidurku dengan dua tangan tersimpan di balik saku celana jeansnya. Aku mengernyitkan kening tanda tak mengerti.
"Dave adalah teman baikku, dia dokter spesialis penyakit dalam terbaik saat ini. Jadi semalam kutelpon dia dan memintanya untuk merawatmu," jawab Malven sambil kembali duduk di tempat tidurku. Entah kenapa aku mulai terbiasa berdekatan dengannya.
"Maaf, pak... kami belum menerima konfirmasi apapun dari dokter Rossi maupun dokter David tentang pergantian perawatan ini," kata suster yang tadi memeriksa tensiku.
Malven hanya mengangkat bahu, dia tak menatap kedua suster itu, matanya hanya lurus memandangku, "Aku tak peduli bagaimana prosedurnya, hanya saja David sudah menyatakan bersedia dan oke," jawabnya acuh.
Aku tersenyum dan benafas lega, kali ini aku sangat menyukai sifat arogannya.
Pintu kamarku kembali terbuka, seorang pria setengah baya masuk dengan wajah kesal, "Selamat pagi, Nona. Seumur karirku sebagai dokter tidak pernah sekalipun aku harus memeriksa pasien sepagi ini kalau saja yang memintaku dengan paksa bukan orang itu," tunjuknya pada Malven yang hanya terkekeh. Sementara dua orang perawat yang ada di ruangan segera mundur setelah memberikan hormat kepada orang yang baru datang itu.
Aku memicingkan mata mencoba menebak siapa pria dengan warna kulit coklat terang ini. Kutebak umurnya berkisar 45 tahunan, tapi tak mengurangi gurat tampan dari wajahnya.
Malven berdiri dan menjabat erat tangan pria itu lalu memeluknya sebentar, "Lama tak bertemu tapi mulutmu tetap menyebalkan, dok," katanya sambil menepuk lengan pria itu.
"Tak ada yang lebih menyebalkan selain menerima telpon tengah malam dan memaksaku memeriksa pasien sepagi mungkin," jawabnya sarkas. Dan lagi-lagi Malven hanya tertawa ringan. "Perbuatannya kah?" batinku.
"Tolong ambilkan stateskop dan rekam medisnya," perintahnya pada para perawat tanpa melihat ke arah mereka, dan suster muda segera mengangguk dan melangkah keluar untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh pria dengan wajah sedikit blasteran ini.
Aku mencoba tersenyum saat pria itu akhirnya menatapku dan mengamatiku dari balik kacamata beningnya. Bibirnya yang sejak tadi tampak kaku kini tersenyum padaku, "Maaf jika kesan pertamamu padaku buruk, Nona. Salahkan kekasihmu ini yang membuatku terjaga tengah malam dan tak bisa tidur lagi," katanya tanpa melihat Malven.
Aku membelalakkan mata, kekasih? Siapa kekasih Malven? Aku? Kutatap Malven dengan tajam, dan dia hanya menyeringai saja. Kubalas senyumnya dengan rasa sedikit kikuk, bagaimana cara menjelaskan padanya kalau malven bukan kekasihku? Pasti akan jadi lebih panjang lagi ceritanya.
"Perkenalkan, namaku David Gunawan. Kau bisa memanggilku Dave," kenalnya sambil mengulurkan tangan.
"Vallerie, Valleria Abraham," balasku sembari menyambut uluran tangannya.
Kulihat dokter David mengernyitkan keningnya dan menggenggam tanganku semakin erat, "Hmmm... suhu tubuhmu masih sangat tinggi, Vall," katanya. Lalu jemarinya yang panjang menekan lembut nadi tanganku dan mengangguk pelan. Setelah itu matanya yang sedikit biru mengamati rekam medis yang baru saja diberikan oleh perawat yang sudah kembali dari mengambil berkasnya.
"Masih ada beberapa tes darah lagi yang harus kau jalani dan juga tranfusi darah untuk menaikkan jumlah HB mu," terang dokter David tanpa menatapku.
"Seberapa parah sakitnya?"
Pertanyaan Malven yang penuh nada khawatir itu entah kenapa mengalirkan rasa hangat di dada, tak biasanya dia begitu, apalagi kami bisa dibilang tak pernah terlalu dekat atau akrab.
Dave menutup map kuning di tangannya setelah dia menuliskan sesuatu, lalu menyerahkan pada si perawat yang sejak tadi terus saja terpesona oleh Malven yang berdiri di dekatnya. "Kadar Hemoglobin darahnya cukup rendah, kita harus menaikkan jumlahnya hingga batas normal atau dia akan terus merasa lemas. Angka tipesnya juga cukup tinggi, jadi... Vallerie butuh istirahat total."
