"Morning..."
Aku menoleh ke sumber suara, "Morning," jawabku sambil tersenyum tipis, lalu aku segera kembali fokus pada masakanku.
"Kamu bikin apa?" tanya Malven setelah berdiri di sampingku.
"Nasi goreng sama telur mata sapi. Mau?" tawarku padanya.
Malven tertawa pelan, "Apapun yang kamu masak aku mau," katanya sambil mengambil segelas air putih dari dalam kulkas.
Aku tak menjawab, bahkan menoleh saja tidak. Kupaksakan diri untuk fokus pada masakanku, hingga akhirnya aku tersentak saat kedua lenganku diusap lembut oleh Malven dari belakang.
"Aku harap aku nggak merusak suasana hati kamu untuk melanjutkan liburan ini," katanya lembut.
Aku terdiam sebentar lalu menggeleng pelan, "Aku yang seharusnya minta maaf, aku..."
"Sssh... bukan salahmu," potong pria itu sambil menyandarkan keningnya di puncak kepalaku. "Aku mandi dulu ya? Setelah itu kita sarapan terus aku akan ajak kamu jalan-jalan ke Seppetsfield Winery, oke?"
Aku hanya mengangguk tanpa menatapnya dan tersenyum tipis saat kurasakan dia meninggalkan kecupan di rambutku.
Setelah yakin kalau Malven sudah kembali ke kamarnya akupun mendongakkan kepalaku dan menarik nafas panjang. Kupejamkan mataku sembari mengingat kejadian tadi malam.
Saat kami sudah kembali dari tour balon udara kami tak langsung pulang. Dia mengajakku untuk membeli fast food dan memakannya di pinggir jalan, di tempat kami memandang bintang dua hari yang lalu. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, seperti biasa. Sampai akhirnya semua berantakan, saat Malven mulai memelukku dan hendak mencium bibirku aku langsung berteriak dan menjauhkan diri darinya.
Dia tak memaksa, sama sekali tak memaksa, hanya saja entah kenapa perasaan takut yang begitu besar langsung menyerangku. Aku sendiri tak tahu sebenarnya apa yang aku takuti, takut pada dia kah? Atau pada diriku sendiri?
Saat dia hampir menciumku bayangan Raditya langsung berkelebat di mataku. Seumur hidupku hanya Radit yang pernah mencium bibirku, dan bodohnya hal itu menjadi seperti trauma tersendiri untukku.
Aku tidak membenci Malven, bahkan sempat kukira kalau aku mungkin akan bisa menyukainya, bahkan mungkin mencintainya. Tapi bayangan akan lukaku di masa lalu menghantuiku, aku sungguh takut terluka lagi.
Kenapa? Kenapa aku tak bisa membiarkan Malven melakukan itu? Bukankah aku bahagia saat dia memelukku? Aku sangat bahagia saat dia mencium keningku di atas balon udara. Lalu kenapa?
Sebutir airmata jatuh di pipiku dan membuatku tersentak, kenapa aku harus menangis? Padahal dia tak menyakitiku. Lalu disusul oleh airmata berikutnya dan berikutnya. Oh kumohon hentikan, tak ada yang melukai hatiku di sini, jangan menangis, Vall!!! Jeritku dalam hati. Tapi aku kalah, kalah oleh perang di dalam hatiku sendiri.
Aku terduduk di lantai sambil terus menangis, rasanya dadaku begitu sesak menahan isak, kepalaku begitu berat oleh beribu pertanyaan yang belum kutahu jawabnya.
"Vall.. kamu dimana?!"
Aku mendengar seruan Malven tapi tak mampu menjawab. Mungkin dia tak melihatku yang kini telah terduduk di lantai, di balik meja dapur. Sebisa mungkin kutahan suara tangisku agar dia tak tahu, tapi sepertinya harapan tak berpihak padaku.
Kudengar langkah kakinya yang kian mendekat, "Vall...? Vall... ya Tuhan, Valleria... kamu kenapa?" tanyanya penuh nada cemas sambil ikut berlutut di depanku.
Aku terus menunduk dan hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang sakit? Mana yang sakit? Kenapa kamu nangis?" Malven memborong semua pertanyaan sambil menarik lenganku lembut supaya aku berdiri dan mengangkat wajahku. Tapi aku bergeming.
"Valleria... jangan menangis, kumohon," pintanya lirih, "Maafkan aku, Vall... Apa aku menyakitimu? Apa aku membuatmu terluka? Maafkan aku."
Tangisku semakin keras, entah kenapa permintaan maaf Malven justru membuatku sedih, membuatku sakit. Kali ini kubiarkan dia memelukku dengan erat, mengayunku lembut dalam dekapannya. Kurasakan dia mulai meraih punggung dan belakang kedua lututku, lalu mengangkat tubuhku dan membawaku ke ruang tengah. Dia mendudukkanku di atas sofa lalu kembali memelukku dengan erat. Dia sama sekali tak berkata apa-apa, dia membiarkanku menangis dan menumpahkan semua beban di dadaku. Tangannya terus mengusap punggung dan rambutku hingga aku mulai tenang dan perlahan menghentikan tangisku.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut setelah keheningan yang cukup lama di antara kami.
Aku menggeleng di dadanya, "Nggak tau," jawabku jujur dengan suara serak akibat menangis.
Malven menopangkan dagunya di puncak kepalaku sambil terus mengusap rambut dan punggungku, "Apa aku menyakiti kamu?" tanyanya lagi.
Aku kembali menggeleng, "Nggak, Ven... aku cuma ga tahu kenapa aku jadi gini," jawabku.
Malven menyampirkan rambut yang menutupi pipiku ke belakang telinga dan mengusapnya lembut, "Kamu benci aku?" kali ini kurasakan ada nada pedih pada suaranya.
Kujauhkan tubuhku dari dadanya lalu mendongak untuk melihat wajahnya, bisa kulihat dia tampak begitu khawatir. Kucoba tersenyum walau aku sendiri tak yakin pada bentuk senyumku, "Aku sama sekali ga benci sama kamu," jawabku dan memejamkan mataku sebentar saat jari-jari pria itu mengusap pipiku yang basah. "Mungkin yang kubenci adalah diriku sendiri, karena telah membiarkan... Raditya... menghancurkanku sedalam ini, sehingga... rasa takut itu terus ada, Ven," jelasku terbata.
Bisa kulihat raut wajah pria itu menegang saat aku menyebut nama Raditya. Tatapan matanya begitu tajam menembus mataku.