Malven kembali mendekatiku tanpa memutus pandangannya ke arahku, "Kalau begitu kita undur saja perjalanan kita," katanya.
"Kalian ada rencana pergi jauh?" tanya David.
Malven mengangguk, "Adelaide, minggu depan," jawabnya.
Dokter David mengusap dagunya yang tak ditumbuhi jenggot, dia tampak berpikir sejenak sebelum bicara, "Kurasa tak apa, kalau Vallerie bisa istirahat total tanpa gangguan kurasa dia akan pulih dalam beberapa hari ini."
Kulihat Malven menarik nafas lega, "Baguslah, kau bisa meneruskan istirahatmu di sana sambil liburan," katanya padaku yang entah kenapa kali ini tak ingin menolak idenya. Kurasa aku juga butuh lingkungan yang berbeda untuk menyembuhkan lukaku.
.
#
.
Kuhela nafas panjang sambil melirik jam di dinding, sudah lewat jam makan siang dan dia belum juga datang. 'Kenapa sih mas Reno harus minta dia yang jemput? Lebih baik kan aku naik taxi aja', gerutuku dalam hati.
Hari ini dokter David mengijinkanku pulang setelah aku capek merengek-rengek padanya. Lima hari di Rumah Sakit adalah hal yang sangat membosankan. Hampir saja kupeluk dia saat mengatakan kalau aku sudah bisa pulang siang ini. Setelah mas Reno kuberi kabar ternyata dia tak bisa menjemput karena sedang berada di luar kota, dan dia melarangku untuk pulang sendiri naik taxi. Dia memaksaku untuk menunggu Malven yang sampai saat ini belum juga datang.
"Setengah jam lagi kalau belum datang juga akan kutinggalkan dia", putusku.
Kuhabiskan waktuku dengan membuka-buka email yang masuk ke handphone-ku. Lima hari tak masuk kantor pasti akan banyak sekali pekerjaan yang menumpuk, begitu pikirku. Tapi kemarin mas Reno bilang kalau semua pekerjaanku sudah diselesaikan olehnya. Sempat kuputuskan membatalkan kepergianku untuk berlibur, tapi mas Reno melarang, dia memaksaku untuk tetap pergi sekalian beristirahat di tempat yang baru.
CKLEEKK!!!
"Dasar jam karet, kamu pikir aku ga bosan nungguin kamu daritadi?" omelku tanpa melihat siapa yang membuka pintu ruang rawatku.
"Siapa dia? Yang dengan seenak hati meminta dokter David menggantikan tugasku?"
Jantungku seakan berhenti berdetak saat kudengar sebuah suara yang begitu kukenal. Segera saja kudongakkan kepalaku untuk melihat pria yang sudah berdiri di hadapanku. "Radit," desisku.
"Siapa dia, Vall?" tanyanya lagi dan berjalan semakin mendekat, sementara aku tak bisa mundur karena posisiku yang sedang duduk di tempat tidur.
"Ap-apa sih, Dit?" aku tergagap.
Mata yang biasanya lembut itu kini tampak penuh amarah, "Aku yang seharusnya merawatmu, dan tiba-tiba kepala Rumah Sakit mengatakan kalau posisiku sudah digantikan oleh dokter lain. Siapa yang mengatur ini?" tanyanya lagi sambil menyengkeram kedua lenganku kuat-kuat.
"Aku ga ngerti kamu ngomong apa," jawabku walau aku begitu paham apa maksudnya. Dia marah karena Malven telah meminta dokter David untuk menggantikan dia.
"Segitu bencinya kamu sama aku? Atau itu cuma cara kamu mengelak dari perasaan kamu sendiri?"
Aku mulai muak mendengar kata-katanya, sebisa mungkin aku berusaha melepaskan lenganku dari cengkeramannya, "Yang pertama mungkin, tapi option kedua itu hanya khayalanmu saja, Dit. Perasaanku sudah mati sejak dua tahun yang lalu," bantahku dan aku menjerit saat cekalan tangannya semakin kuat di lenganku.
Mataku terbelalak saat kulihat pria yang kukenal begitu lembut itu berusaha untuk menciumku dengan paksa. Kutendang kakinya, tapi itu tak membuatnya mundur, bahkan dia semakin menarik tubuhku, "Jangan, Radit!!! Gila kamu!!!" pekikku sambil terus meronta. Ini menakutkan, Raditya yang kukenal tak pernah bersikap seperti ini, tak pernah memaksa.