"Aku bodoh..." lanjutku sambil menundukkan kepala. "Terlalu bodoh membiarkan dia mempengaruhi hidupku dengan begini besarnya," lanjutku. "Berkali-kali aku berusaha untuk mengenyahkan bayangannya dari kepalaku, tapi rasa sakit itu masih terasa. Padahal aku tak lagi mencintainya, tak lagi menginginkannya."
Malven sama sekali tak menyela, dia membiarkanku mengeluarkan apa yang ingin aku utarakan.
"Kamu tahu sesakit apa rasanya waktu dia bilang kalau... ada gadis lain yang sedang... mengandung anaknya? Padahal saat itu dia masih bersamaku, bahkan beberapa kali mengatakan kalau dia... akan segera melamarku. Lalu tiba-tiba dia datang dan... menghancurkan semua mimpi yang telah kubangun selama 5 tahun. Dia datang untuk merampas semua harapan yang telah tertanam di kepalaku. Padahal dia sendiri yang menjanjikannya, dia sendiri yang menawarkan akan memberikan semua kebahagiaan di muka bumi ini untukku, tapi... dia juga yang menghancurkannya," kataku dengan hati perih.
"Dan setelah dua tahun aku coba untuk bangkit dan menyembuhkan lukaku... dia datang lagi dengan segala omong kosongnya. Dia bilang dia masih mencintaiku, selalu mencintaiku, apa menurutmu segampang itu cinta datang dan pergi, Ven?" tanyaku sambil menatapnya. Lalu aku segera menyesal melihat sedikit gurat luka di matanya, aku sadar kalau diapun pernah meninggalkan cintanya. "Maaf..." kataku.
Pria itu tersenyum miris lalu menggeleng, tangannya masih memainkan ikal rambutku yang tergerai di samping wajahku, "Nggak ada yang gampang kalau sudah menyangkut cinta, Vall... tapi semuanya akan menjadi rumit jika kita sendiri yang membuatnya rumit," katanya.
Aku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya.
"Bukan maksudku menggampangkan semua masalah, tapi kalau kita tak mengakhiri maka kita tak akan pernah bisa memulai yang baru lagi."
Kali ini aku mulai mengerti maksudnya, bukankah hidup harus terus berjalan? "Maksudmu aku harus berdamai dengan masa laluku? Memaafkan semua yang telah terjadi? Susah, Ven," kataku sambil menunduk.
Pria itu mengangkat daguku dengan tangannya, matanya lurus menatap mataku, "Tapi bukan berarti kamu nggak bisa, Vall. Kamu hanya tinggal belajar dan belajar," dukungnya.
Aku berpikir sejenak, menyusun rencana harus memulai dari mana. Lalu kuputuskan untuk memulai dari diriku sendiri dulu. Aku harus mulai belajar membuka pintu pagar yang selama ini telah kukunci rapat.
"Kalau kamu ijinin... aku bisa bantu kamu," tawar Malven sambil tersenyum, dan senyumnya menular padaku.
Tanpa rasa malu kupeluk tubuh tegap itu dan membenamkan wajahku di dadanya, "Makasih ya, Ven... dan maafkan aku untuk sikapku semalam," kataku.
Malven tertawa pelan, "Lupakan, kita mulai pelan-pelan aja, ya?" katanya. "Dan kuberitahu padamu, nona... aku tak akan berhenti menggodamu sampai kamu tak bisa lagi lari dariku," ancamnya dengan nada suara yang jahil.
Aku tercekat, dadaku berdebar lembut oleh ancaman manisnya. Tapi aku segera sadar dan berpikir kalau dia hanya bercanda saja seperti biasanya. Lalu aku menjauhkan tubuhku dan memukul lengannya dengan kesal, "Nggak usah mulai deh," kataku ketus.
Malven terkekeh sambil mengacak rambutku, "Errr... Vall, sepertinya ada bau gosong."
Aku segera terlonjak dan melompat dari sofa, "NASI GORENG KUUUU!!!" teriakku sambil berlari ke arah dapur, dan benar saja... nasi gorengnya menghitam.
Malven yang sudah berdiri di belakangku tertawa terbahak-bahak.
Aku menatapnya dengan wajah sebal, "Ini semua gara-gara kamu nih," tuduhku seenaknya sambil mematikan kompor.
"Ya.. ya.. salahku. Aku sangat paham akan slogan kalau wanita itu tak pernah salah," katanya di antara derai tawanya.
•
Seppeltsfield Road, sebuah tempat dimana terdapat 19 kilang anggur dan salah satunya adalah kilang anggur yang telah melegenda, Seppeltsfield Winery.
Kilang-kilang anggur itu seringkali dijadikan tempat untuk mengadakan pesta pernikahan atau jamuan makan malam, tentu saja dengan anggur sebagai menu utamanya.
Sepanjang jalan didominasi oleh toko-toko yang menjual anggur, juga makanan seperti keju dan roti buatan rumahan. Mereka juga berlomba-lomba menjual hasil bumi lokal seperti Chutney dan Bratwurst. Chutney adalah saus pedas yang terbuat dari buah-buahan, sementara Bratwurst adalah sosis khas Jerman.
"Kejunya lumer banget!!!" seruku senang saat lelehan berwarna kuning itu meluncur dari roti hangat yang baru saja kupotong.
Malven terkekeh, "Kenapa kamu bisa suka banget sih sama keju?" tanyanya heran, karena dia selalu hapal disetiap pilihan makananku selalu terselip satu makanan yang berbahan dasar susu ini.
Aku hanya mengangkat bahu, karena mulutku sibuk mengunyah roti yang rasanya tidak terlalu manis, bahkan cenderung gurih oleh rasa bawang. Aku memang tak begitu suka manis.
Malven menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku makan dengan lahap, "Selapar itukah?"
Aku mengangguk sembari menelan rotiku, "Salah sendiri kamu ngerusak menu sarapan yang kubuat tadi. Lagian aku juga butuh tenaga ekstra setelah puas menangis," jawabku acuh.
Lagi-lagi pria yang duduk di sampingku ini tertawa. Menyampirkan anak rambutku yang tergerai ke belakang telinga sepertinya menjadi hobi barunya sekarang, "Hari ini setelah dari sini kita berdiam di rumah aja ya? Sebab besok aku mau ajak kamu ke Port Augusta, 5 jam perjalanan dari sini," katanya.
"Port Augusta?" tanyaku sambil menatapnya.
Malven mengangguk, "Aku ajak kamu ke pegunungan batu Flinder Ranges," katanya lagi.
Dan jadilah seharian ini kami diam di rumah saja. Menghabiskan waktu dengan membaca buku, bermain catur, berbincang ringan, bercanda, memasak, makan, dan banyak lagi. Sebisa mungkin Malven membuatku senang, membantuku melupakan sebab tangisku pagi tadi.
•
●
•
"Kamu ga ngantuk?" tanyaku saat di mobil. Kami sudah ada di jalan sejak matahari masih tertidur di peraduannya.
Malven menggeleng, "Nggak lah, kalau ngantuk banget nanti kamu yang gantian nyetir, ya?" katanya dan kujawab dengan anggukan.
Empat jam perjalanan akhirnya matahari mulai muncul, menerangi jalan aspal panjang di depan kami, begitu indah.
"Kamu ga ngantuk?" tanyaku saat di mobil. Kami sudah ada di jalan sejak matahari masih tertidur di peraduannya.
Malven menggeleng, "Nggak lah, kalau ngantuk banget nanti kamu yang gantian nyetir, ya?" katanya dan kujawab dengan anggukan.
Empat jam perjalanan akhirnya matahari mulai muncul, menerangi jalan aspal panjang di depan kami, begitu indah.
"Wow..." desahku. Kubuka lebar jendela Grand Cherokee yang kami tumpangi, menghirup sebanyak-banyaknya udara yang masih segar dan bersih. Malven melakukan hal yang sama lalu mematikan pendingin udara di dalam mobil. Musik country memecah keheningan di antara kami, aku melihat pada pria yang sedang asik mengemudi itu dan tertawa saat matanya mengedip sebelah padaku. Segera kuikat rambut ikal panjangku yang sebelumnya tergerai, aku tak ingin angin yang berhembus kencang ini semakin mengacaukannya. Dan jantungku berdesir saat tangan kanan Malven memijat tengkukku dengan perlahan lalu mengusap kulitnya yang telanjang dengan lembut.
Sejak kejadian pagi kemarin perasaanku menjadi lebih baik, hatiku serasa bebas dan lepas, aku merasa lebih hidup dan kuat. Berkat dia kah? Tanyaku dalam hati sambil melirik ke arah Malven.
•
Sekitar satu jam kurang akhirnya kami sampai di Findler Ranges National Park, South Australia. Dari kejauhan aku bisa melihat Wilpena Pound yang terkenal itu. Wilpena Pound adalah sebuah dataran tinggi yang berbentuk seperti amfiteater alami pegunungan, letaknya 429 kilometer utara Adelaide.
"Capek?" tanya Malven setelah kami turun dari mobil.
Aku menggeleng, "Tadinya iya, lama banget di jalan. Tapi capeknya kebayar lunas ngeliat semua ini. Keindahan yang unik," jawabku sambil melihat ke sekitar.
Flinderi Ranges ini nyaris seperti gurun, sejauh mata memandang terlihat hamparan tanah dan bukit batu berwarna merah. Beberapa kawasan ditumbuhi juga pohon-pohon dan rumputan hijau.
Malven tersenyum melihatku.
Aku menatap wajahnya yang tampan itu, ada sedikit gurat lelah di sana, "Masih terlalu pagi, kamu bisa tidur dulu sebentar, nanti kalau kamu sudah bangun baru kita keliling," kataku.
Pria itu mendekatiku dan menumpukan kedua lengannya di bahuku, "Kamu manis sekali kalau perhatian gini," godanya sambil mendekatkan wajahnya.
Karena jengah kupalingkan wajahku ke samping, "Apa sih? Aku cuma ga mau kamu pingsan, aku ga kuat ngangkatnya," jawabku.
Malven terkekeh dan mengacak lembut rambut ikalku, "Setengah jam aja, setelah itu bangunkan aku ya?"
Aku mengangguk lalu dia pun masuk ke dalam mobil di kursi tengah dan manyamankan dirinya di sana, "Jangan kemana-mana, aku ga mau kamu hilang," ingatnya sebelum memejam.
•
"Siap menjelajah langit lagi?" tanya Malven setelah pria itu bangun dan kembali memacu laju mobilnya ke sebuah lapangan yang luas.
"Terbang lagi?" tanyaku.
"Yup... aku tak berharap jalan kaki untuk menjelajah kawasan ini. Walaupun banyak yang melakukannya tapi membutuhkan waktu yang tak sebentar. Kamu keberatan?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng, "Nggak juga, aku ikut kamu aja," kataku sambil menikmati pemandangan sekitar.
Malven terkekeh, "Aku sangat suka jawabanmu," katanya sambil meraih tanganku dan mencium jari-jarinya.
Aku berdecak dan meninju pelan pipinya yang ditumbuhi jabang tipis, "Jangan besar kepala," desisku. Benar-benar pria ini tak ingin membiarkan jantungku beristirahat sebentar, ada saja sikapnya yang mebuatku melambung.
"Terbang lagi?" tanyaku.
"Yup... aku tak berharap jalan kaki untuk menjelajah kawasan ini. Walaupun banyak yang melakukannya tapi membutuhkan waktu yang tak sebentar. Kamu keberatan?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng, "Nggak juga, aku ikut kamu aja," kataku sambil menikmati pemandangan sekitar.
Malven terkekeh, "Aku sangat suka jawabanmu," katanya sambil meraih tanganku dan mencium jari-jarinya.
Aku berdecak dan meninju pelan pipinya yang ditumbuhi jabang tipis, "Jangan besar kepala," desisku. Benar-benar pria ini tak ingin membiarkan jantungku beristirahat sebentar, ada saja sikapnya yang mebuatku melambung.
•
Aku hanya bisa terdiam dan terpana melihat pemandangan yang kulihat dari balik kaca jendela pesawat kecil yang sedang kami tumpangi sekarang. Sejauh mata memandang kawasan yang tadi kulihat hanya berwarna merah bata menunjukkan sisi yang berbeda, begitu hijau. Kami terbang di atas kawah dan hutan yang sangat luas, menakjubkan.
Aku hanya bisa terdiam dan terpana melihat pemandangan yang kulihat dari balik kaca jendela pesawat kecil yang sedang kami tumpangi sekarang. Sejauh mata memandang kawasan yang tadi kulihat hanya berwarna merah bata menunjukkan sisi yang berbeda, begitu hijau. Kami terbang di atas kawah dan hutan yang sangat luas, menakjubkan.