"Apa kamu harus kupaksa dulu supaya kamu sadar kalau kamu masih cinta sama aku, Vall?" tanya Raditya yang segera saja mendorong tubuhku dengan kasar ke tempat tidur.
Rasa takut itu semakin mencengkeram dadaku, "Radit, Jangan!!! Pergi!!!" teriakku sambil terus meronta dan menghindari bibirnya yang terus saja berusaha menciumku.
Setelahnya, di antara pandanganku yang mulai kabur oleh airmata takut dan kecewa, kulihat tubuh Raditya terdorong menjauh dengan paksa, dan aku begitu lega saat kulihat Malven berdiri di dekatku dengan raut muka... marah? Segera saja tendangan lutut Malven mendarat di perut Raditya dan membuat pria itu tersungkur di lantai.
Setelah melihat kalau Raditya tak melawan Malven lalu menghampiriku. Tanganku yang terkepal di depan dada gemetar, bibirku gemetar, seluruh tubuhku gemetar. Lidahku terasa begitu kelu, bahkan aku tak bisa mengatakan sepatah katapun pada Malven yang terus saja memandangku. Aku berusaha bangkit dari posisiku dengan susah payah, hingga akhirnya aku hanya bisa menangis pelan saat pria itu menarik tubuhku dengan lembut ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku terlambat menjemputmu," katanya sambil terus mengusap punggungku, memberikan rasa aman yang begitu besar.
Aku tak menjawab, aku hanya bisa menggeleng di dadanya.
"Sebaiknya kau pergi, dokter. Sebelum kupanggil Security untuk melemparmu ke jalan," kata-kata Malven tampak menahan geram, dan dekapannya padaku semakin erat.
"Siapa anda? Apa anda mengancam saya?" kudengar Raditya juga tampak marah.
"Kau pikir aku tak bisa menjatuhkanmu karena kau menantu dari kepala Rumah Sakit ini? Percayalah, bahkan aku bisa menghancurkan Rumah Sakit ini dalam sehari," tubuhku menegang saat kudengar kata-kata pria itu. Kurasakan Malven menyurukkan wajahnya ke rambutku, "Sssh... It's okay," bisiknya.
Kulepaskan tubuhku dari pelukan pria itu, "Kita pulang aja, Ven," ajakku lemah setelah puas menangis, aku tak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Kulihat Raditya yang sudah kembali berdiri menatapku tajam.
"Kamu udah ga apa-apa?" tanyanya, dan aku meringis menahan sakit saat tangannya yang besar menyentuh lenganku. Tak kuat, tapi bekas cengkeraman Radit tadi menyisakan panas yang luar biasa di sana. Segera saja Malven menyingkap lengan bajuku yang memang lebar itu ke atas.
"Brengsek!!!" makinya entah pada siapa saat melihat lenganku yang tampak merah dan sedikit bengkak. Lalu dia menyingkap lengan baju yang lain dan semakin geram saat mendapati hal yang sama di sana.
Pria itu segera membalikkan tubuhnya dengan tangan terkepal erat, langkahnya panjang menuju Raditya.
"Malven, sudah... jangan!!!" hentiku saat dia menarik jubah putih Raditya dan mengarahkan tinjunya ke muka pria yang pernah begitu kucintai itu. "Sudah, Ven.. jangan bikin ribut di sini, please," pintaku sambil menahan lengannya yang kekar. "Kita pulang, ya?" bujukku lagi.
Dengan mulut terkatup rapat menahan amarah akhirnya Malven melepaskan jubah Radit dan menghempaskan pria itu ke dinding di belakangnya. Matanya yang tajam menghujam lurus ke arah dokter itu, pandangannya penuh ancaman.
"Ayo, Ven... aku capek," kataku masih menahan lengannya.
Malven lalu memandangku dan mengangguk, "Mana tasmu?" katanya. Aku menunjuk ke arah tempat tidur, pria itu segera mengambilnya dan membawanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merangkul pundakku dan mengusap lembut lenganku, "Bisa jalan?" tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan.
Aku kembali meringis saat lenganku tersentuh tangannya sedikit keras, dan segera saja pria itu menjauhkan tangannya dari lenganku, "Sakit, Ven.. ga apa-apa, aku bisa jalan sendiri," kataku.
Malven menggeser tubuhnya yang besar untuk memberikan jalan padaku. Aku memandang ke arah Raditya sebentar sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.
"Vall... kumohon jangan pergi dulu. Aku ingin..."
"Berhentilah mengganggu Vallerie," suara Malven menahan langkahku.