"Suka dengan hadiah barumu?" tanya Malven yang duduk di sampingku. Kami berdua sama-sama melihat dari jendela sebelah kanan pesawat, lengan kanannya merangkul bahuku, sementara wajahnya begitu dekat di sampingku.
"Itu bentuk Wilpena Pound kalau dilihat dari atas," tunjuknya keluar jendela.
Aku mengangguk dalam keterpanaanku akan keindahan alam di bawah sana, "Aku ingat Collosseum di Roma," jawabku.
Malven balas mengangguk, "Iya, tapi ini versi alamnya dalam ukuran raksasa," sambung pria itu.
"Cantik," gumamku dalam desahan sambil memalingkan wajah untuk menatapnya yang juga tengah menatapku dalam.
"Seperti kamu," jawabnya sambil mencium lembut mataku yang otomatis terpejam. Jantungku berdegub begitu kencang kala pria itu tak juga melepaskan bibirnya dari wajahku. Dan aku hanya tersenyum dan menunduk kala pria itu melakukannya.
Malven mencium sisi kepalaku sebelum kami sama-sama kembali menikmati panorama di luar jendela pesawat.
•
"Aku ga bisa bawa kamu ke semua tempat di taman nasional ini, karena kita harus kembali malam ini juga. Besok pagi aku harus menandatangani surat kontrak kerjasama dengan nenek tua itu," kata Malven saat kami kembali mengendarai mobil untuk menuju tempat selanjutnya yang akan ditunjukkannya padaku.
Aku menatapnya, "Kalau besok kamu sibuk harusnya kita ga perlu pergi sejauh ini, Ven," kataku. "Nanti pulangnya biar aku aja yang setir mobilnya," kataku lagi.
Malven tertawa, "Kamu pikir aku serenta itu? Apa capeknya cuma nyetir aja?" jawabnya.
"Ya... tapi kan kamu juga butuh istirahat buat besok," kukuhku.
"I'm ok, honey... believe me," jawabnya lagi sambil mengerling ke arahku, dan aku akhirnya diam saja, aku tak mau ribut dengan orang yang keras kepala.
Seakan tahu kekesalanku Malven pun meraih tanganku dan menggenggamnya, "Lihat itu di depanmu," katanya.
Aku segera melihat ke arah yang dia katakan, "Wow... apa itu?" tanyaku melupakan rasa kesalku. Aku melihat seperti ada reruntuhan bangunan dari kejauhan.
"Kanyaka Ruins," jawabnya sambil terus menggenggam tanganku dan menatap lurus ke jalanan beraspal di depannya, "Aku akan ajak kamu mendekat ke sana dan melihat-lihat," lanjutnya.
Aku menatapnya, "Kalau besok kamu sibuk harusnya kita ga perlu pergi sejauh ini, Ven," kataku. "Nanti pulangnya biar aku aja yang setir mobilnya," kataku lagi.
Malven tertawa, "Kamu pikir aku serenta itu? Apa capeknya cuma nyetir aja?" jawabnya.
"Ya... tapi kan kamu juga butuh istirahat buat besok," kukuhku.
"I'm ok, honey... believe me," jawabnya lagi sambil mengerling ke arahku, dan aku akhirnya diam saja, aku tak mau ribut dengan orang yang keras kepala.
Seakan tahu kekesalanku Malven pun meraih tanganku dan menggenggamnya, "Lihat itu di depanmu," katanya.
Aku segera melihat ke arah yang dia katakan, "Wow... apa itu?" tanyaku melupakan rasa kesalku. Aku melihat seperti ada reruntuhan bangunan dari kejauhan.
"Kanyaka Ruins," jawabnya sambil terus menggenggam tanganku dan menatap lurus ke jalanan beraspal di depannya, "Aku akan ajak kamu mendekat ke sana dan melihat-lihat," lanjutnya.
Setelah kami berada di dekat objek yang ditunjukkan Malven tadi terlihat semakin jelas lah reruntuhan sebuah bangunan luas, atau lebih mirip pedesaan pada jaman dulu. Malven menghentikan mobilnya tak jauh dari lokasi dan mengajakku turun.
"Ini reruntuhan Kanyaka," jelasnya.
"Kanyaka?" tanyaku.
Malven mengangguk sambil berjalan menggandeng tanganku, menautkan jari-jari kami. Tak ada wisatawan di sana, ah... ada hanya beberapa saja, mungkin karena sudah menjelang sore dan cuaca cukup panas.
Kami mulai berjalan memasuki situs tua itu, "Konon katanya dulu tempat ini adalah desa dengan peternakan domba yang sangat besar dan sukses. Dibangun sekitaran tahun 1852," Malven mulai menjelaskan saat kami tiba di sebuah padang yang cukup luas. "Nama Kanyaka sendiri sepertinya diambil dari bahasa suku Aborigin yang artinya tempat batu," lanjutnya tanpa melepaskan genggamannya pada tanganku.
"Kalau dilihat dari tahun berdirinya sepertinya desa ini cukup banyak juga ya penduduknya?" tanyaku sambil mengamati sekeliling kami.
"Kurang lebih 70 kepala keluarga," jawab pria itu.
Setelahnya kami berkeliling dari satu puing ke puing yang lain, tempat yang begitu kuno namun memiliki kesan yang kuat. "Aku ga bisa bayangin gimana panasnya dulu di sini, tempat yang begitu gersang. Padahal kan dulu pasti belum ada AC ya, Ven? Jangankan AC, listrik aja kita ga tahu udah ada atau belum," kataku sambil membayangkan dan menyentuh dinding-dinding batu reruntuhan yang kasar itu.
Malven hanya terkekeh sambil terus mengajakku jalan perlahan-lahan.
"Tapi aku seperti bisa lihat gimana kehidupan mereka dulu saat malam, ga berisik dan mengandalkan angin sebagai penyejuk. Belum lagi lampu-lampu minyak yang digantung sebagai penerang, pasti romantis banget," ocehku. "Berkendara kereta kuda dan berlarian di padang rumput, huwaaaa... kamu ingat film Little house on the prairie, ga? Film yang menceritakan tentang sebuah keluarga petani yang hidup di bukit sebuah desa," ceritaku penuh semangat.
Dan aku terkesiap saat Malven menarik lenganku dan menyandarkan tubuhku di dinding batu sebuah puing rumah, satu lengannya disandarkan di dinding dan lengan lainnya memeluk pinggangku, menempelkan tubuh kami hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya, "Ven..." bisikku tercekat, dadaku bergemuruh saat wajahnya semakin mendekat.
"Kamu tahu apa yang akan selalu aku ingat mulai saat ini?" tanyanya dengan suara bergetar, tatapan matanya yang tajam seperti menelanjangiku, "Senyum dan tawa bahagiamu, Vall... juga mata kamu yang berbinar begitu indah ini," lanjutnya.
Dan aku hanya diam menikmati gelenyar lembut yang merambati seluruh nadiku saat bibir Malven menyentuh bibirku. Merasa kalau aku tak menolak maka Malven menambahkan tekanan dan menjelajahi setiap sudutnya dengan kecupan-kecupan kecil, sebelum akhirnya lidahnya membuka bibirku perlahan dan melumatnya dengan sangat lembut, tanpa paksaan. Dan akhirnya aku menyerah, kupejamkan mataku, mereguk semua perasaan yang dia berikan melalui sentuhan bibirnya. Kucengkeram kaos polonya saat pria itu menahan tengkukku dengan tangannya dan memperdalam ciumannya. Aku luluh, tubuhku seperti tak bertenaga saat satu tangannya memeluk pinggangku semakin erat, meniadakan jarak di antara tubuh kami.
Ini bukan ciuman pertamaku, tapi ini untuk pertama kalinya aku merasa begitu utuh dan hidup setelah luka panjang yang kualami.
Mataku masih terpejam saat dia memisahkan bibir kami lalu menempelkan keningnya di keningku, "Maaf... apa kamu marah?" tanyanya dengan nafas memburu.
Aku tak bisa menjawab. Wajahku terasa begitu panas, begitu pula dengan tubuhku. Kugigit bibirku untuk meredakan laju jantung yang kali ini berdebar dengan luar biasa. Dan mataku akhirnya terbuka saat jari Malven menyentuh bibirku dan melepaskannya dari gigitan gigiku, "Jangan..." bisiknya, lalu bibirnya kembali menciumku dengan penuh kelembutan. Kali ini kubalas ciumannya, kubiarkan pria itu memanduku, dan dia menggeram saat kulingkarkan lenganku di lehernya. Aku sedikit gelagapan saat Malven memperdalam ciuman kami dan tanpa sadar aku mengerang.
Malven segera menghentikan ciumannya dan kembali memisahkan bibir kami, "Sakit?" tanyanya dengan cemas.
Aku hanya menunduk dan menggeleng sembari mengatur hela nafasku yang tadi begitu memburu oleh gairah yang telah lama mati.
Pria itu kemudian memeluk pinggangku dengan erat lalu menyurukkan wajahnya di lekuk leherku, "Aku ga akan nyakitin kamu, Vall," janjinya.
Aku tak berkata apa-apa, kujawab janjinya dengan memeluk bahunya yang kekar. Akhirnya aku tahu bagaimana tekstur rambut coklat itu saat helai-helainya menyelip di jemariku.
"Kita pulang sekarang?" ajaknya setelah melepas pelukan kami. Jarinya mengusap pipiku yang memerah lalu menyampirkan helaian rambutku yang terlepas dari ikatannya ke belakang telinga.
Aku tersenyum padanya lalu mengangguk. Malven pun merangkul bahuku dan mengajakku berjalan menuju mobilnya.
"Kalau dilihat dari tahun berdirinya sepertinya desa ini cukup banyak juga ya penduduknya?" tanyaku sambil mengamati sekeliling kami.
"Kurang lebih 70 kepala keluarga," jawab pria itu.
Setelahnya kami berkeliling dari satu puing ke puing yang lain, tempat yang begitu kuno namun memiliki kesan yang kuat. "Aku ga bisa bayangin gimana panasnya dulu di sini, tempat yang begitu gersang. Padahal kan dulu pasti belum ada AC ya, Ven? Jangankan AC, listrik aja kita ga tahu udah ada atau belum," kataku sambil membayangkan dan menyentuh dinding-dinding batu reruntuhan yang kasar itu.
Malven hanya terkekeh sambil terus mengajakku jalan perlahan-lahan.
"Tapi aku seperti bisa lihat gimana kehidupan mereka dulu saat malam, ga berisik dan mengandalkan angin sebagai penyejuk. Belum lagi lampu-lampu minyak yang digantung sebagai penerang, pasti romantis banget," ocehku. "Berkendara kereta kuda dan berlarian di padang rumput, huwaaaa... kamu ingat film Little house on the prairie, ga? Film yang menceritakan tentang sebuah keluarga petani yang hidup di bukit sebuah desa," ceritaku penuh semangat.
Dan aku terkesiap saat Malven menarik lenganku dan menyandarkan tubuhku di dinding batu sebuah puing rumah, satu lengannya disandarkan di dinding dan lengan lainnya memeluk pinggangku, menempelkan tubuh kami hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya, "Ven..." bisikku tercekat, dadaku bergemuruh saat wajahnya semakin mendekat.
"Kamu tahu apa yang akan selalu aku ingat mulai saat ini?" tanyanya dengan suara bergetar, tatapan matanya yang tajam seperti menelanjangiku, "Senyum dan tawa bahagiamu, Vall... juga mata kamu yang berbinar begitu indah ini," lanjutnya.
Dan aku hanya diam menikmati gelenyar lembut yang merambati seluruh nadiku saat bibir Malven menyentuh bibirku. Merasa kalau aku tak menolak maka Malven menambahkan tekanan dan menjelajahi setiap sudutnya dengan kecupan-kecupan kecil, sebelum akhirnya lidahnya membuka bibirku perlahan dan melumatnya dengan sangat lembut, tanpa paksaan. Dan akhirnya aku menyerah, kupejamkan mataku, mereguk semua perasaan yang dia berikan melalui sentuhan bibirnya. Kucengkeram kaos polonya saat pria itu menahan tengkukku dengan tangannya dan memperdalam ciumannya. Aku luluh, tubuhku seperti tak bertenaga saat satu tangannya memeluk pinggangku semakin erat, meniadakan jarak di antara tubuh kami.
Ini bukan ciuman pertamaku, tapi ini untuk pertama kalinya aku merasa begitu utuh dan hidup setelah luka panjang yang kualami.
Mataku masih terpejam saat dia memisahkan bibir kami lalu menempelkan keningnya di keningku, "Maaf... apa kamu marah?" tanyanya dengan nafas memburu.