"Apa urusannya denganmu, Tuan? Punya hak apa kau atas Valleria?" tanya Radit.
Aku segera membalikkan tubuhku dan menangkap tangan Malven yang hendak kembali menghampiri Raditya, "Ga usah didengerin, Ven," pintaku sambil menarik tangannya.
Tapi sepertinya Raditya belum puas, "Kau yang tak punya urusan apa-apa terhadap kami sebaiknya tak usah ikut campur," katanya sebelum aku dan Malven melangkah keluar.
Kali ini aku yang geram, sifatnya membuatku benar-benar muak. Kubalikkan lagi tubuhku dan menatapnya dengan tajam, "Tentu dia punya hak atasku, Dit," kataku sinis, "Melindungi kekasihnya sendiri dari rasa sakit kurasa adalah sifat yang sangat lelaki sekali, kan?"
Tak hanya Raditya, akupun terhenyak oleh kata-kataku sendiri. Bagaimana bisa aku menyebut Malven sebagai kekasih? Kucoba sekuat tenaga untuk bersikap biasa di hadapan mereka walau aku tak yakin bagaimana bentuk wajahku saat ini.
Malven terkekeh pelan di belakangku, membuatku ingin mengubur diri saja rasanya. "Ayo, sayang. Aku tak ingin membuatmu lebih lama lagi menghadapi MANTAN kekasihmu itu," katanya sambil menarik lembut tanganku dan membimbingku keluar dari tempat itu, meninggalkan Raditya yang masih terpaku di tempatnya.
.
"Kamu ga capek ketawa terus?" gerutuku saat mobil Malven sudah melaju di jalan raya.
Malven masih terkekeh sambil terus melihat jalan di depannya, "Jadi kamu lebih suka ngeliat aku marah? Kamu ga takut, sayang?" godanya.
Aku melenguh pelan sambil mengusap wajahku yang mungkin sudah memerah saat ini, "Maafin aku, aku ga tau lagi harus berkata apa supaya dia diam," jelasku.
Malven tertawa pelan, lalu tangan kirinya mengacak rambutku dengan gemas, "Lakukan apapun yang kamu suka," katanya yang berhasil membuat dadaku berdesir halus. "Kamu tidur aja, kita pulang ke tempat Rena, ya?" sambungnya yang kubalas anggukan.
Segera kunyamankan tubuhku di kursi empuk Jeep Wrangler Malven ini, dan memejamkan mata perlahan sembari menikmati alunan instrumen Kenny. G dari tape mobil yang mengalun lembut. Entah apa yang membuatku merasa begitu tenang, musiknya kah? Atau kehadiran Malven di dekatku?
Oh please, Vall... jangan berpikir terlalu jauh kalau kau tak ingin tersakiti lagi, ingatku dalam hati.
Memang rasanya kami menjadi semakin dekat semenjak dia terus menungguiku di Rumah Sakit. Apartemennya belum selesai dirombak, dan akhirnya dia menjadikan ruang rawat inapku sebagai tempatnya pulang selepas kerja ataupun tempatnya istirahat saat makan siang.
Pertama rasanya aneh, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di dekatku. Dalam 5 hari ini entah berapa jam sudah kami habiskan bersama, entah itu hanya sekedar makan atau mengobrol ringan saja. Dan entah kenapa aku juga mulai terbiasa melihat dia untuk yang pertama saat mataku terbuka dari lelap tidurku.
Malven... Malven... lelaki yang susah ditebak, kadang kala dia bersikap tak peduli, kata-katanya pun masih sering membuatku kesal. Tapi ada kalanya dia bersikap begitu lembut dan penuh perhatian, seperti saat ini. Dadaku berdebar cukup kencang saat kurasakan tangannya menyentuh pipiku, mungkin dia mengira kalau aku sudah tertidur. Tapi aku tak ingin mengelak, kubiarkan saja bahkan kunikmati sentuhannya di wajahku. Lalu setelahnya sepertinya aku benar-benar terlelap.
.
#
.
Sudah tiga hari aku tinggal di tempat Rena. Mas Reno tak mengijinkanku tinggal di apartemenku dulu sampai nanti aku kembali dari Adelaide. Alasan utamanya adalah karena dia ingin ada yang merawatku selama masa pemulihan ini, dan yang kedua karena dia takut Raditya akan menyakitiku lagi.