Aku tak bisa menjawab. Wajahku terasa begitu panas, begitu pula dengan tubuhku. Kugigit bibirku untuk meredakan laju jantung yang kali ini berdebar dengan luar biasa. Dan mataku akhirnya terbuka saat jari Malven menyentuh bibirku dan melepaskannya dari gigitan gigiku, "Jangan..." bisiknya, lalu bibirnya kembali menciumku dengan penuh kelembutan. Kali ini kubalas ciumannya, kubiarkan pria itu memanduku, dan dia menggeram saat kulingkarkan lenganku di lehernya. Aku sedikit gelagapan saat Malven memperdalam ciuman kami dan tanpa sadar aku mengerang.
Malven segera menghentikan ciumannya dan kembali memisahkan bibir kami, "Sakit?" tanyanya dengan cemas.
Aku hanya menunduk dan menggeleng sembari mengatur hela nafasku yang tadi begitu memburu oleh gairah yang telah lama mati.
Pria itu kemudian memeluk pinggangku dengan erat lalu menyurukkan wajahnya di lekuk leherku, "Aku ga akan nyakitin kamu, Vall," janjinya.
Aku tak berkata apa-apa, kujawab janjinya dengan memeluk bahunya yang kekar. Akhirnya aku tahu bagaimana tekstur rambut coklat itu saat helai-helainya menyelip di jemariku.
"Kita pulang sekarang?" ajaknya setelah melepas pelukan kami. Jarinya mengusap pipiku yang memerah lalu menyampirkan helaian rambutku yang terlepas dari ikatannya ke belakang telinga.
Aku tersenyum padanya lalu mengangguk. Malven pun merangkul bahuku dan mengajakku berjalan menuju mobilnya.
•
●
•
KREETT!!!
Aku terkejut saat mendengar pintu kamarku terbuka, kupicingkan mata untuk melihat siapa yang masuk, "Ven..?" panggilku dengan suara serak karena baru bangun.
"Sorry... kamu kebangun, ya?" katanya lalu duduk di pinggir tempat tidurku. Penampilannya sudah rapi dan wangi, dan aku baru ingat kalau dia harus berangkat pagi untuk urusan pekerjaan.
"Kamu berangkat sekarang?" tanyaku sambil bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur, kurapikan rambutku dengan jari-jari tanganku, "Ga capek?" tanyaku lagi.
"Tidur 2 jam sudah cukup buat aku," jawabnya sambil meraih tanganku dan mengusapnya. "Kamu tidur lagi aja, nanti aku usahakan pulang ga terlalu malam."
Aku mengangguk setuju, karena memang rasanya badanku luar biasa lelah dan masih mengantuk, "Nanti mau makan malam apa?" tawarku.
Malven tampak berpikir sejenak, "Nasi gorengmu yang kemarin kamu buat belum sempat ku cicipi," jawabnya, dan kami sama-sama tertawa mengingat kejadian kemarin pagi. "Lanjutkan tidurmu, cantik... dream of me," katanya sambil berdiri dan mencium keningku beberapa saat sebelum akhirnya beranjak pergi dari kamarku.
Aku kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamar, dan aku hanya bisa menggigit bibir dan menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut saat mendengar deru mobil Malven menjauh lalu menghilang. Dadaku berdebar lembut, apa yang telah terjadi? Tanyaku dalam hati. Otakku kembali memutar memori saat kemarin kami berada di Kanyaka Ruins, hanya mimpikah? Aku tak mampu menolaknya lagi, tak bisa lari lagi. Kenapa dia menciumku? Dan kenapa dia berjanji untuk tak menyakitiku? Bagaimana perasaannya padaku? Cinta kah? Seribu pertanyaan terngiang di kepalaku.
Lalu bagaimana perasaanku sendiri? Apakah aku mencintainya? Apakah aku boleh percaya lagi pada seorang pria? Ataukah ini hanya karena terbawa perasaan saja?
'Nggak, Vall... kamu ga boleh gegabah. Jalani aja dulu, lihat dan perhatikan', kata suara yang muncul di kepalaku. Aku melenguh dan memukul-mukul keningku, "Iya... iya.. aku ga akan bodoh, aku akan hati-hati," jawabku pada diri sendiri.
"Sorry... kamu kebangun, ya?" katanya lalu duduk di pinggir tempat tidurku. Penampilannya sudah rapi dan wangi, dan aku baru ingat kalau dia harus berangkat pagi untuk urusan pekerjaan.
"Kamu berangkat sekarang?" tanyaku sambil bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur, kurapikan rambutku dengan jari-jari tanganku, "Ga capek?" tanyaku lagi.
"Tidur 2 jam sudah cukup buat aku," jawabnya sambil meraih tanganku dan mengusapnya. "Kamu tidur lagi aja, nanti aku usahakan pulang ga terlalu malam."
Aku mengangguk setuju, karena memang rasanya badanku luar biasa lelah dan masih mengantuk, "Nanti mau makan malam apa?" tawarku.
Malven tampak berpikir sejenak, "Nasi gorengmu yang kemarin kamu buat belum sempat ku cicipi," jawabnya, dan kami sama-sama tertawa mengingat kejadian kemarin pagi. "Lanjutkan tidurmu, cantik... dream of me," katanya sambil berdiri dan mencium keningku beberapa saat sebelum akhirnya beranjak pergi dari kamarku.
Aku kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamar, dan aku hanya bisa menggigit bibir dan menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut saat mendengar deru mobil Malven menjauh lalu menghilang. Dadaku berdebar lembut, apa yang telah terjadi? Tanyaku dalam hati. Otakku kembali memutar memori saat kemarin kami berada di Kanyaka Ruins, hanya mimpikah? Aku tak mampu menolaknya lagi, tak bisa lari lagi. Kenapa dia menciumku? Dan kenapa dia berjanji untuk tak menyakitiku? Bagaimana perasaannya padaku? Cinta kah? Seribu pertanyaan terngiang di kepalaku.
Lalu bagaimana perasaanku sendiri? Apakah aku mencintainya? Apakah aku boleh percaya lagi pada seorang pria? Ataukah ini hanya karena terbawa perasaan saja?
'Nggak, Vall... kamu ga boleh gegabah. Jalani aja dulu, lihat dan perhatikan', kata suara yang muncul di kepalaku. Aku melenguh dan memukul-mukul keningku, "Iya... iya.. aku ga akan bodoh, aku akan hati-hati," jawabku pada diri sendiri.