Kakak sepupuku itu hampir saja melaporkan tindakan Raditya padaku beberapa hari yang lalu ke kantor polisi, dia begitu berambisi untuk mengirim Radit ke dalam penjara. Tapi aku berusaha meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Kubilang kalau semuanya telah diselesaikan oleh Malven dengan caranya. Berharap kalau Malven akan mau mendukungku ternyata sia-sia, pria itu justru ingin membantu Mas Reno menjadikan peristiwa di Rumah Sakit itu sebagai kasus hukum. Tapi dengan bujuk rayuku dan Rena akhirnya dua pria itu menyerah dengan sangat tidak rela.
Ah, Malven... kemana dia dua hari ini? Aku sama sekali tak melihatnya. Juga tak ada berita darinya entah itu berupa pesan atau telpon singkat seperti biasanya. Kumainkan telpon genggam di tanganku sembari membaca ulang pesan-pesan darinya yang sering datang sejak seminggu yang lalu. Aku tersenyum sendiri melihat untaian huruf-huruf yang diketiknya, mulai dari menanyakan kabar hingga gurauan yang seringkali justru membuatku kesal.
"Sibuk, Vall?"
Aku terkejut mendengar sapa Rena yang sudah berdiri di pintu kamarku bersama Reva dalam gendongannya.
"Hai," kataku sambil tersenyum lebar, kuletakkan handphone di sampingku. Segera kuulurkan kedua tangan meminta Reva dari gendongan Rena yang segera beralih ke dalam pelukanku. "Halo, cantik. Kok kamu belum tidur? Ini sudah malam loh," kataku pada bayi yang baru berusia 1 bulan itu. Matanya yang bulat begitu indah, pipinya yang kemerahan juga sangat menggemaskan. Kusandarkan punggungku pada sandaran tempat tidur agar Reva merasa nyaman.
"Ada kabar dari paman?"
Pertanyaan Rena mengejutkanku, kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang hal itu? Kuikuti arah pandangan Rena ke telpon genggam yang saat ini tergeletak di depanku, yang sialnya layarnya belum sempat kututup, sehingga percakapanku dan Malven terlihat di sana, apalagi lampu layarnya juga belum mati, 'Uuurgh... bodoh', rutukku dalam hati. Aku memilih diam, karena mau menjawab dan mengelak pun percuma, aku benar-benar tak pandai berbohong.
Rena tertawa pelan sebelum duduk di depanku, digesernya telpon genggamku menjauh. "Kamu semakin dekat dengan Paman, cin... apa kamu nyaman sama dia?" selidik sahabatku itu.
Aku berdecak, "Apa sih, Na? Ga sampe mikir ke situ ah, kamu mikirnya kejauhan," bantahku tanpa melepaskan mataku dari wajah Reva, bukan hanya karena aku sangat tertarik dengan kecantikan keponakanku itu, tapi lebih untuk menghindari tatapan tajam Ibunya.
Rena tertawa pelan, "Emangnya aku bilang apa? Kan aku cuma tanya apa kamu merasa nyaman sama Paman? Kamu tuh yang mikirnya kejauhan," ledeknya dan aku merasa wajahku memerah saat itu juga, ada apa denganku?
"Perempuan... kalau sudah ketemu pasti ribut."
Suara berat dari arah pintu menarik perhatian kami, "Hai, Uncle," sapa Rena, dan aku cuma bisa melemparkan senyum saja pada Malven. Ada rasa lega melihat dia di sini. Lega?
Pria itu melangkah masuk dan melepas dua kancing teratas kemejanya sebelum akhirnya membanting tubuhnya ke tempat tidurku. Sikapnya yang terkadang menebarkan aura intim itu mungkin yang membuat Rena seringkali menanyakan tentang aku dan Malven.
Pria itu menciumi kaki Reva yang menjuntai di pelukanku, "Hai, Princess... kenapa kau belum tidur?" tanyanya.
Ada rasa aneh menggelenyar di perutku saat rambutnya menempel di tanganku yang memeluk Reva. Tebal tapi tak terlalu kaku. Bagaimana rasanya kalau jari-jariku masuk ke dalamnya? 'God... aku mikir apa sih?' rutukku dalam hati.
"Sibuk banget, Uncle?" tanya Rena pada Malven yangmemang wajahnya tampak lelah dan kusut.
Malven menelentangkan tubuhnya dan menguap sebentar, "Lumayan, tapi udah selesai semua," jawabnya.
"Pantesan dua hari ga keliatan, kirain nyangkut ke cewek mana gitu," goda Rena yang entah kenapa membuatku langsung pasang telinga.
Malven hanya terkekeh, "Ga usah mancing, Na," jawabnya lagi. "Ah... kamu siap berangkat lusa?" tanya Malven padaku.
"Siap ga siap ya harus siap, kan semuanya sudah kamu urus," jawabku.
"Baguslah," kata Malven sambil memejamkan mata.
"Kok malah merem di sini? Sana bangun, pindah ke kamar tamu yang satunya," kataku sambil mengguncang bahunya.
"Makan malam dulu yuk, Paman? Ntar lagi mas Reno datang," kata Rena ikut mengguncang kaki pamannya.
"Aku sudah kenyang tadi makan di kantor, nanti kalau kalian sudah selesai makan malam bangunkan aku," katanya tanpa membuka mata. Aku hanya menghela nafas panjang melihat dia sudah tertidur pulas secepat ini, lalu kemudian Rena mengajakku keluar saat terdengar suara mas Reno di ruang depan.
.
"Ven... bangun, pindah gih," kataku sambil menggoncang pelan tubuhnya, tapi pria itu tak juga membuka mata, malah tidurnya seakan tak terganggu. "Ven... bangun dong, ga enak sama Mas Reno kalau kamu tidur di sini," kataku lagi. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, pria itu bahkan tak bereaksi sama sekali.
Aku mendesah kesal, karena selain merasa lelah matapun mulai terasa berat. Kupikir sebaiknya aku saja yang mengalah dan tidur di kamar tamu kosong di samping kamarku ini. Perlahan kuambil bantal beruang yang tertindih lengan Malven, bantal kesayanganku sejak dulu, lalu beringsut menjauh.
GRABB!!!
"Kyaaa!!!" aku menjerit tertahan saat sebuah tangan menarik lenganku hingga aku terjerembab kembali ke kasur. Mataku terbelalak saat tubuh tegap Malven telah berada di atasku dengan kedua lengan yang tertahan di kedua sisi tubuhku. Jarak wajah kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang beraroma mint di wajahku. Tubuhku terasa kaku saat sepasang coklat gelapnya menatap lurus ke dalam mataku. Jantungku berdebar tak beraturan, nafaspun terasa begitu sesak, dan ada rasa panas yang perlahan menjalar dari wajah ke perutku. Ada rasa takut dan tak nyaman, tapi berbeda dengan takut yang kurasakan saat Raditya menyerangku beberapa waktu yang lalu. Tak ada perasaan jijik atau marah. Ini lebih pada rasa takut pada diriku sendiri, takut tak mampu mengendalikan diri.
Bibir kaku Malven perlahan melengkung membentuk senyuman tipis, "Jangan takut, aku tak akan menyerangmu," bisiknya dengan suaranya yang serak karena baru saja terbangun.
Aku tak menjawab, posisi kami yang belum berubah membuatku harus susah payah menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang kering.
"Kecuali kau mengijinkanku melakukan itu... atau kau sendiri yang memintanya padaku," bisik Malven lagi di telingaku dan membuatku bergidik karena hembusan nafasnya di sana.
Segera saja mataku mengerjap cepat saat aku sudah bisa mencerna kata-katanya, "W-what?" tanyaku tak yakin.
Tubuh kokoh itu segera menjauh, dan wajah pemiliknya menyeringai jahil ke arahku.
"Bermimpi saja kau, Mr. Pervert!!!" teriakku sambil melemparinya bantal dan guling sebelum dia keluar dan menutup pintu kamarku sambil terbahak-bahak. Kurasakan wajahku begitu panas dan aku yakin saat ini pasti sudah sangat memerah. Kubenamkan wajahku ke atas bantal, "Apa yang kau rencanakan untuk liburan kita nanti, Malven brengsek?!!" geramku dengan kedua tangan kuletakkan di dada berharap debaran gila ini segera mereda.
Pertama rasanya aneh, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di dekatku. Dalam 5 hari ini entah berapa jam sudah kami habiskan bersama, entah itu hanya sekedar makan atau mengobrol ringan saja. Dan entah kenapa aku juga mulai terbiasa melihat dia untuk yang pertama saat mataku terbuka dari lelap tidurku.
Malven... Malven... lelaki yang susah ditebak, kadang kala dia bersikap tak peduli, kata-katanya pun masih sering membuatku kesal. Tapi ada kalanya dia bersikap begitu lembut dan penuh perhatian, seperti saat ini. Dadaku berdebar cukup kencang saat kurasakan tangannya menyentuh pipiku, mungkin dia mengira kalau aku sudah tertidur. Tapi aku tak ingin mengelak, kubiarkan saja bahkan kunikmati sentuhannya di wajahku. Lalu setelahnya sepertinya aku benar-benar terlelap.
.
#
.