•
I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you
Sharing in everything you do
I wanna grow old with you
A thousand miles between us now
It causes me to wonder how
Our love tonight remains so strong
It makes our risk right all along
Alunan lagu I Wanna Grow Old With You milik Westlife mengalun merdu mengiringi aktifitas memasakku di dapur. Dengan pelan kuikuti syairnya yang memang sudah aku hapal di luar kepala, lagu yang sangat romantis, sangat pas didengarkan ketika hujan deras turun di luar sana. Aku menatap keluar dari jendela kaca, biasanya terlihat semburat jingga saat senja, tapi senja kali ini begitu gelap. Pikiranku berkelana pada kejadian beberapa hari yang kuhabiskan bersama Malven ini, begitu banyak yang kudapatkan darinya, semua yang indah, semua yang cantik. Aku tersenyum sendiri membayangkan bunga lily dan sunset, lalu romantisme di antara reruntuhan kuno.
Aku tersentak saat kurasakan sebuah lengan memeluk pinggangku dari belakang, "Jangan buat nasi gorengku gosong lagi, please..."
Aku tertawa kecil saat mendengar bisikan Malven di telingaku, kugigit bibirku agar debar jantungku tak terdengar hingga keluar. Kuputar tubuhku dan menghadapnya, kulihat rambut coklatnya basah karena hujan tapi bajunya tidak, mungkin karena dia tadi mengenakan jaket, pikirku saat kulihat sebuah jaket hitam tersampir di kursi makan, "Mandi dulu sana," kataku sambil mengusap rambutnya dan mengibaskan air yang menempel di helainya.
Tapi Malven hanya menatapku dengan lembut, lalu dia mengarahkan kedua lenganku agar melingkar di bahunya, setelah itu dia memeluk pinggangku dan mengajakku berdansa pelan mengikuti alunan lagu Shane Filan - This I Promise You yang kini terdengar dari ruang tengah, "And I will take you in my arms, and hold you right where you belong, 'till the day my life is through, this I promise you... this I promise you," bisiknya mengikuti alunan syair dengan tatapan mata yang lurus menatapku.
Tubuhku terasa begitu lemas dan luluh oleh kata-kata yang terlantun dari bibirnya, ini seperti pernyataan cinta, haruskah aku menganggapnya begitu? Apakah aku hanya terlalu besar kepala?
Malven mengeratkan pelukannya lalu menempelkan keningnya pada keningku dengan masih bersenandung, "This I promise you..." tutupnya sambil mengecup ujung hidungku lalu mencium bibirku dengan begitu lembutnya. Kucengkeram bahunya saat ciuman itu semakin dalam. Aku hanyut dalam kelembutannya dan sedikit kecewa saat dia memisahkan bibir kami.
Kutatap matanya yang kini tampak begitu teduh, "Kali ini benar-benar salahmu kalau nasi gorengnya sampai gosong lagi," kataku dengan suara serak.
Malven tertawa pelan lalu memelukku dengan erat, mengayunku dalam dekapannya, "Baiklah, nona... lanjutkan masaknya, aku mandi dulu, ya?" katanya sambil menepuk-nepuk kepalaku lalu meninggalkanku ke kamarnya.
•
"Mau ini?" tanyanya sambil mengangkat sebuah botol anggur saat kami sudah selesai makan malam dan menikmati hangatnya perapian di ruang tengah. Sementara di luar hujan masih turun, hanya saja tak sederas sore tadi.
"Anggur lagi?" tanyaku saat dia berjalan mendekatiku dari kamarnya untuk mengambil botol anggur itu. Dua gelas piala terapit di antara dua jarinya yang tak memegang botol.
"Apa lagi? Di sini surganya anggur, kan?" katanya sambil duduk di sampingku, di atas karpet bulu tebal sambil bersandar pada sofa. "Tapi ini Shiraz," katanya lagi.
"Shiraz?" tanyaku lagi yang memang tak begitu paham jenis-jenis anggur.
Malven mengangguk, "Sama seperti Grenache dan Cabernet, Shiraz ini adalah anggur merah yang paling sering dicari," jawabnya.
Aku mengangguk mengerti sambil membulatkan bibirku.
"Kamu sedikit aja, ya? Sekedar tahu aja gimana rasanya, karena anggur merah ini lebih keras daripada anggur putih yang biasa kita minum kemarin," katanya sambil menyodorkan gelas yang sudah diisi sedikit, tak sampai setengah.
Kuperhatikan warnanya yang merah dan cantik itu, semakin berkilau oleh pantulan cahaya api di perapian yang menyala. Kucium aromanya yang unik tapi segar.
Malven mendekatkan gelasnya yang juga telah terisi padaku, dan aku mengerti kodenya. Kupegang pada tangkai gelas agar suhu tubuhku tak mempengaruhi rasa anggurnya, lalu kutempelkan bibir-bibir gelas kami hingga berdenting pelan. Lalu pelan-pelan kusesap isinya, hanya seteguk dulu untuk menikmati rasanya yang cukup aneh di lidahku.
"Gimana?" tanya Malven sambil mengusap lembut rambutku yang tergerai hingga punggung.
Aku memperhatikan cairan merah pekat itu, "Unik. Ada asamnya, manisnya, juga sedikit pahit. Tapi ga terlalu tajam juga," jawabku. Lalu aku meneguk lagi isinya yang efek hangatnya mulai menjalari tenggorokan hingga dada.
"Sudah.. cukup," kata Malven sambil meraih gelasku dan meletakkannya di meja, "Kalau terlalu banyak nanti kamu pusing, Vall," jelasnya menjawab tatapan protesku. Lalu dia menghabiskan sisa anggur di gelasnya sendiri, setelah itu meletakkannya di meja, di samping gelasku tadi.
"Sini..." katanya sambil menarik bahuku lembut dan membimbing kepalaku untuk bersandar di bahunya. Terasa begitu hangat dan nyaman. Degup jantungnya kini telah menjadi musik favoritku.
"Besok kita jalan lagi, ya?" ajaknya sambil membelai rambutku.
"Kamu ga kerja?" tanyaku tanpa menatapnya.
"Urusan kerjaanku sudah selesai," jawabnya sambil memainkan jariku dengan tangannya yang lain.
"Emang urusan kerja apa sih, Ven? Sampe kamu jauh-jauh ke Barossa Valley?" tanyaku lagi ingin tahu.
Malven diam sebentar, "Aku membeli satu kilang anggur di sini," katanya.
Aku mendongak menatapnya, "Kilang anggur? Sama perkebunannya?"
Pria itu mengangguk, "Aku suka daerah ini, aku sudah cerita, kan?" Akupun balas mengangguk. "Sejak beberapa tahun lalu aku tertarik untuk membeli salah satu lahan perkebunan di sini. Entah kenapa aku sudah membayangkan kalau di tempat inilah nantinya aku akan menghabiskan masa tuaku," ceritanya.