Sudah tiga hari aku tinggal di tempat Rena. Mas Reno tak mengijinkanku tinggal di apartemenku dulu sampai nanti aku kembali dari Adelaide. Alasan utamanya adalah karena dia ingin ada yang merawatku selama masa pemulihan ini, dan yang kedua karena dia takut Raditya akan menyakitiku lagi.
Kakak sepupuku itu hampir saja melaporkan tindakan Raditya padaku beberapa hari yang lalu ke kantor polisi, dia begitu berambisi untuk mengirim Radit ke dalam penjara. Tapi aku berusaha meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Kubilang kalau semuanya telah diselesaikan oleh Malven dengan caranya. Berharap kalau Malven akan mau mendukungku ternyata sia-sia, pria itu justru ingin membantu Mas Reno menjadikan peristiwa di Rumah Sakit itu sebagai kasus hukum. Tapi dengan bujuk rayuku dan Rena akhirnya dua pria itu menyerah dengan sangat tidak rela.
Ah, Malven... kemana dia dua hari ini? Aku sama sekali tak melihatnya. Juga tak ada berita darinya entah itu berupa pesan atau telpon singkat seperti biasanya. Kumainkan telpon genggam di tanganku sembari membaca ulang pesan-pesan darinya yang sering datang sejak seminggu yang lalu. Aku tersenyum sendiri melihat untaian huruf-huruf yang diketiknya, mulai dari menanyakan kabar hingga gurauan yang seringkali justru membuatku kesal.
"Sibuk, Vall?"
Aku terkejut mendengar sapa Rena yang sudah berdiri di pintu kamarku bersama Reva dalam gendongannya.
"Hai," kataku sambil tersenyum lebar, kuletakkan handphone di sampingku. Segera kuulurkan kedua tangan meminta Reva dari gendongan Rena yang segera beralih ke dalam pelukanku. "Halo, cantik. Kok kamu belum tidur? Ini sudah malam loh," kataku pada bayi yang baru berusia 1 bulan itu. Matanya yang bulat begitu indah, pipinya yang kemerahan juga sangat menggemaskan. Kusandarkan punggungku pada sandaran tempat tidur agar Reva merasa nyaman.
"Ada kabar dari paman?"
Pertanyaan Rena mengejutkanku, kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang hal itu? Kuikuti arah pandangan Rena ke telpon genggam yang saat ini tergeletak di depanku, yang sialnya layarnya belum sempat kututup, sehingga percakapanku dan Malven terlihat di sana, apalagi lampu layarnya juga belum mati, 'Uuurgh... bodoh', rutukku dalam hati. Aku memilih diam, karena mau menjawab dan mengelak pun percuma, aku benar-benar tak pandai berbohong.
Rena tertawa pelan sebelum duduk di depanku, digesernya telpon genggamku menjauh. "Kamu semakin dekat dengan Paman, cin... apa kamu nyaman sama dia?" selidik sahabatku itu.
Aku berdecak, "Apa sih, Na? Ga sampe mikir ke situ ah, kamu mikirnya kejauhan," bantahku tanpa melepaskan mataku dari wajah Reva, bukan hanya karena aku sangat tertarik dengan kecantikan keponakanku itu, tapi lebih untuk menghindari tatapan tajam Ibunya.
Rena tertawa pelan, "Emangnya aku bilang apa? Kan aku cuma tanya apa kamu merasa nyaman sama Paman? Kamu tuh yang mikirnya kejauhan," ledeknya dan aku merasa wajahku memerah saat itu juga, ada apa denganku?
"Perempuan... kalau sudah ketemu pasti ribut."
Suara berat dari arah pintu menarik perhatian kami, "Hai, Uncle," sapa Rena, dan aku cuma bisa melemparkan senyum saja pada Malven. Ada rasa lega melihat dia di sini. Lega?
Pria itu melangkah masuk dan melepas dua kancing teratas kemejanya sebelum akhirnya membanting tubuhnya ke tempat tidurku. Sikapnya yang terkadang menebarkan aura intim itu mungkin yang membuat Rena seringkali menanyakan tentang aku dan Malven.
Pria itu menciumi kaki Reva yang menjuntai di pelukanku, "Hai, Princess... kenapa kau belum tidur?" tanyanya.
Ada rasa aneh menggelenyar di perutku saat rambutnya menempel di tanganku yang memeluk Reva. Tebal tapi tak terlalu kaku. Bagaimana rasanya kalau jari-jariku masuk ke dalamnya? 'God... aku mikir apa sih?' rutukku dalam hati.
"Sibuk banget, Uncle?" tanya Rena pada Malven yangmemang wajahnya tampak lelah dan kusut.