Aku tersenyum, dadaku berdebar halus karena akupun sempat membayangkan menghabiskan masa tua di tempat yang begitu damai ini.
"Dan beberapa bulan lalu ada teman yang memberiku kabar kalau ada satu lahan yang akan dijual karena pemiliknya sudah meninggal, sementara adiknya, si nenek tua itu, tak mau mengurusnya karena dia buta masalah pertanian. Tapi dia juga mengajukan banyak syarat untuk melepaskan perkebunan kakaknya. Salah satunya dia tak ingin perkebunan ini nantinya dijual lagi sebelum si pembeli meninggal," lanjutnya.
"Kamu setuju?" tanyaku sambil menatap bibirnya dan lehernya yang berkedut karena berbicara.
Malven mendengus pelan, "Tentu aja setuju, kupikir itu masalah mudah, karena pada dasarnya aku memang mencintai wilayah ini," jawabnya. Lalu pria itu menunduk dan menatap mataku, "Aku ingin tinggal di sini saat aku... menikah nanti."
Jantungku berdebar kencang saat mata itu menatapku dengan penuh kelembutan. Ada kulihat binar indah yang tak bisa kubaca artinya, "Menikah?" tanyaku dengan nada tercekat. Tak kurasakan cemburu atau sakit hati, karena tatapan matanya seolah berbicara kalau akulah yang akan dinikahinya, 'Oh, stupid!!!', teriakku dalam hati.
"Ya, Vall... menikah," bisiknya. Wajahnya perlahan mendekat lalu bibirnya memagut bibirku sebelum aku sempat mempersiapkan hatiku. Bibirnya bergerak dengan dalam dan kuat, tapi tidak memaksakan. Ditariknya lembut bibir bawahku dengan giginya lalu lidahnya membawaku terbang seketika itu juga.
Aku mengerang, gairah dengan cepat menggulung akal sehatku, kulingkarkan lenganku di bahunya. Entah bagaimana bisa saat ini aku sudah duduk di pangkuannya, menghadapnya, menunduk dan membalas ciumannya dengan sama dalamnya. Ada rasa takut yang tak biasa, rasa takut akan kehilangan, takut tak lagi bisa merasakan kehangatan yang diberikan pria ini.
Malven terus mencium bibirku, memagutnya seakan tak pernah puas hingga nafasku tersengal dan memaksa melepaskan bibir kami agar bisa menghirup oksigen.
Tapi Malven terus menciumi wajahku, pipiku, dagu, dan semuanya. Kepalaku mendongak menatap atap kayu, napasku tercekat saat bibir Malven sudah berada di leherku yang cukup jenjang. Jejak panas yang ditinggalkan bibirnya membuatku mabuk dan melambung tinggi, tanganku meremas rambut belakangnya, antara menahan hasrat dan memintanya tak menjauh.
Dan pandanganku semakin kabur saat ciuman Malven sudah turun ke tulang selangkaku, sementara tangannya mengusap kulit punggungku yang telanjang dari balik baju tebalku. Aku memekik pelan menyebut namanya saat bibirnya menghisap kuat di sana, hasratku nyaris tak mampu kubendung lagi.
Malven menatapku tajam, matanya juga penuh dengan gairah, "Tell me, baby... yes or no?" tanyanya di antara deru nafasnya.
Aku ingin berteriak ya, tapi otakku masih menyisakan sedikit kesadaran, "No..." jawabku lirih sambil mengusap tengkuknya. Ada perasaan bersalah, aku takut dia kecewa, tapi perasaan itu langsung hilang begitu pria itu tersenyum padaku. Jarinya mengusap pipiku yang memerah lalu merapikan bajuku yang telah tersingkap. Dipeluknya tubuhku yang masih berada di pangkuannya dengan erat, "Sorry..." ucapku sambil membalas pelukannya.
"Sssh... it's okay, aku tak akan memaksamu, sayang. Aku tak akan menyakitimu," jawabnya sambil mengusap-usap punggungku.
Aku menjauhkan tubuh kami dan menatap matanya, "Kamu ga marah?" tanyaku sungguh-sungguh.
Pria itu tertawa pelan dan menggeleng, "Bukan aku yang marah, tapi kurasa aku akan bisa menjinakkannya nanti," jawabnya sambil mengerling dan melirik ke arah bawah.
Wajahku memerah saat tahu maksudnya, segera kupukul dadanya dan beranjak dari pangkuannya, "Pervert," desisku sambil kembali duduk di sampingnya.
Malven merangkul bahuku dan kubalas dengan memeluk pinggangnya, menyamankan tubuhku dalam dekapannya.
"Besok hari terakhir kita di sini," katanya.
Aku mendongak, "Bukankah masih ada sisa 3 hari ke depan?" tanyaku dengan sedikit kecewa. Aku telanjur betah di sini, aku sudah jatuh cinta dengan semua hal yang ada di sini.
Malven mengusap punggungku, "Lusa kita akan ke Sydney untuk menemui Kenzo dan Anita," jawabnya.
Entah kenapa kali ini ada rasa takut di dadaku. Bagaimana perasaannya pada Anita kini? Mungkinkah sudah tak ada cinta pada ibu dari anaknya? Kurasa itu hal yang mustahil. Cemburu kah aku? Aku segera memejamkan mata dan berusaha membuang semua pikiran burukku. Bukankah aku tak memiliki ikatan apapun dengan Malven? Oh good... sepertinya aku telah menyakiti diriku sendiri dengan pemikiranku.
"Kuharap kepala cantikmu ini nggak berpikir yang bukan-bukan," kata pria itu sambil mengetuk pelan kepalaku seakan bisa membaca isinya.
"Apa sih?" gerutuku yang disambut kekehannya.
"Tidurlah, ini sudah cukup larut. Besok aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang cukup terkenal," janjinya.
Aku mengangguk dan beranjak ke kamarku setelah pria itu memberikan kecupan yang cukup panjang di keningku dan mengucapkan selamat malam.
BERSAMBUNG
Note :
Yak... kita masih mabuk yang manis-manis gegara wine nih. Tapi ga janji ya klo chapter depan bakal semanis ini ^_^








Diabetes deh ini.... berarti besok giliran insulin ya mba via
BalasHapusUghhhhh..... happy ending pokoknya!!
iya... konfliknya mulai chapter depan kok. Senin deh aku posting mbak :*
Hapus