Malven menelentangkan tubuhnya dan menguap sebentar, "Lumayan, tapi udah selesai semua," jawabnya.
"Pantesan dua hari ga keliatan, kirain nyangkut ke cewek mana gitu," goda Rena yang entah kenapa membuatku langsung pasang telinga.
Malven hanya terkekeh, "Ga usah mancing, Na," jawabnya lagi. "Ah... kamu siap berangkat lusa?" tanya Malven padaku.
"Siap ga siap ya harus siap, kan semuanya sudah kamu urus," jawabku.
"Baguslah," kata Malven sambil memejamkan mata.
"Kok malah merem di sini? Sana bangun, pindah ke kamar tamu yang satunya," kataku sambil mengguncang bahunya.
"Makan malam dulu yuk, Paman? Ntar lagi mas Reno datang," kata Rena ikut mengguncang kaki pamannya.
"Aku sudah kenyang tadi makan di kantor, nanti kalau kalian sudah selesai makan malam bangunkan aku," katanya tanpa membuka mata. Aku hanya menghela nafas panjang melihat dia sudah tertidur pulas secepat ini, lalu kemudian Rena mengajakku keluar saat terdengar suara mas Reno di ruang depan.
.
"Ven... bangun, pindah gih," kataku sambil menggoncang pelan tubuhnya, tapi pria itu tak juga membuka mata, malah tidurnya seakan tak terganggu. "Ven... bangun dong, ga enak sama Mas Reno kalau kamu tidur di sini," kataku lagi. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, pria itu bahkan tak bereaksi sama sekali.
Aku mendesah kesal, karena selain merasa lelah matapun mulai terasa berat. Kupikir sebaiknya aku saja yang mengalah dan tidur di kamar tamu kosong di samping kamarku ini. Perlahan kuambil bantal beruang yang tertindih lengan Malven, bantal kesayanganku sejak dulu, lalu beringsut menjauh.
GRABB!!!
"Kyaaa!!!" aku menjerit tertahan saat sebuah tangan menarik lenganku hingga aku terjerembab kembali ke kasur. Mataku terbelalak saat tubuh tegap Malven telah berada di atasku dengan kedua lengan yang tertahan di kedua sisi tubuhku. Jarak wajah kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang beraroma mint di wajahku. Tubuhku terasa kaku saat sepasang coklat gelapnya menatap lurus ke dalam mataku. Jantungku berdebar tak beraturan, nafaspun terasa begitu sesak, dan ada rasa panas yang perlahan menjalar dari wajah ke perutku. Ada rasa takut dan tak nyaman, tapi berbeda dengan takut yang kurasakan saat Raditya menyerangku beberapa waktu yang lalu. Tak ada perasaan jijik atau marah. Ini lebih pada rasa takut pada diriku sendiri, takut tak mampu mengendalikan diri.
Bibir kaku Malven perlahan melengkung membentuk senyuman tipis, "Jangan takut, aku tak akan menyerangmu," bisiknya dengan suaranya yang serak karena baru saja terbangun.
Aku tak menjawab, posisi kami yang belum berubah membuatku harus susah payah menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang kering.
"Kecuali kau mengijinkanku melakukan itu... atau kau sendiri yang memintanya padaku," bisik Malven lagi di telingaku dan membuatku bergidik karena hembusan nafasnya di sana.
Segera saja mataku mengerjap cepat saat aku sudah bisa mencerna kata-katanya, "W-what?" tanyaku tak yakin.
Tubuh kokoh itu segera menjauh, dan wajah pemiliknya menyeringai jahil ke arahku.
"Bermimpi saja kau, Mr. Pervert!!!" teriakku sambil melemparinya bantal dan guling sebelum dia keluar dan menutup pintu kamarku sambil terbahak-bahak. Kurasakan wajahku begitu panas dan aku yakin saat ini pasti sudah sangat memerah. Kubenamkan wajahku ke atas bantal, "Apa yang kau rencanakan untuk liburan kita nanti, Malven brengsek?!!" geramku dengan kedua tangan kuletakkan di dada berharap debaran gila ini segera mereda.
BERSAMBUNG

Walaupun biasanya chara fav itu si pria ber jas putih, tapi kali ini bolehlah ganti ke malven
BalasHapusJadi kepengen nonjok si radit deh
Wkwkwkw
Wkwkwkwk... gegara aku lagi galau ama yg berjas putih, mbak... makanya di sini dia aku bully.
Hapusmakasih loh mbak jejak manisnya #kecup2
Aw Aw Aw,sukaaaaa
BalasHapusaw awa aw... makasih mbak :*
Hapus